Bermegah-megah Di Antara Gunung yang Terbelah


Dua kota suci yang berkembang pesat menjadi jantung kawasan bisnis dan komersil yang riuh.

Kaos lengan panjang dengan logo Harley-Davidson di bagian depan, dipadu celana jeans biru belel, dan sneaker tanpa kaos kaki, serta tentu saja sunglasses Ray-Ban aviator kecoklatan. Begitulah penampilan Iwan Yuliawan Endang Suryana ketika berjalan-jalan di sekitar Mekah dan Madinah. Pengusaha dan penghobi off-road asal Tasikmalaya itu berangkat umrah bersama istri dan sanak keluarganya.

Rata-rata penampilan rombongan kecil itu trendi dan kasual ketika sibuk ‘lempar Riyal’ – istilah plesetan lempar jumrah, di deretan toko-toko kawasan Madinah dan Mekah, dua kota suci umat Islam itu. Penampilan kasual Kang Aboy, begitu dia disapa, menjadi pemandangan yang kian populer di dua kota suci tersebut. Biasanya, selepas menunaikan ibadah umrah, mereka pun berganti pakaian dengan yang lebih santai untuk berjalan-jalan. Bukan baju santai ala muslim Indonesia: setelan kerah leher Cina dan celana katun, tapi ya itu: kaos dan jeans.

P_20160305_193146

Jeans, kemeja, kaos lengan panjang, yang digunakan sejumlah peziarah di masjid Nabawi, Madinah.

Jeans, kemeja, kaos lengan panjang, yang digunakan sejumlah peziarah di masjid Nabawi, Madinah.

Bahkan setelan ini kerap terlihat digunakan untuk beribadah di masjid Nabawi Madinah maupun untuk tawaf sunah di Masjidil Haram. “Selama beberapa kali umrah, penampilan saya memang begini. Lebih nyaman. Dan jemaah dari negara lain pun juga begitu. Selama masih sopan, saya kira tidak ada masalah,” ujar pengusaha yang beberapa kali melancong ke Australia, Dubai, Abu Dhabi, Singapura, dan Makau ini.

Jeans dan kaos model T, ataupun polo shirt, menjadi pemandangan yang kian lazim di Tanah Suci. Memang, pakaian model gamis warna putih masih dominan di negeri padang pasir itu. Madinah dan Mekah memang kian populer sebagai kota tujuan wisata umat Islam dunia, selain tentu saja untuk ibadah haji atau umrah. Sudah lazim jika biro-biro perjalanan di Tanah Air mencantumkan kota-kota tambahan seperti Turki, Dubai, Yerusalem, maupun Yordania, sebagai paket tambahan bagi jemaah usai umrah. Tentu dengan tambahan sekian ratus – ribu dolar untuk embel-embel tersebut. Namanya juga ibadah sekalian wisata.

Jeans, kemeja kotak-kotak, dan polo shirt di depan Kabah.

Jeans, kemeja kotak-kotak, dan polo shirt menjadi pemandangan umum di depan Kabah.

Itulah sebabnya, bisnis perjalanan umrah di Tanah Air terlihat meningkat pesat. Data dari Kementerian Haji Arab Saudi menunjukan pada 2015 jumlah jemaah umrah dari Indonesia lebih dari 635 ribu orang, pada 2016 ini diprediksi meningkat pesat menjadi 1,5 juta orang. Itulah sebabnya jemaah umrah Indonesia, pada 2015, menempati posisi tiga besar dunia setelah Mesir dan Pakistan. Disusul Turki, Iran, dan India.

Kerajaan Arab Saudi pun berencana meningkatkan visa umrah. Sebagai perbandingan, pada 2013, setiap tahun pemerintah Arab Saudi menerbitkan 5 juta visa umrah. Pada 2014 dan 2015, visa umrah yang diterbitkan mencapai 6 juta. Tahun ini, diperkirakan meningkat lagi menjadi lebih dari 10 juta visa umrah.

Hal itu karena jemaah umrah semakin membesar setiap tahun. Pada 2016, ini diprediksi, lebih dari 1,2 juta jemaah umrah akan datang setiap bulan dari seluruh penjuru dunia. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat dibanding 2015 yang berkisar 400 – 500 ribu jemaah umrah per bulan yang datang ke Arab Saudi.

