Memungut Senja di Cakrawala


Konon, pantai dan laut mempunyai energi pembebas begitu besar.

wpid-2014-11-11-17.06.43.jpg.jpeg

Sunset Bar, Gili Trawangan, Lombok.

Rasanya saya tak pernah memilih senja. Saya hanya memungutnya di tepi hutan, mengumpulkan serpihannya di pinggir-pinggir pantai, atau, bahkan memulungnya dari balik genting rumah yang melorot ketika musim hujan tiba, ketika baskara masih dengan gagahnya merapat di falak.

Sejujurnya, saya tidak terlalu suka dengan pantai dan laut. Sebagai orang darat, saya tentu lebih nyaman dan aman dalam pelukan rimba di kaki perbukitan atau gunung. Walau harus bersedekap dalam balutan jaket tebal, kupluk, sepatu gunung, atau kantung tidur bulu angsa. Selain tentu saja, saya tak jago berenang.

Bandingkan dengan ‘modal’ ketika melipir ke pantai, yang cukup dengan sandal jepit, celana pendek, kaos kutang, thong, bikini, atau nudis sekalipun. Bersahaja bukan?

Tapi, karena ini soal jingga di ufuk barat yang tak pernah saya pilih, maka saya nikmati saja kesempatan waktu demi waktu, ketika kekuasaan surya perlahan memudar di kaki langit.

Konon, pantai dan laut itu mempunyai energi pembebas begitu besar. Meluruhkan berlapis-lapis kain di badan, bermesraan dengan surya di pangkuan, berlapis sunblock buatan pabrik kosmetik kondang.

Seperti yang kamu ceritakan kepadaku, Dee, ketika jemari kaki kita melesak di atas pasir putih, dan jejak-jejak kepiting kecil yang merangkak di sudut karang terhapus sempalan ombak.

Seperti senja yang tak pernah saya pilih, kamu begitu saja menceritakan hidupmu. Tentang garis waktu yang kau ukir dengan begitu keras dan gigih, dari kenyamanan hidup yang berubah karena takdir ilahi memaksamu hidup terpisah dari keluarga, tentang sekolah tinggi yang kau rengkuh dari recehan demi recehan.

Bukan, kamu bukan meratapi tepi waktu yang berlalu. Justru saya merasa, kamu begitu kuat, begitu menikmatinya, dan ingin berbagi kisah di senja ini. I was flattered.

Dan di dalam MPV 2.000 cc yang melaju membelah tarmac pinggir pantai, kita kompak menaikkan volume pemutar musik, ketika Santana dan Steven Tyler memecah kebekuan kabin dengan Just Fell Better.

And I know, I know, I know
Part of me says let it go
That life happens for a reason

I know, I know, I know
Part of me says let it go
Everything must have a season

Iklan

7 responses to “Memungut Senja di Cakrawala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s