Maju-Mundur ‘Uang Tuyul’ di Bus APTB


Sepertinya masyarakat perlu ‘pemaksaan’ dari sisi infrastruktur agar mampu tertib, disiplin, dan beradab.

wpid-photo-1082.jpg

Seorang penumpang bus Transjakarta sedang menanti bus tujuan di halte busway.

PENGUMUMAN

Apabila Kondektur Menerima uang Cash
Pelapor Akan Mendapat Reward Rp.500 ribu
Laporkan No. Body/Polisi,
Waktu & Foto Kondektur
Sms Pengaduan: 081298323580 Manajemen PT. Mayasari Bakti

Tiap kali saya naik bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) jurusan Cileungsi – Blok M, dan melihat tulisan itu tertempel di kaca bagian dalam, rasanya kok ngenes betul.

Oiya, saya menyebut ‘duit tuyul’ untuk segala jenis transaksi cashless, e-money atau uang elektronik, dan sejenisnya dari bank penerbit. Itu karena duitnya tak kasat mata. Beda dengan uang kartal yang bisa diterawang dan diraba.

Ketika menambah atau mengurangi isi saldo juga tak nampak. Hanya angka-angka saja yang tertera di mesin pemindai atau struk kertas dan struk daring saat mencetak di ATM atau aplikasi di ponsel. Mirip tuyul ketangkap di dalam botol bukan?:mrgreen:

Atau suatu ketika, dalam konteks becanda, saya menyebut transaksi di Paypal dan sejenisnya dengan ‘duit yahudi’ walau Elon Musk, pendiri Paypal, SpaceX, dan Tesla Motor, itu, kelahiran Afrika Selatan berdarah KanadaπŸ™‚

Baik. Kembali ke bus APTB.

Kira-kira sejak setahun lalu manajemen bus menerapkan aturan pembayaran non-tunai kepada para penumpang bus warna biru tua itu. Kondektur pun dilengkapi dengan electronic data capture (EDC) yang praktis untuk mendebet ‘duit tuyul’ yang dibawa penumpang. Bus APTB ini hanya menggunakan satu jenis uang elektronik, yaitu Flazz BCA.

Kenapa hanya Flazz BCA? Lha ya embuh. Siapa tahu manajemen bus bekerjasama dengan Bank BCA untuk pengembangan perusahaan atau yang sejenisnya.

Pengumuman yang diabaikan.

Pengumuman yang diabaikan.

Nah, jauh sebelum aturan itu diterapkan, sekitar pertengahan 2015, manajemen bus sudah memberikan pemberitahuan kepada para penumpang melalui kertas yang juga ditempel di kaca-kaca bagian dalam. Isinya kurang lebih – “Mulai bulan xxxx (saya lupa bulan apa mulai diterapkan) pembayaran hanya dapat dilakukan dengan Flazz BCA.”

Sebelum pengumuman itu, di masa-masa awal bus APTB itu beroperasi, manajemen bus juga menempelkan informasi yang ringkasannya kira-kira seperti ini: “Penumpang cash membayar Rp 17 ribu, pengguna Flazz BCA Rp 15 ribu.”

Ngefek nggak saat itu? Sepertinya tidak. Masih banyak yang rela ‘menyedekahkan’ duit Rp 2 ribu saban hari daripada membeli kartu bayar elektronik terbitan Bank BCA itu:mrgreen:

Bagaimana kondisinya saat ini? Sepertinya aturan hanya sebatas tempelan semata.

Kemarin, saat saya naik bus APTB ini, masih banyak penumpang yang membayar cash Rp 15 ribu. Sebagian penumpang lainnya tertib, menggunakan ‘duit tuyul’.

Saya tidak tahu, apakah penumpangnya yang bandel, pura-pura tidak tahu (manajemen bus bahkan sampai menempel tulisan yang intinya seperti ini “Hanya Menggunakan Flzz BCA untuk Tiket” di badan luar bus), dan ngotot naik walau tak punya ‘duit tuyul’?

Atau malah awak bus yang malas meladeni kengototan penumpang yang bandel itu karena sudah terlanjur naik ke dalam bus?

