Orang Tua yang Mewariskan Bom Waktu untuk Anaknya


Apakah dia sedang melakukan iman-laundry?

Gambar: Dokumen Theepochtimes.com

Sungguh, sepanjang siang hingga malam itu, menjadi hari yang kikuk antara aku dan tuhanku.

Aku, manusia tak tahu diri ini, yang angkuh setengah mati, benar-benar tak rela kau imami.

Biarpun dengan lantunan ayat suci semerdu buluh sembilu yang keluar dari mulutmu: ustad.

Ya, orang-orang menyebutmu demikian. Bisa jadi karena baju dan tampilan yang kau sandang. Mungkin juga, karena suara merdumu yang kondang seantero kampung.

Dan, siang hingga malam merembang itu, aku tak ikhlas berdiri di baris belakangmu.

***

Minggu siang, empat puluh lima menit menjelang bilal di masjid kampung saya melafalkan adzan. Saya pun siap-siap mandi siang. Kebiasaan kalau libur akhir pekan hehehe..

Di teras depan, anak-anak usia sekolah dasar sedang bermain slime – sejenis bahan lentur buatan sendiri yang populer di internet, dan ketawa-ketiwi khas anak-anak. Di dalam kamar anak perempuan saya, juga ada 1-2 teman perempuan sebayanya yang sedang bermain dan meracik slime.

Dari balik pintu depan yang tertutup separuh, saya melihat bayangan orang dewasa yang mendekati teras. Tamu, pikir saya, sembari masih mengecek notifikasi Whatsapp di ponsel.

Tiba-tiba, terjadi kegaduhan di teras depan. Suara bapak-ibu yang mencari nama seorang anak, sebut saja Bunga, yang kebetulan berada di kamar anak saya.

Bapak itu, sebut saja namanya Abu Jamin, terkenal di kampung saya sebagai imam salat bersuara merdu. Mungkin oleh sebab itu, warga sering menyebut dan memanggilnya ‘pak ustad’.

Namun, siang itu, nada suaranya seperti seorang polisi mencari penjahat. Tak sopan untuk seseorang yang bertamu di rumah orang lain.

Untuk sementara, saya tak bereaksi. Menunggu perkembangan. Sambil duduk-duduk manis di bangku dalam, membalas beberapa group Whatsapp.

Bunga pun keluar dan beranjak di teras. Di sinilah kegaduhan semakin memuncak. Di teras rumah saya, bapak-ibu itu, plus anak perempuannya, sebut saja B,  yang berdiri di belakang orang tuanya sambil menangis kecil, memarahi A dengan suara keras yang cenderung negatif dan menyudutkan si A.

Meski tak ada makian dalam kata-katanya, jelas saya merasa terganggu: masuk ke rumah orang tanpa salam dan membuat keributan di teras rumah.

Sambil tetap berusaha tenang, saya beranjak dari kursi dan menuju teras depan yang hanya berjarak 3 meter dari tempat saya duduk.

“Ada apa pak?,” tanya saya.

“Ini, anak saya B, mengadu ke saya kalo dia tidak boleh main bareng A dan kawan-kawannya. Kenapa anak-anak di kampung sini pada jahat ya sama anak saya? Anak saya sering bilang begitu lho pak!,” kata si bapak.

Bla..blaa..blaa……..

Beberapa menit saya masih menahan diri, sambil melirik si A yang sedang dimarah-marahi …. di rumah saya pula Hmmm.

Karena si bapak itu terus nyerocos dan saya semakin terganggu dengan sikapnya itu, saya pun berucap,”Pak..pak..maaf, jika bapak mau marah-marah sama anak orang, jangan di rumah saya. Silakan ajak si A ke rumah orang tuanya. Marahlah sepuasnya disana.”

Rupanya, ibu si B, tak terima saya berkata begitu. “Ayo nak, gak usah lagi main di sini. Pulang saja pak, cepetan,” gerutunya sambil menyeret anaknya pulang ke rumah yang hanya berjarak satu gang dengan rumah saya.

Si bapak, masih terus nyerocos dengan kisah-kisah; anaknya dijahati, anaknya sering dikucilkan, anaknya sering pulang menangis, dan semacamnya.

Saya pun bersikukuh, monggo kalau mau marah-marah karena anak orang, jangan di rumah saya. Si bapak pun pulang menyusul istrinya.

Tak berapa lama, saya mendapat laporan dari teman-teman anak saya yang ‘mengintip’ keributan itu. Tanpa diminta mereka pun mengeluarkan testimoni:

“Si B itu cengeng om. Suka mengadu yang gak bener sama orang tuanya.”

“Ibu si B itu suka marah-marah gak jelas ke teman-teman anaknya, karena soal kecil. Akhirnya pada males maen sama dia om.”

“Udah biasa itu om, ibu itu, kalau ribut suka melabrak tetangganya.”

Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Dan saya mendapat referensi penguat dari anak-anak itu soal ‘aktivitas’ marah-marah keluarga tersebut.

Sebelumnya, sejak tinggal di kampung ini, saya sudah mendengar selentingan soal kemarahan membabi buta dari keluarga itu, terutama si ibu. Namun, baru kali ini saya mengalaminya langsung. Fak!

Dan keriuhan itu tak berhenti selepas teras saya. Malamnya, ketika anak-anak itu bermain kembali ke rumah mereka bercerita, ibu si B mendatangi rumah orang tua si A sambil marah-marah.

Dan info soal ‘family stress’ itu pun sepertinya terkonfirmasi:mrgreen:

Saya membayangkan, dengan segala pembelaan, perlindungan, dan kemanjaan si orang tua terhadap B, tak ubahnya mereka mewariskan bom waktu ke anaknya.

Spoiled child, kalau kata orang enggres.

Gambar: Dokumen danielmitchell.wordpress.com

Gambar: Dokumen danielmitchell.wordpress.com

Seperti anak pejabat menteri yang mengorbankan OB kantornya itu, seperti anak mendiang pak mantan yang punya kerajaan itu, seperti anak ibu mantan yang menteri itu, seperti anak pak mantan yang tak suka menggulung lengan kemejanya itu, seperti anak-anak yang serupa itu….

Semoga tidak terjadi. Meledak di pangkuan sendiri.

***

Dhuhur di masjid, setelah keributan yang menjalar dan ngehe itu, pak ustad mengimami salat dengan lagu indahnya. Ashar, maghrib, isya, pun begitu. Seolah hari itu, imam salat hanya dia semata. Janggal. Sesuatu yang jarang terlihat selama ini.

Dan saya, sepanjang siang hingga malam menjelang, merutuk dalam hati, tak rela menjadi makmumnya. Maafkan saya ya Tuhan atas kebebalan ciptaanMu ini.

Apakah dia sedang melakukan iman-laundry di hari itu?

Entahlah.

 

6 responses to “Orang Tua yang Mewariskan Bom Waktu untuk Anaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s