Enigma Seorang Ra


Tak ada paket sempurna dalam diri seorang lelaki atau wanita.

wpid-2014-08-24-18.05.42.jpg.jpeg

“Laki-laki itu sepertinya ditakdirkan untuk selingkuh”

Suaramu datar. Terucap dari bibir yang dipoles warna coklat muda. Malam mulai beranjak perlahan. Hujan yang sedari petang mengguyur kota di tepi pantai itu tak juga berhenti.

Secangkir coklat panas yang baru seteguk terasa pahit di lidah. “Kenapa Ra?,” tanyaku sambil memandang bola matanya yang bulat. Matamu hambar.

Di kejauhan lampu-lampu kapal berkelip-kelip bak bintang di langit. Perahu terakhir bersandar di dermaga. Peluit pun bergema. Pilu.

Hening. Kamu hanya memainkan Marlboro Black Menthol di ujung jemari. Kulit sawo matangmu sedikit bersinar ditimpa lampu plafon ruangan. Pandanganmu menerawang jauh, mungkin ke ujung dermaga sana. Entahlah.

Dan hujan masih saja berderai. Bar di hotel tempat kita menginap pun senyap. Satu demi satu para tamu beranjak ke kamar masing-masing. Mungkin lelah setelah seharian beraktivitas di kota pelabuhan ini.

“Lelaki yang baik sepertinya menipis ya mas? Seperti air tawar di laut lepas,” ucapmu tertawa. Mencoba memecah kesunyian. Saya tersenyum. Kecut. Sembari menelan ludah, yang masih saja pahit.

“Sepertinya, kok saya hidup dengan lelaki yang seperti itu ya mas,” katamu. Seperti senapan mesin, bibirmu berucap: tentang kisah seorang ayah, tentang laki-lakimu yang me-lima-kanmu, tentang kekasih barumu yang meng-cut-off asmaramu tiba-tiba, tentang bagaimana kamu ‘terpaksa’ menjadi tulang punggung keluarga, tentang kesendirianmu, tentang pekerjaanmu.

Berjam-jam di malam hujan itu, dengan secangkir coklat yang mendingin, saya biarkan diri ini diam, mendengarkanmu bak perekam suara berkapasitas 1 terabita.

“Itu yang membuatmu masih sendiri di usiamu?,” tanyaku.

“Entahlah mas. Saya mencoba menikmati saja. Mungkin saya perlu dialog lebih dalam dengan diri sendiri. Sebagai wanita, ya kepengin juga dong disayang,” kali ini kamu tertawa lepas. Saya pun lega mendengar kamu tertawa.

Perempuan memang enigma dunia. Siapa yang tahu dibalik senyumnya? Siapa bisa mendakwa lirikan matanya? Siapa yang bisa menjawab gestur tubuhnya?

Malam kian larut. Hujan tinggal serpihan dari langit. Diselingi mati listrik berkali-kali, berjam-jam kita habiskan untuk mengurai luka, duka, dan bangkai masing-masing. Bangkai? Rasanya, masing-masing dari kita melukis bangkai menjadi wangi bunga.

Saya teringat Fay, perempuanku. Wanita yang bertahun-tahun telah membagi egoisme lelaki, kesabaran dan ketangguhan seorang perempuan. Tak ada paket yang sempurna dari diri seorang lelaki atau wanita.

Ibarat paket RC213V dan Marc Marquez, si juara dunia MotoGP 2014 itu. Sesempurna motor purwarupa itu, dan sejago Marquez memutar gas, tetap saja, berulangkali pembalap Spanyol itu gagal podium, bahkan finish. Bisa karena jatuh, sensornya eror, Marquez lagi bad mood, atau malah klep pentil rodanya salah warna:mrgreen:

93marquez_1094_r13_marquez.2014_original

Foto: MotoGP.com

Tinggal bagaimana meramu paket itu sesuai kebutuhan dan kehendak hidup. Two become one, kata Spice Girls di tahun 1996.

Tiga jam sebelum subuh, kantuk mulai mendera. Sementara penerbangan pagi menanti di bandara. “Mas temenin saya tidur. Saya takut. Apalagi tadi mati listrik beberapa kali.”

Beberapa detik saya terdiam. Antara kasihan dan ragu-ragu.

“Ayolah. Toh sebentar lagi pagi. Nanti saya bagi bantalnya deh.”

What should I do?

Wanita memang teka-teki wangi dunia.

4 responses to “Enigma Seorang Ra

  1. Romlah njaluk ditukokno kepiting gawe buko.
    “Yo wis tak tukokno nang rolak” jare Muntiyadi.
    “Lho gak numpak bronpit tah ?” takok Romlah.
    “Gak wis, cik gak amis. Tak nyegat bemo ae” jare Muntiyadi.

    Mari ngono Muntiyadi budhal nyegat bemo.
    Dhadhak ndhik bemo Muntiyadi pethuk ambek bekas pacare biyen, jenenge Sablah.
    “Lho cak Mun, kate nang endhi peno cak ?” takok Sablah.
    “Kate nglencer golek angin . .” jare Muntiyadi.
    “Sakjane aku kate kulak kain, tapi wurung ae wis, tak melok peno ae” jare Sablah ngalem.

    Mari ngono arek loro iku ngelencer nang musium Kapal Selam
    Ndhik kono lak isis tah, dhadhi gak keroso moro-moro wis sore.
    “Waduh blaen iki, aku kudhu mulih, wis yo .” jare Muntiyadi.
    Mari pamitan, Muntiyadi mampir nang rolak tuku kepiting diadhai kresek.

    Mergo gopoh kabeh, pas katene mlebu pekarangan dhadhak kreseke jebol, kepitinge buyar kabeh.
    Ambek nggurak kepitinge, Muntiyadi bengok-bengok “Ayo cepetan sithik . .wis meh tekan iki ”

    Krungu bojone bengok-bengok, Romlah ambek muring-muring.
    “Cak . .cak, cik guobloke se sampeyan iku. Lha mosok kepiting digiring padhakno bebek ae. Mulakno kok sui. . .”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s