Soal penumpang yang bandel dan ngotot ini, di masa-masa awal pemberlakuan uang elektronik di APTB, saya sering menemuinya. Dari yang beralasan nggak sempat beli kartu, saldo habis, kartu ketinggalan, dan lain-lain alasan. jika sudah begitu, maka kondektur bus yang memohon-mohon kepada penumpang yang menggunakan kartu Flazz untuk bersedia membayari penumpang bandel itu dan menggantinya dengan uang kartal si bandel.

Saya juga pernah menjadi korban penalangan berjamaah. Kebetulan saldo saya cukup banyak – karena selain untuk pembelin tiket bus APTB, ‘duit tuyul’ di dalamnya merupakan plafon saya membeli BBM di Shell selama satu bulan.

Waktu itu, kebetulan saya berada di bus yang semakin sesak saat saat jam pulang kantor. Kondektur kebingungan karena banyak penumpang yang tidak menggunakan kartu. Saya terpaksa menalangi 6 orang penumpang: 2 ABG perempuan, 2 tante-tante, 1 orang bapak-bapak, dan 1 orang karyawan pria. Walau diganti dengan uang cash dari penumpang tersebut, tetap saja menyebalkan.

Penumpang lain yang saldo kartunya mencukupi juga terpaksa menalangi penumpang lainnya. Yang saya heran, kondektur bus kok ya bisa ingat, siapa saja penumpang yang saldo Flazznya masih mumpuni didayagunakan hahahaha….

Kondisi terakhir ya seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini, penumpang bisa membayar cash atau elektronik. Yang ironisnya, melawan peraturan manajemen yang tertempel di kaca-kaca itu.

Jalur APTB yang terbuka di luar koridor Transjakarta memang menyulitkan pelaksanaan pembayaran secara cashless ini. Berbeda dengan jalur tertutup seperti Transjakarta atau kereta Commuter Line (CL). Moda angkutan massal penumpang komuter itu, saat ini, memang yang paling siap dan tertib infrastrukturnya dalam pembayaran tiket nir-tunai.

Sepertinya untuk bisa tertib, teratur, dan beradab, harus dimulai ‘pemaksaan’ berupa perbaikan infrastruktur dan sistem penunjangnya. Jika tidak ya seperti kondisi pembayaran tiket bus APTB itu: membuat bingung ‘duit tuyul’πŸ™‚

10 responses to “Maju-Mundur ‘Uang Tuyul’ di Bus APTB

  1. teringat cerita menyewa tuyul harian.
    setiap pagi antri nyewa tuyul, pulangnya antri lagi ngembaliin tuyul..

    *katanya sih timetropolitan

  2. kalo APTB kudu Flazz BCA to kartu tuyulnya mas? belum pernah naik APTB sih soalnya, punya kartu juga terbitan bank lain. ya nggak heran sih rada ribet penerapan duit tuyulnya, lha sebagian punya nya kartu tuyul bank lain. tentu saja karena memang sebagian lain mentalnya emang begitu.

    • Tiket APTB Mayasari Bakti Cileungsi – Blok M memang (wajib) pakai Flazz BCA. Walau kenyataan di lapangan ya seperti cerita saya di atas. Bus-bus dalam kota dari Mayasari Bakti sebagian besar bisa dibayar dengan Flazz juga. Kemungkinan karena perusahaan bekerjasama dengan BCA dalam hal pengembangan usaha atau sejenisnya.

      Memang agak ribet bagi pengguna tuyul bank lain. Tapi, jika kita pengguna harian, saya rasa memang harus membeli kartunya bukan?

      Memang ada biaya admin pembelian awal sebesar Rp 20 ribu yang diluar saldo awal. Tapi dengan disparitas Rp 2 ribu dengan tiket cash, bukankah 5 hari pergi-pulang saja sudah impas? Dan kartu bisa diisi ulang sampai rombengπŸ˜€

      Saya kok lebih setuju soal mentalitas itu ya? Walau memang segi infrastruktur dan sistemnya juga perlu diperbaiki lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s