Bangku-bangku Kota


Seperti apa sampeyan melihat niat baik seseorang? Dari bahasa tubuhnya? Pemberiannya? Atau chemistry?

wpid-photo-0005.jpg

Lelaki paruh baya berambut putih itu duduk di sebuah kursi yang dipasang permanen di trotoar, seberang halte LIPI, bus TransJakarta, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Sesekali, dia meregangkan punggungnya. Mungkin kelelahan sehabis mengayun langkah di bawah langit ibu kota nan terik. Begitulah, bangku di trotoar itu menampilkan sosok kota yang mencoba lebih bersahabat sekaligus manusiawi.

Bangku dan lelaki tua itu sontak menarik saya ke masa lebih dari 15 tahun silam, ke kampung halaman: Solo.

Setelah era kuningisasi di Jawa Tengah yang dimotori Gubernur Jateng Soewardi pada Juli 1995, yang diteruskan oleh Imam Sutopo, Walikota Solo, periode 1995 – 2000. Di masa itu, yang mencolok adalah warna cat kuning di pagar-pagar perkantoran pemerintah, sekolah, batang pohon, trotoar, hingga marka jalan dan zebra cross. Bahkan jubah Pangeran Diponergoro, di Banjar, perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat, pun dicat kuning! Maklum Orde Baru sebagai emaknya Golkar dilanda krisis kekuasaan.

Memang ada perlawanan kuningisasi Soewardi dari ‘koalisi’ PDIP dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang disebut Mega-Bintang pimpinan Mudrik Sangidoe, dengan aksi putihisasi: mengecat kembali warna kuning dengan putih. Putih oleh sebagian aktivis di Solo (dan tentu kota besar lainnya seperti Jakarta) pada masa itu, juga merupakan simbol perlawanan yang disebut golongan putih (golput): tak memilih saat pemilu digelar oleh rezim orba.

Puncaknya, ketika 20 Oktober 1999, Balaikota Solo dibakar massa PDIP yang marah karena Megawati gagal menjadi presiden karena kalah melawan Gus Dur dalam Sidang Umum MPR 1999. Gedung balaikota itu, pada awalnya bekas gubernuran, namun hancur saat perang melawan agresi Belanda II (Clash II) 19 Desember 1948, yang kemudian dibangun kembali pada 1952.

Bung Karno, selain menjadi arsitek, juga menyumbang karpet merah yang dipasang di bagian dalam Balaikota Solo. Ironisnya, bangunan dan karpet merah Putra Sang Fajar habis dibakar massa PDIP pada 20 Oktober 1999 itu.

Setelah Orde Baru tumbang pada 1998, dan Golkar tiarap, maka sebagian partai-partai yang selama 32 tahun ‘membisu’ pun mulai menampakkan diri dengan segala keriuhannya. Juga di Solo, PDIP mendapat momen dengan naiknya Slamet Suryanto, salah satu kader setianya, menjadi Walikota Solo periode 2000 – 2005.

Seperti sampanye yang terguncang dan tutupnya dilepas. Begitulah kondisi Solo selama Slamet Suryanto berkuasa. Pesta rakyat yang cenderung kebablasan dan pembiaran. Kota berjuluk Tak Pernah Tidur ini menjadi semrawut dan kumuh. Leadership tak jalan, apalagi sistem pemerintahan tak berjalan sesuai harapan warga.

Monumen 45 Banjarsari contohnya. Bangunan yang digagas untuk mengenang Serangan Umum Empat Hari melawan Belanda yang terjadi pada 7-10 Agustus 1949, dan dibangun sejak 31 Oktober 1973 dan diresmikan pada 10 November 1976, itu begitu sewrawut. Pedagang kakilima memenuhi setiap sudut jalan yang mengitari monumen. Hingga seorang kawan yang tinggal di sana memutuskan menjual rumah dan pindah ke Mojosongo, bagian Utara Kota Solo.

Awal tahun 2000 hingga 2005 itulah Solo menjadi kapal tak bernakhoda. Sebuah kota yang tak nyaman dan ramah untuk warganya, apalagi pariwisata. Jujur, pada masa itu saya hopeless dengan Kota Bengawan ini. Rasa percaya diri sebuah kota sirna. Hingga saya hijrah macul ke Batavia pada 2002, Solo masih terjerembab dalam ‘kabut’.