Jemaah umrah asal Indonesia pun juga meningkat. Yang salah satu penyebabnya yaitu masa tunggu haji yang terhitung lama. Data Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah menyebutkan, pada 2015, setiap bulan sekitar 52 ribu jemaah umrah asal indonesia datang ke Tanah Suci. Sementara perkiraan Kementerian haji Arab Saudi memperkirakan 1,5 juta jemaah umrah Indonesia sepanjang 2016. Devisa yang akan diraup Kerajaan Arab Saudi pun dipastikan meningkat tajam.

Oleh sebab itulah, kini di Arab Saudi, pembangunan infrastruktur, terutama hotel, demikian masif di sejumlah sudut kota. Yang paling mencolok yaitu hotel Fairmont Makkah Clock Royal Tower yang hanya berjarak puluhan meter dari pintu masuk Kabah. Jemaah umrah Indonesia menyebutnya dengan hotel jam, karena di bagian atasnya terdapat jam tampilan analog dengan ukuran besar.

Hotel yang berada di kawasan Abraj Al Bait, inilah yang kerap menjadi patokan jemaah agar tidak tersesat ketika keluar dari komplek Masjidil Haram. “Arab Saudi memang jauh lebih berkembang. Ini membuka pandangan masyarakat Arab mengenai lintas budaya dari luar,” ujar Fajar Adhi Nugroho Suratno, rekan seperjalanan, yang sempat menjadi project manager highway road pavement project Shaqra – Huraymla di Riyadh.

Sekitar 200 meter di samping belakang hotel Fairmont, beberapa bukit batu tampak sedang diratakan dengan alat-alat berat. Bongkahan-bongkahan tanah bercampur batu-batu bukit diangkut ke luar Mekah dengan truk-truk besar. Tak hanya di sekiar Kabah, pemandangan bukit-bukit batu yang diratakan dengan tanah yang akan dijadikan pemukiman atau kawasan komersil pun bertebaran di seluruh penjuru Arab Saudi.

P_20160310_061733

Deretan toko yang menjual aneka menu siap saji. Berada di dekat masjidil Haram yang berlokasi disepanjang jalan Ibrahim Al Khalil, Mekah.

Kerajaan yang diproklamasikan oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Sa’ud, raja pertama, pada 23 September 1932, itu, dari tahun ke tahun memang berusaha keras menaikkan standar pelayanan dan kemudahan bagi para peziarah haji dan umrah. Namun, karena progresnya yang demikian masif dan cepat, terlihat seperti tak teratur dalam pelaksanaannya.

Awal Maret silam, area sekitar Kabah yang diperluas, masih penuh dengan papan-papan penyekat proyek renovasi. Salah satu jalur yang menuju tempat sa’i, malah masih nampak papan bertuliskan Bin Laden, kontraktor besar yang menggarap perluasan masjidil Haram. Perusahaan milik keluarga Bin Laden, tersebut, oleh Raja Salman bin Abdul Aziz, dibekukan kontraknya menyusul tragedi jatuhnya crane di Mekah pada September 2015 lalu.

3rd Ring Road ke arah masjid Al Taniem.

3rd Ring Road ke arah masjid Al Taniem.

Keputusan kerajaan itu, pasti berimbas ke para pekerja penggarap. Termasuk pekerja asal Indonesia. Ada yang baru bekerja 3-4 bulan namun terancam pulang kampung. Sambil menunggu perkembangan dan kepulangan ke daerah asal, sebagian kecil diantaranya, dengan koneksi terbatas, menjadi tenaga lepas di beberapa biro perjalanan sebagai tukang cuci piring, dan perlengkapan katering para jemaah umrah asal Indonesia. “Lumayan, dapat sedikit uang dan makanan gratis,” ucap salah satu bekas pekerja konstruksi asal Jawa Barat.

Mekah dan Madinah, memang kian menjadi magnet kaum pendatang dari penjuru dunia. Dua kota suci itu, tak semata sebagai tujuan religi, tapi sudah menjadi kawasan komersil yang kian kompleks. Sangat banyak fasilitas layaknya kota megapolitan yang terdapat di Mekah dan Madinah, serta kota-kota disekitarnya. Diantaranya super store Bin Dawood yang berada persis di samping komplek Kabah, Mall of Arabia, Andalus mall, Corniche di Balad (surganya belanja barang murah bagi para jemaah umrah asal Indonesia), Rubaiyat (khusus fashion branded), maupun Hyper Panda, untuk kebutuhan buku-buku dan aneka gawai.

