8 Februari 1686: Terbunuhnya Kapten Tack di Kartasura


Kisah menggetarkan yang terjadi 329 tahun lalu, ketika sang kapten Belanda terbunuh dalam pertempuran di alun-alun Keraton Kartasura.

Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Gresik, Jawa Timur, yang dibuat pada 1890 - 1900, menggambarkan terbunuhnya Kapten Franรงois Tack oleh Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II. Foto : Tropenmuseum/Wikimedia Commons

Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Gresik, Jawa Timur, yang dibuat pada 1890 – 1900, menggambarkan terbunuhnya Kapten Franรงois Tack oleh Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.
Foto : Tropenmuseum/Wikimedia Commons

Malam kian beranjak, namun pesta sepertinya belum usai. Gending kemenangan tak henti terdengar dari Keraton Kartasura. Hujan lebat yang turun sedari siang, usai sudah. Sepanjang malam itu, Untung Surapati dan pasukannya merayakan kemenangan besar ketika melawan serdadu VOC yang dipimpin Kapten Tack.

Kapten Franรงois Tack, perwira kelahiran Den Haag, itu tentu tak mengira, Jumat Wage, 8 Februari 1686, tepat tengah hari, meregang nyawa di alun-alun Keraton Kartasura. Tombak Kyai Plered yang dihunus Pangeran Puger, adik Sunan Amangkurat II, Raja Keraton Kartasura, merobek dadanya, sebelum dia sempat naik ke pelana kuda.

Ketika ditemukan, jenazah kapten kelahiran 28 Mei 1649 itu dipenuhi lebih dari 20 luka tusukan, yang sebagian besar berasal dari hunjaman senjata laskar Bali pimpinan Untung Surapati. Pertempuran yang berlangsung sekitar dua jam itu menewaskan 79 serdadu VOC, sementara di pihak Surapati gugur 50 orang prajurit.

Kapten Tack memang ditugaskan ke Kartasura untuk meringkus Untung Surapati yang bersembunyi โ€“ lebih tepatnya disembunyikan oleh Patih Nerangkusuma, yang akhirnya menjadi mertua Untung, setelah anaknya, Gusik Kusuma, ditinggal Pangeran Purbaya, yang menyerah kepada VOC di Tanjungpura, Jawa Barat.

Sebagai perwira senior, walau baru berusia 36 tahun, Kapten Tack tergolong cakap. Bersama kesatuannya, Tack sukses membantu memadamkan pemberontakan Sultan Ageng Tirtayasa serta makarnya Trunojoyo dari Amangkurat II. Oleh sebab itulah Amangkurat II memiliki hutang besar kepada VOC yang membantunya menghentikan pemberontakan Trunojoyo.

Untung Surapati sendiri tiba di Kartasura bukan tanpa sebab. Setelah menjadi buron sekian lama karena bercinta dengan Suzane, anak Mr Moor, majikannya, dia bersama kawanannya menjadi pemberontak yang cukup disegani karena kelihaian dan ketangkasannya.

Siapa Untung?

Babad Tanah Jawa menyebutkan, Untung berasal dari Bali, konon, dia keturunan bangsawan yang tercerai-berai akibat perang saudara. Ditemukan Kapten van Beber di Makasar, yang lalu menjualnya sebagai budak kepada Mr Moor. Entah kenapa, peruntungan Moor melejit begitu memiliki si budak. Itulah kenapa dia diberi nama ‘Untung’.

Pusing menghadapi ulah Surawiroaji, nama asli Untung, Kapten Ruys memilih merekrut Untung dan kelompoknya menjadi prajurit VOC lokal. Tugasnya, menjemput Pangeran Purbaya, anak Sultan Ageng Tirtayasa yang dikalahkan VOC di Banten pada 1683. Purbaya bersedia menyerah asal dijemput prajurit VOC pribumi.

Akibat kecongkakan dan sikap kasar pasukan yang dipimpin Vaandrig Kuffeler, kepada Pangeran Purbaya, Surapati merasa terhina, yang membuatnya membinasakan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, pada 28 Januari 1684.

Untung kembali menjadi buronon VOC, apalagi kelompoknya sukses menghabisi pasukan Jacob Couper di desa Rajapalah. Petualangannya sempat terhenti di Cirebon ketika dia berselisih dengan Raden Surapati anak angkat Sultan Cirebon, yang ketika diadili ternyata Raden Surapatilah yang bersalah. Surapati dihukum mati, dan Sultan memberikan nama ‘Surapati’ kepada Untung yang melekat sejak kini.

Perkenalannya dengan ayah Gusik Kusuma, Patih Nerangkusuma yang sangat anti Belanda, membuatnya menjadi dekat dengan lingkaran dalam keraton. Terutama Sultan Amangkurat II yang bimbang tak terhingga. Dalam satu sisi dia tidak menyukai VOC, namun sisi lainnya, sultan berhutang biaya perang sangat banyak ke serikat dagang Belanda itu.

Cukup lama Untung Surapati berdiam dan mendapat perlindungan dari Keraton Kartasura. Kecakapan dan ketangkasannya bertempur telah memikat Sultan Amangkurat II dan pembesar keraton. Kabar kedatangan Kapten Tack dan pasukannya untuk meringkus Untung Surapati meresahkan Sultan Amangkurat II.

Menurut sejarawan Belanda, Hermanus Johannes de Graff, dalam bukunya ‘Terbunuhnya Kapten Tack’, Nerangkusuma menyusun sandiwara yang nantinya terlihat pasukan Sultan Amangkurat II ‘bertempur’ melawan kelompok Surapati di alun-alun keraton.

Siasat itu berhasil. Kapten Tack terperangkap di tengah pertempuran semu, apalagi dia merasa percaya diri dengan hanya membawa sebagian pasukan ke keraton Kartasura. Pasukan Belanda yang lebih lengkap berada di loji VOC di luar keraton.

Maka yang terjadi adalah sejarah yang begitu memerah darah bagi VOC di Kartasura.

Hari ini, tepat 329 tahun, pertempuran di alun-alun Keraton Kartasura yang menewaskan Kapten Francois Tack, tanah koloni, yang berada ribuan mil dari tempat kelahirannya di Den Haag, Belanda.

10 responses to “8 Februari 1686: Terbunuhnya Kapten Tack di Kartasura

  1. Ping-balik: Robohnya Sniper di Telkomsel | dinadimu·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s