Bilik Cahaya di Jakarta Utara


Menelus tubuh, yang menyelusuh dari pembaringan.

Tanjung Priok di malam hari. Photo: Arie Basuki (Merdeka.com)

Tanjung Priok di malam hari. Photo: Arie Basuki (Merdeka.com)


Apalah artinya mata tanpa cahaya? Elokmu, bias kulit lipatan lenganmu, tak bakal nampak. Bagai cat kayu di pintu yang menggelopak.

Begitu pula lensa tanpa nur. Sia-sia membidik pendar pundakmu yang halus bak marmer meja di rumah tua.

Itulah kenapa cahaya begitu penting dalam pemotretan. Baik menggunakan kamera profesional maupun lensa kamera gawai, yang sering saya lakukan jika melihat obyek yang menarik untuk didokumentasikan.

Kopipapi dipotret dengan Zenfone 5 yang mengandalkan cahaya lampu ruangan.

Walaupun memotret di siang hari, saya kerap kesulitan untuk mendapatkan pencahayaan yang pas untuk memotret sebuah benda. Kadang terlalu banyak gangguan dari kondisi sekeliling. Arah cahaya yang terhalang tembok atau benda lain misalnya.

Pemotretan model majalah HOG di luar ruangan dengan bantuan pencahayaan softbox.

Pemotretan model majalah di luar ruangan dengan bantuan pencahayaan softbox.

Atau malah cahayanya terlampau kuat, sehingga butuh cahaya yang lebih lunak dengan bantuan softbox. Apalagi jika benda yang akan kita potret berukuran kecil atau butuh bagian-bagian tertentu, atau detil yang akan ditampilkan.

Memotret model di dalam ruangan dengan bantuan softbox.

Memotret model di dalam ruangan dengan bantuan softbox.

Untuk mengakalinya, selama ini saya harus memindah-mindahkan benda – biasanya berukuran tak terlalu besar – yang akan dipotret tersebut agar mendapat sudut pencahayaan yang pas. Repot memang.

Solusinya adalah menggunakan lightbox, yang berfungsi mendistribusikan cahaya secara merata di sebuah benda atau produk yang akan dipotret.

Lightbox buatan sendiri. Photo: Wikipedia

Lightbox buatan sendiri. Photo: Wikipedia

Lightbox inilah yang oleh sebagain orang sering disebut sebagai studio mini. Saya sih menamakannya dengan bilik cahaya. Lebih terkesan kampung dan seksi :mrgreen:

Nah, studio jenis inilah yang saya lihat ada di bengkel praktek Astra Honda Training Center (AHTC), di Jalan Agung Timur IX, Jakarta Utara, Sabtu, pekan lalu.

Honda Customer Care Center (HC3), yang saat itu mengundang para narablog untuk mengintip bongkaran mesin CB150R baru dan lawas, menyediakan lightbox sebagai sarana pemotretan.

Namun entah kenapa, studio mini tersebut kurang mendapat perhatian dari narablog. Mungkin teman-teman narablog lebih suka memotret pretelan mesin-mesin Double Over Head Camshaft (DOCH) yang terampar di meja bengkel.

Cuk Mitra memotret sebagian mesin CB150R di dalam bilik cahaya.

Cuk Mitra memotret sebagian mesin CB150R di dalam bilik cahaya.

Saya terus terang penasaran mencoba lightbox ini. Dengan bantuan Cuk Mitra, saya susun potongan mesin dan suku cadang lainnya di dalam studio mini itu. Kamera 8 megapixel Zenfone 5 pun mulai bekerja.

Dan ini sebagian hasilnya, tanpa edit dari perangkat lunak kamera atau komputer.

wpid-p_20150919_115827_1_p.jpg

(KIRI)i: Mesin DOHC CBR150R lama, kumparan magnet yang menyatu dengan sensor injeksi, dan rumah kopling. (KANAN): Mesin DOHC CBR150R baru, kumparan magnet dan sensor injeksi, serta rumah kopling.

Throttle body CB150R lama (kiri) dan CB150R baru (kanan).

Throttle body CB150R lama (kiri) dan CB150R baru (kanan).

Cukup OK bukan?

Iklan

2 responses to “Bilik Cahaya di Jakarta Utara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s