Dan peran walikota beralih ke Joko Widodo dan wakilnya F.X. Hadi Rudyatmo pada 2005 – 2012. Nama pertama itulah yang kini menyesaki dinding Facebook, Twitter, blog, maupun kanal media sosial lainnya. Mungkin saja Mark Zuckerberg dan Jack Dorsey bingung, kenapa trafik di FB dan Twitter mendadak njengat di Indonesia bulan-bulan belakangan ini:mrgreen:

Sampai kemudian sekitar 2008 – 2009, kabar gembira itu datang dari mertua saya, orang asli Betawi yang hijrah ke Solo pada 1980an, bahwa: kulit manggis ada ekstraknya Kota Solo telah berubah drastis. “Kotanya resik. Banyak taman. Tempat jajan Galabo di Gladag. Dan..dan…,” ujar mertua saya berpromosi.

Saya bergeming. Wah, paling gitu-gitu saja, kata saya dalam hati. Hingga kemudian saya membuktikan sendiri ketika berkesempatan mudik bersama keluarga. Saya kunjungi satu-demi satu ikon-ikon Kota Solo yang berubah. Taman Terminal Tirtonadi, Taman Balekambang (dulu taman ini tempat bersarang dunia malam, diskotik, dan studio musik murah-meriah – berubah menjadi taman yang bermartabat dan menjadi sosialisasi berbagai elemen publik).

Citywalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi misalnya, juga dilengkapi bangku taman untuk sekadar singgah bagi yang lelah. Solo yang berderak, mendapat sentuhan kemanusiaan dalam wujud sebuah bangku. Selanjutnya adalah epic. Sampeyan dapat cari infonya sendiri di Google atau bertanya langsung ke orang asli Solo (tentu yang faham konteks perubahan sosial Solo masa lalu dan masa kini).

Saya juga tak menampik, bahwa faktor merawat fasilitas publik yang sudah susah payah dibangun perlu campur tangan semua pihak. Tak hanya mengandalkan pemerintah setempat, tetapi juga kepedulian warga untuk ikut memelihara. Akhir 2013, saya kebetulan mudik lumayan panjang ke Solo. Saya sempatkan berkeliling kota naik angkutan kota, bus Solo Batik Trans, maupun becak. Ada sejumlah lokasi yang perlu dirawat: seperti Taman di Terminal Tirtonadi, taman di sepanjang kali Anyar, utara RS Dr Oen, bangku taman di Citywalk, serta Taman Kebun Binatang Jurug dan sekitarnya.

Jakarta

Saya termasuk yang pesimis Jakarta akan sedikit berubah usai Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat Gubernur Jakarta sejak Oktober 2012. Apa bisa template keberhasilan di Solo dan Belitung Timur di-copas ke Jakarta?

Ternyata ramuan resep mereka berdua itu, walau baru sedikit, namun fenomenal, mampu membangkitkan optimisme dan harapan saya. Untuk yang ber-KTP Jawa Barat, namun nguli di Jakarta seperti saya ini, perubahan kecil itu cukup berarti. Mungkin orang-orang melihat perubahan signifikan seperti penataan Waduk Pluit, Waduk Rio-rio, Tanah Abang, sistem monitoring administrasi, maupun lelang jabatan.

Seorang kawan menebak pilihan saya? “Jokowi ya bro? Karena sesama orang Solo.”

Saya tertawa. “Bukan itu esensinya. Jika saja ada orang yang seperti Jokowi, tapi bernama Henry Parasian, yang asal Batak, di Tapanuli Utara sana, atau Eko Eklino yang asal Maluku, tetap akan saya pilih,” kata saya. Karena ini menyangkut karakter, rekam jejak, dan penghargaan publik.

Bukan pula soal partai. Saat pilihan anggota legislatif lalu, saya memilih Idham Arshad, caleg Partai Kebangkitan Bangsa di daerah pemilihan Jawa Barat. Sejak lama dia giat dalam memperjuangkan nasib petani di Jawa Barat. Ridwan Kamil yang dari Partai Keadilan Sejahtera pun saya dukung, walau hanya melalui Twitter, karena saya tak punya hak pilih di Bandung. Ini soal leadership, bukan partaiship.

