Bulan yang Tak Pernah Berakhir


Bahasa tak pernah berakhir seperti bulan yang tersingkir.

Sejumlah orang mengambil foto dengan latar belakang supermoon di atas jembatan Sungai Vardar, di Skopje, Makedonia, Ahad 10 Agustus 2014. AP/Boris Grdanoski

Sejumlah orang mengambil foto dengan latar belakang supermoon di atas jembatan Sungai Vardar, di Skopje, Makedonia, Ahad 10 Agustus 2014. AP/Boris Grdanoski

Foto : Tempo.co

Apa yang kau ingat dari akhir bulan? Gajian? Bayar pegawai? Atau halaman kalender yang tanggal selembar? Saya lebih mengingatnya sebagai bulan yang tak pernah berakhir. Begitu banyak momen yang istimewa di bulan Oktober ini. Seperti yang pernah saya tulis di sini.

Selain Sumpah Pemuda, ada peristiwa yang luput dari perhatian publik: Oktober adalah Bulan Bahasa dan Sastra. Inilah kegiatan yang selalu digelar selama bulan Oktober oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB). Kegiatannya lumayan banyak, dari seminar bahasa dan sastra, pemberian penghargaan Adibahasa, hingga musikalisasi puisi.

Walau terkesan ‘kaku’ dan tidak ngehip, saya pikir upaya BPPB itu patut diapresiasi. Apa manfaat dan pengaruhnya bagi saya? Sebagai penyemangat agar mampu menulis dengan lebih baik lagi. Saya sering terkagum-kagum dengan kemampuan seseorang menulis sesuatu. Biasanya, tulisan yang dibuat itu karakternya kuat, tanpa harus merusak tata bahasa itu sendiri. Itu karena para penulisnya mampu menjadi diri sendiri.

Padahal orang-orang tersebut jauh dari gelar akademis atau pekerja profesional seperti jurnalis, dosen, sastrawan, atau akademisi lainnya. Agus Mulyadi misalnya, sebagian besar postingannya enak untuk dibaca. Mengalir enteng, kadang kemaki, kadang saru, tak jarang gemagus. Seleb blog yang kamarnya seukuran kandang manuk cucak rowo di loteng ini, melahirkan tulisan-tulisan ringan yang jenaka yang pada beberapa paragraf berubah menyayat karena ‘njaluk rabi’ itu :mrgreen:

Menulis juga membantu saya berbenah aib. Maksudnya, saya begitu malu jika dalam tulisan saya ada salah ketik, penempatan huruf kapital yang keliru, titik dan koma yang tak jelas ada dimana, dan beragam kesalahan mendasar penulisan. Oleh sebab itulah, perlu mata ke dua atau ke tiga untuk mengecek tulisan kita – hal ini lazim di lingkungan kerja media massa.

Namun, sebagai nara blog, tentu saya tak punya barisan ‘sensor’ seperti itu. Salah satu kiatnya, sebelum dipublish, selalu saya baca ulang tulisan saya setelah beberapa saat. Begitupun setelah tulisan terbit, saya biasakan untuk membaca ulang di lain waktu. Istilah saya yaitu swa-edit. Itulah sebagian ikhtiar saya dalam berbahasa.

Salah satu rujukan saya dalam menulis yaitu blognya Mas Ivan Lanin, yang sering disebut sebagai evangelis bahasa Indonesia 🙂 . Atau portal Tanja Bahasa yang juga dibuatnya, sebuah situs yang mendokumentasikan pertanyaan dan jawaban seputar bahasa Indonesia.

Begitulah Oktober. Dia boleh berakhir sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, tapi rohnya, bagi saya, akan terus mengiringi perjalanan tulisan-tulisan selanjutnya. Belajar menulis lagi, mencari kata dan kalimat yang tidak klise, dan terus menulis – walau tidak rutin – hal-hal yang menarik minat dan imajinasi saya.

Oktober pun bersurai, menyambut November, yang kata Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi penanda musim hujan di akhir tahun. Jika ramalan BMKG pas, saatnya kita menyanyikan November Rain. Ah, hujan. Gabungan sempurna simponi alam dan lelaki perindu hujan.

Akhir Oktober ini, kamu merindu siapa?

Iklan

3 responses to “Bulan yang Tak Pernah Berakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s