Pembangunan dan perkembangan dua kota suci itu, pada satu sisi juga mengorbankan aspek kesejarahan kota para nabi itu. Muhamad Haris Nashan, yang pernah lama menetap di Mekah sejak 1984 hingga 1997, menyayangkan sejumlah situs bersejarah yang diabaikan pemerintah Arab Saudi. “Diantaranya Masjid Abu Bakar yang berlokasi di Misfalah, yang tak diperhatikan,” ujar lulusan majelis taklim Al Sayyid Muhammad bin Alami al maliki dan Dar Al Hadits al Khoiriyyah di Mekah ini.

 

Es krim rasa buah yang terdapat di pertokoan di sekitar jalan Ibrahim Al Khalil, Mekah.

Es krim rasa buah yang terdapat di pertokoan di sekitar Kabah.

Beberapa situs lain yang perlu dirawat, antar lain, bekas rumah Khodijah, istri rasulullah yang berada di dekat lokasi sa’i, dan Bi’ru Thuwa, sumur tempat rasul mandi ketika akan memasuki Mekah yang berada di Jarwal. “Dari sisi fasilitas untuk jemaah umrah dan haji, Mekah saat ini, memang sangat lengkap. Walau begitu, sebaiknya tidak mengabaikan faktor sejarah dan kewibawan Kabah,” kata pengajar yang kerap menjadi pemandu haji dan umrah ini.

Ketika iseng jalan kaki di belakang hotel Dar El Eiman Grand yang berada di Ibrahim Al Khalil Street, Mekah, terdapat deretan ruko yang menjajakan aneka oleh-oleh: dari tasbih, kurma, baju gamis, cokelat, minyak wangi, hingga gantungan kunci. Rata-rata, orang Arab penjualnya, dapat berbahasa Indonesia relatif lancar. Ketika tahu yang bakal belanja orang Indonesia, para penjual itu akan nyerocos gobyos soal dagangannya, dengan bahasa Indonesia, yang terhitung lancar, tapi wagu itu🙂

Pasar tumpah di lorong jalan depan Movenpick Hotel Al Anwar, Madinah.

Pasar tumpah di lorong jalan depan Movenpick Hotel Al Anwar, Madinah.

Jika tak berhasil merayu untuk membeli, para pedagang itu, akan menanyakan ke para calon pembeli pria asal Indonesia: punya istri berapa? Ketika dijawab ‘satu’, mereka pun akan terkekeh-kekeh dan dengan ‘sombongnya’ bercerita,”Istri saya empat, dua Arab, satu India, dan satu lagi orang Indonesia asal Jawa Timur. Saya belajar bahasa Indonesia dari dia.”

Dan anehnya, pertanyaan dan kisah empat istri, itu, tak hanya di satu ruko saja. Dua-tiga ruko di sekitarnya, juga menggelar tanya dan cerita yang serupa. Hemm…. Di Indonesia, persoalan poligami tak hanya memanaskan kamar-kamar rumah tangga semata, namun juga para pembela hak-hak wanita. Maklum, beda ladang lain tradisinya. Panas dan pening kepala mendengar celoteh para pedagang Arab konyol, tersebut, mendingan nyari es krim rasa buah yang konon populer di kawasan pertokoan di bawah hotel Makkah Hilton Towers, masih di seputaran jalan Ibrahim Al Khalil.

Dua ratus enam belas jam berikutnya, bus bermerek Higer (logonya sepintas mirip Hyundai), yang kata si sopir asal Tegal, buatan Cina, melaju menuju Jedah. Di jalanan tol yang panas dan berdebut itu, bus berpapasan dan beriringan dengan mobil-mobil berkubikasi besar semacam Chevrolet Suburban, Jeep, GM, Mercedes-Benz dan sejenisnya – merek-merek kendaraan yang populer di kota-kota Kerajaan Saudi Arabia.

Dua kota suci itu, nampaknya telah berevolusi menjadi kota komersil dan bisnis yang gemerlap. Pertunjukan megah di antara gunung-gunung batu yang dibelah mesin-mesin raksasa dari negeri-negeri ‘kafir’ bagian barat dan timur.

2 responses to “Bermegah-megah Di Antara Gunung yang Terbelah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s