Jika nantinya Jokowi terpilih menjadi RI 1, maka tugas warga pendukungnya adalah menjadi pengawal kebijakan, pengritisi, dan oposisi. Sepakat dengan yang dilontarkan Marzuki Kill The DJ dalam v-klipnya: usai terpilih, maka barisan akan menjadi parlemen jalanan dan menjadi oposisi. Begitu pula yang ditegaskan Pandji Pragiwaksono: bakal mengoreksi sistem pendidikan yang pernah direstui Jusuf Kalla di masa lalu.

OK, cukup pengakuannya.

Sekarang, ini cerita seorang bidan, sebut saja Yayuk, istri karib saya yang bernama Thole.

Syahdan, Yayuk, yang asli Jawa (bukan Solo) ini berkarir sebagai bidan honorer di Jakarta sejak 2008. Kerjanya mirip PNS bahkan kadang melebihi tugas bidan PNS. Gaji pertama Rp 800 ribu. Tahun 2009 naik menjadi Rp 900 ribu, 2010 munggah jadi Rp 1 juta, 2011 menjadi Rp 1,1 juta, 2012 menerima gaji Rp 1,195 juta.

Thole, suaminya, seorang pekerja swasta dengan penghasilan lumayan, sering meledek sang istri.” Yuk, Yayuk, gajimu kecil, kerjamu bertaruh nyawa. Kalah sama gaji staf mini market. Kamu keluar saja, nyari yang gajinye gede.”

Istrinya menjawab,”Saya suka kerja begini. Yang penting kerja gemi, setiti, ngati-ati, ora neko-neko. Lagi pula Mas Thole, saya ini lahir dari keluarga susah. Pasienku kebanyakan orang susah. Biaya lahiran Rp 300 ribu pada susah bayar. Malah ada yang anaknya digadaikan ke tukang warteg buat bayar persalinan.”

Sejak 2013, ketika dinamic duo Jokowi – Ahok mendapat kepercayaan mengurus Jakarta, gajinya menjadi Rp 3,3 juta. “Sekarang sudah Rp 4 juta,” kata Thole kepada saya. Karena penilain berdasarkan kinerja, absen sudah pakai sidik jari, telat potong gaji, kinerja menjadi terukur. Thole menambahkan,”Dulu yang PNS kerjanya asal-asalan, datang sesuka hati jamnya. Training bidan juga sudah full, padahal dulu training itu harus KKN baru dapat jatah. Sekarang Yayuk sudah jadi mentor dokter kandungan yang magang.”

Soal pemilu presiden, Thole penasaran atas pilihan istrinya maupun teman-temannya. Kata Yayuk, kebanyakan temannya pada milih Prabowo. Alasannya, zaman Jokowi – Ahok, kerjanya jadi susah, load kerja tinggi. Salah sedikit dilaporkan ke Dinkes. Pasien Komplain, Dinkes langsung negur.

Lha kamu sendiri pilih siapa, tanya Thole menyelidiki istrinya sambil klepas-klepus rokok menyan. “Saya pilih Jokowi.”

Kenapa? Tanya Thole penasaran sambil matanya menyipit dari balik kulitnya yang legam. “Mbuh mas. Perasaanku wae,” jawab Yayuk. Thole pun menggaruk kupingnya yang membengkak.

Saya tertawa mendengar ceritanya. Saya faham, bahwa Yayuk bukan model orang yang bisa menjelaskan ini-itu dengan gamblang laiknya orator atau penulis ulung. Dia hanya mengamini intuisinya.

Demikian pula orang-orang yang Sabtu, 5 Juli lalu, ngariung di GBK menghadiri Konser 2 Jari. Hari itu, dan hari-hari sebelumnya, mereka telah ditautkan dalam chemistry skala besar. Kegembiraan politik yang sungguh ajaib di Indonesia. Mereka saling tak mengenal, bersahutan di dunia maya, membentuk jeruji relawan, dan merasakan kekuatan alam bertabuh. Mestakung. Semesta mendukung.

Tapi saya cukup melihat sentuhan itu dari sebuah bangku di trotoar. Tempat warga dapat menyenderkan tubuhnya sesekali. Ya, sesederhana itu.

Jakarta, Senin, 5 Juli 2014.

#2 hari menjelang pilpres, Rabu 9 Juli 2014

12 responses to “Bangku-bangku Kota

  1. Pantes temen2 sepupu saya yang kerja di salah satu gedung pemerintahan katanya mau pada dukung Prabowo… *eh😀

    Btw Ridwan Kamil itu kader PKS atau Gerindra sih sebenernya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s