Fatwa Grinder Seorang Mualaf Kopi


Saya insyaf. Dan turunlah hidayah dari yang kuasa untuk kembali membuka-buka kitab kopiniyah wal jamaah ustad Toni Wahid.

wp-1459362871867.jpeg

Seperti kaum mualaf, saya, pada tingkat tertentu, selalu diwarnai skeptisme. Terutama menyangkut soal kepercayaan dan ritual peribadatan. Dalam konteks ini, syarat syah dan rukun perkopian.

Toni Wahid, seorang wali seleblog ahlusunnah kopiniyah, mengeluarkan mantra penting bagi para mualaf kopi seperti saya yang berbunyi: grinder, grinder, dan grinder.

Fatwa ustad Toni, yang seorang warga NU itu, yang berbunyi: “Tanpa grinder, mesin puluhan juta sekalipun hanya bisa menghasilkan kopi seadanya.” saya anggap badai berlalu.

Tentu saja saya tidak percaya begitu saja, pun 50%. Walau saya sudah lama mengikuti pengajian daring di blognya. Pun begitu ketika teman-teman dari Ngopidikantor menyebarkan ideologi kiri baru kopi, di lingkungan kerja, lengkap dengan perabotan baracik mininya, termasuk grinder tentu saja.

Suasana #ngopidikantor pada sebuah petang di Palmerah.

Saya bergeming.

Toh, tak ada bedanya dengan kopi asli bubuk yang sudah digiling dan dijual di mal, kedai kopi, atau lapak daring lainnya. Dan untuk beberapa lama, sebagai seorang mualaf kopi, saya ‘ngeyel’ untuk menerima kopi bubuk yang diseduh dengan cara tubruk.

Namun, ketika negara api menyerang, atas ridha yang kuasa, kadar keimanan saya sepertinya bertambah. Mulailah menjajal metode seduh dengan vietnam drip, french press, dan moka pot. Gampang diduga, kopi bubuk itu sebagian besar gagal diseduh dengan alat-alat itu.

Lagi pula, lama kelamaan saya sadar, kesegaran kopi bubuk yang sudah dibungkus lama itu, berkurang drastis. Alhamdulillah, saya insyaf dan turunlah hidayah dari yang kuasa untuk kembali membuka-buka kitab kopiniyah wal jamaah ustad Toni Wahid.

Perburuan untuk memilih grinder pun dimulai.

Mahlkoenig VTS6 S seharga ER-6 seken 😦

Tentu saja, seorang mualaf seperti saya tak akan membeli grinder Mahlkonig VTZ 6SW yang seharga ER-6 seken itu, pun Latina grinder buatan Taiwan yang Rp 1,3 jutaan. Sebagai pemeluk awal saya harus tahu diri dan dekap dompet di hati 🙂

Seorang kawan, memberikan info ciamik, grinder Sayota. Harganya sungguh menggiurkan, kurang dari Rp 200 ribu. Namun, setelah saya perhatikan, kurang sreg di hati – mualaf mulai kemaki nih! Dan terkesan terlalu Tiongkok :mrgreen:

Menelusur situs e-commerce dan bersabar menunggu diskon, akhirnya pilihan jatuh ke grinder Princess, buatan negeri Tulip, yang diproduksi di negeri Tirai Bambu 😀

wp-1459362357412.jpeg

Grinder yang saat saya beli harganya 11-13 dengan Sayota ini menggunakan blade untuk menggiling – tepatnya mencacah kopi. Hasilnya bagi saya cukup memuaskan.

Bubuk kopi yang dihasilkan cukup untuk menyajikan kopi nikmat dan segar dengan metode tubruk, vietnam drip, french press, dan moka pot.

wp-1459362947571.jpeg

Kelebihan penggiling kopi model blade:

  • harga murah
  • ringan
  • bentuk kecil
  • memadai untuk menikmati kopi rumahan

wp-1459362482018.jpeg

Kelemahan tipe blade diantaranya:

  • hasil gilingan tidak merata, karena
  • tidak ada setelan kerapatan pisau seperti tipe flat burr atau conical burr.
  • bubuk kopi melekat di pinggiran wadah/tutup karena efek listrik statis (bisa diatasi dengan sikat kue)
  • untuk menghasilkan bubuk kopi yang halus/kasar tergantung timing putar. (di buku petunjuk disebutkan, maksimal untuk menggiling adalah 30 detik. Jika ingin bubuk kopi lebih kasar maka harus kurang dari 30 detik)

Jadi, itulah kisah pertobatan nasuha dari seorang mualaf kopiniyah wal jamaah. Semoga barokah. Amin. 🙂

Iklan

4 responses to “Fatwa Grinder Seorang Mualaf Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s