Kamu, Senja, dan Secarik Kisah di Kaki Langit


Perlahan, harum tubuhmu, merona jingga di katulistiwa. Siapa yang beruntung memelukmu?

Pantai Gili Trawangan, Lombok.

Pantai di Gili Trawangan, Lombok.


Semalam, aku hanya selarik mencumbumu. Tak sampai setengah nafas. Mungkin hanya sepertiga, seperlima embusan. Entahlah.
Biar begitu, sukmamu, wangi jenjang lehermu, aku simpan rapat-rapat di bawah bantal. Erat kudekap.

Satu jam sebelum matahari pagi mencicip pucuk daun bambu, rasanya aku perlu mengulang memento tertahan itu. Agar tiada lagi birahi yang diam melawan panggilan alam.

Dan aku pun mencumbu ulang desahan Star Talk di layar UseeTV, rewind program malam sebelumnya.
Dipandu Neil deGrasse Tyson, dengan tamu Jeff Jarvis, profesor jurnalistik di City University of New York’s, dan komedian Chuck Nice.

Oh iya, Arianna Huffington, pendiri Huffington Post juga menjadi ‘tamu’ saat itu. Hanya saja, Arianna, tampil dalam format wawancara yang sudah direkam terlebih dahulu.

Tema yang dibawakan Neil, doktor astrofisika dan juga host acara sains populer Cosmos di National Geographic, itu, cukup menggelitik minat saya: masa depan jurnalisme.

Sejak Internet dan ponsel pintar mantu, media massa dan jurnalisme pun berubah. Dari media cetak beralih ke ranah digital. Informasi dari manapun dapat dilirik dari layar 5 inchi yang ada di tangan Anda.

Data dari futureexploration.net menyebutkan bahwa media cetak akan menjadi sunset industry. Pelan namun pasti akan merona jingga di ufuk barat. Di Amerika Serikat, media cetak akan punah pada 2017, di Inggris diprediksi lenyap pada 2019, di Singapura pada 2021, dan Australia pada 2022.

Kepunahan media cetak

Bagaimana dengan Indonesia? Masih menurut situs di atas, sebagai salah satu negara berkembang, yang kemajuan teknologi internetnya juga masih kembang-kempis, media cetak akan lenyap pada 2040. Masih lama juga ya?

Pendapatan iklan media cetak pun, menurut journalism.org, juga menunjukkan tren penurunan, walau kue iklan pendapatannya belum mampu menyamai pendapatan iklan media cetak. Namun, tren belanja iklan media online juga merangkak signifikan sepanjang tahun.

Pendapatan iklan cetak dan digital

Nah, ditengah tren tersebut, ingar bingar media online dan journalisme online menemukan panggungnya. Begitu masifnya perang antara rumor dan fakta di banyak media online dunia. Termasuk blog tentu saja.

Informasi negatif, fitnah, rumor, dan desas-desus menyambar-nyambar gawai kita setiap saat. Jurnalisme terjebak pada gaya jurnalisme judul. Pembaca pun tersihir virus headline reader dan menjadi zombie yang ikut menularkan bakteri itu ke seantero negeri. “Dunia ini penuh dengan orang bodoh, dan kini semakin mudah saja kita menemukannya,” kata Jarvis.

Apalagi, ”Jurnalisme sekarang bukan lagi penjaga kuil suci kebenaran,” ujar mantan wartawan Chicago Tribune, People, dan New York Daily News ini.
Mengerikan? Tentu saja.

Tapi, menurut Jarvis yang juga seorang blogger aktif dan pemilik weblog BuzzMachine, inilah yang sedang dihadapi masyarakat global. Kejutan teknologi. Mirip dengan kehebohan ketika kamera Kodak ditemukan pada 1888 di Amerika Serikat.

Saat itu, orang-orang demikian takut untuk dipotret dan diambil privasinya. Belum lagi mitos-mitos yang melingkupinya, bahwa dipotret itu mengurangi usia. Namun kini, 300 tahun kemudian, orang berbangga hati melakukan selfie.

Lalu, apakah perlu waktu sekian ratus tahun untuk nantinya publik menganggap biasa berita bohong dan menganggapnya kelaziman?

Jarvis mengemukakan, untuk mengimbangi berita negatif itu, harus lebih banyak memproduksi konten yang lebih baik, untuk mengimbangi informasi negatif.
“Salah satu tugas pokok jurnalisme adalah mengkritisi kaum yang berkuasa yang sedang membual,” kata Jarvis.

Jadi kalau ada pemerintahan, pesohor, jurnalis, atau blogger yang tidak mau dikritik di muka publik berkaitan dengan kebijakan atau pemberitaan yang dibuatnya, ya lebih baik kembali ke masa 600 tahun lalu, ketika Guttenberg baru saja menemukan mesin cetak kertas untuk membuat buku harian yang disimpan di bawah kasur.

Bagaimana dengan internet troll? Yang dikenal sebagai komentator sampah itu, si pembuat onar di dunia maya?
Huffington Post, menurut Arianna, sejak setahun terakhir tidak mengijinkan komentator anonim di situsnya. “Kami harus bertanggung jawab untuk tidak menginjinkan sisi buruk seorang manusia merajalela,” ujar Arianna.

Awalnya, Huffington Post mempekerjakan 30 tenaga ahli yang bersama sistem algoritma canggih bekerja untuk mengatasi troll. Namun, troll tak mampu dilawan. “Mereka itu bagaikan hantu yang menetap,” kata penulis buku Thrive ini.

Sejak itulah anonimitas menjadi tabu di Huffington Post. Pengecualian tentu saja bagi seseorang yang memerlukan anonim karena alasan kuat. Whistleblower misalnya.

Arianna juga memunculkan fakta, bahwa sebagian besar karakter akun media sosial itu adalah palsu. Walaupun mereka bukan anonim atau pseudonim.
Semua yang terlihat tak seperti yang disampaikan.

Sunset di Pulau Bira, Kepulauan Seribu.

Sunset di Pulau Bira, Kepulauan Seribu.

Di Instagram misalnya, semua serba indah dan sunrise dimana-mana. Di Twitter orang-orang terlihat begitu agresif dan optimis, sementara LinkedIn menampilkan para pekerja profesional yang kualitasnya membuat tercengang, sehingga terlihat seolah tak ada satu perusahaan yang kuat membayarnya.

Manufactured identity,” kata Arianna. S.E.T.U.J.U
Tapi bukankah sekarang ini era marketing personal madame?
Benar. Oleh sebab itulah, kata Arianna,”Kredibilitas dipertaruhkan.”
Jika sudah tak lagi kredibel, hanya membual, tentu saja media, jurnalis, blogger, atau siapapun, tak layak untuk dipercaya, dan perlahan menuju horizon senja.

Iklan

3 responses to “Kamu, Senja, dan Secarik Kisah di Kaki Langit

  1. terkait potensi kepunahan media cetak, ini jadi salah satu penyebab teknologi internet tak pernah berpindah ke kecepatan yang lebih gegas. dengan alasan dibuat-buat, koran harus dibuat selama mungkin eksis di tengah-tengah masyarakat sambil pelaku yang berkepentingan mengembuskan isu-isu tak sedap tentang Internet yang cepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s