Bertanding di Aplikasi Transportasi Daring


Menguji peruntungan pesan kendaraan daring Bajaiapp.

wpid-screenshot_2015-10-07-15-03-34.jpg

Ada yang berbeda di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu pagi ini. Tampak puluhan bajaj terparkir di sekitar taman waduk. Demo supir bajaj? Bukan. Para supir itu menjadi bagian dari acara peluncuran aplikasi pesan kendaraan dalam jaringan (daring) Bajaiapp, buah tangan Fery Njomin.

Tampaknya, aplikasi yang dapat diunduh melalui Google Play maupun App Store, ini mendapat restu pemerintah provinsi DKI Jakarta dan pihak terkait. Sejumlah media daring memberitakan, peluncuran Bajaiapp dihadiri Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah, Direktur Lalu Lintas Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Risyapudin, serta Ketua Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta Shafruhan Sinungan.

Kehadiran aplikasi pemesanan bajaj daring ini kian meramaikan aplikasi sejenis yang sudah ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, seperti: BlueBird (Jakarta, Medan, Surabaya), Express Taxi (sepertinya aplikasi ini sudah bergabung dengan GrabTaxi, karena di Google App tidak tersedia lagi aplikasi khusus Express Taxi), Go-Jek, GrabTaxi, Blu-Jek, dan sejenisnya. Nah, aplikasi-aplikasi yang lahir duluan itu, mampu diterima publik dengan baik karena kemudahan dan transparansi ongkos yang dibayarkan.

wpid-p_20150928_154216.jpg

Kecuali aplikasi untuk pemesanan daring taxi, terutama BlueBird dan Express Taxi, yang tarifnya ditentukan argometer – GrabTaxi menyediakan informasi estimasi besaran ongkos yang harus dibayar penumpang, sedangkan GrabCar, yang terintegrasi dengan GrabTaxi, besaran ongkos sudah ditentukan di awal pemesanan.

Lalu bagaimana dengan tarif Bajaiapp ini? Ini yang membingungkan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, pemerintah tengah mengkaji formulasi yang tepat. “Jangan sampai tarifnya lebih mahal dibandingkan taksi. Nanti gak ada yang naik,” ucapnya, seperti dikutip Tempo.co.

Penasaran, saya pun mencoba membandingkan besaran tarif aplikasi daring yang saat ini sepertinya menjadi aplikasi wajib masyarakat megapolitan seperti Jakarta ini. Agar seimbang, besaran tarif yang muncul, ditentukan dengan lokasi awal dan tujuan yang sama: dari Palmerah Barat ke TVRI Senayan. Berapa tarif masing-masing moda dalam jarak sekitar 4,5 kilometer itu?

Berikut hasilnya:

GrabTaxi

GrabTaxi: estimasi tarif Palmerah Barat - TVRI Senayan, antara Rp 17 ribu - 26 ribu.

GrabTaxi: estimasi tarif Palmerah Barat – TVRI Senayan, antara Rp17 ribu – Rp26 ribu.

GrabCar

GrabCar: tarif Palmerah Barat – TVRI Senayan Rp13 ribu.

GrabBike

wpid-wp-1444203777810.jpeg

GrabBike: tarif Palmerah Barat – TVRI Senayan Rp25 ribu

Go-Jek

Go-Jek: tarif Palmerah Barat - TVRI Senayan Rp 15 ribu.

Go-Jek: tarif Palmerah Barat – TVRI Senayan Rp15 ribu.

Bajaiapp

Bajaiapp: tarif Palmerah Barat - TVRI Senayan Rp30 ribu.

Bajaiapp: tarif Palmerah Barat – TVRI Senayan Rp30 ribu.

Ternyata, per hari ini, tarif pesan daring Bajaj lebih mahal dibanding taxi sekalipun. Tampaknya kekhawatiran kepala dinas perhubungan DKI Jakarta terbukti. Atau mungkin juga belum ada koordinasi antara pengembang aplikasi, pemerintah, serta dinas terkait?

Siang pun merambat, pohon-pohon mahoni yang menaungi tepi waduk yang berasal dari bahasa Belanda: fluitschip (kapal layar panjang berlunas ramping) mengangguk-angguk diterpa angin musim kemarau panjang. Siang yang terik. Sepanas persaingan antar aplikasi transportasi daring yang lebih dulu hadir. Bertahan, berkembang, atau justru melayang. Hilang.

Iklan

6 responses to “Bertanding di Aplikasi Transportasi Daring

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s