Drone Blogger


Drone dan wayang butuh dalang untuk beraksi.

predator-firing-missile4

Foto dari : dronewars.net

Apa itu drone? Ada beberapa terminologi mengenai drone. Dalam ilmu alam, lebah jantan (male honey bee) disebut drone. Sedangkan di literatur kimia, merupakan slang dari Mephedrone, senyawa sintetis yang tergolong dalam kelas amphetamine dan cathinone. Nah, yang menarik ketika masuk terminologi kendaraan: drone, disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV), yang menurut istilah International Civil Aviation Organization (ICAO)  dinamakan Remotely Piloted Aircraft (RPA). Saat ini, pesawat tanpa awak itu lebih dikenal luas dengan nama drone.

Walaupun tanpa awak (unmanned), tetap saja drone membutuhkan ‘pilot’ yang mengontrol dari darat, laut, maupun udara. Pada dasarnya, drone terbagi dalam dua kategori: untuk pengintaian (surveillance) dan penyerangan menggunakan misil atau bom.

Sebenarnya, ide pesawat nirawak itu telah ada sejak abad 18. Ketika pasukan Austria mengirim balon-balon berisi bom untuk menyerang Venisia. Pengembangan lebih serius dimulai pada abad 19, terutama sejak Perang Dunia I, ketika Dayton-Wright Airplane Company mencoba pesawat nirawak berupa torpedo untuk mengebom sasaran. Tak hanya Amerika, Jerman pun menggunakan drone selama Perang Dunia II.

Di Amerika, drone mulai digarap serius pada 1959, ketika Angkatan Udara Amerika (USAF), miris melihat begitu banyaknya pilot yang tewas selama pertempuran. Sejak itulah USAF terus mengembangkan drone. Aksi tempur pertama drone terjadi pada 2 dan 4 Agustus 1964, saat pertempuran di Teluk Tonkin, antara tentara Amerika dan Vietnam Utara.

Kini tentara Amerika menggunakan drone untuk berperang di negara-negara teluk seperti Iran, Irak, maupun Afganistan. Drone Paman Sam itu dikendalikan melalui satelit dari Nellis dan Creech di pangkalan udara Nellis and Creech di Las Vegas, Nevada. Pengoperasian drone menurut dronewars.net seperti ini: Kru di darat meluncurkan drone di wilayah konflik, selanjutnya ‘pilot’ mengontrol melalui layar video di gurun Nevada. Kru lain memonitor beragam sensor yang ada di monitor lainnya, sementara personail lain berkomunikasi dengan komandan tempur di zona perang.

Drone memang mampu dikendalikan dalam jarak yang sangat jauh, hingga 7.500 mil atau sekitar 12 ribu kilometer. Kesuksesan drone membuat CIA juga tertarik menggunakannya. Badan intelejen Amerika ini menggunakan drone untuk perang rahasia, terutama di Pakistan dan negara-negara lain yang dianggap musuh.

Indonesia pun tak mau kalah dalam membuat drone. Hasil kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Elektronik Nasional (LEN), dan PT Dirgantara Indonesia (DI), berhasil membuat Pesawat Udara Nirawak (PUNA) yang diberi nama Wulung. PUNA Wulung sukses diuji terbang pada Oktober 2012.

wulung timthumb

PUNA Wulung. Sumber foto : Indomiliter.com

PUNA Pelatuk

PUNA Pelatuk. Sumber foto dari sini

Selain Wulung, terdapat empat PUNA yang dikembangkan tim BPPT sejak 2002, yaitu: Sriti, Alap-alap, Gagak, dan Pelatuk. Kelima PUNA itu target awalnya untuk misi pengintaian dan pengembangan pertanian. Di masa depan, seperti drone negara maju lainnya, PUNA akan dikembangkan menjadi UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) untuk keperluan tempur.

Dimasa kini, drone digunakan untuk beragam keperluan yang lebih luas. Pembuatan film, siaran berita – saat banjir Jakarta awal tahun ini, sebuah stasiun tv swasta menggunakan quadrone (drone dengan empat rotor baling-baling) untuk menyiarkan gambar dari udara secara real-time, keperluan fotografi, dan lain sebagainya. Saking luwesnya drone itulah yang membuat pesawat nirawak ini populer digunakan di banyak industri.

quadrone tempo.co

quadrone2.tempo.co

Caption : Duran De Villiers, direktur of SteadiDrone Ltd. saat berpose dengan perangkat terbaru SteadiDrone QU4D di Knysa, Afrika Selatan (26/2). Perangkat ini dijual mulai dari US $ 1999 (Rp. 23 juta) dan dilengkapi dengan berbagai pilihan aksesori tambahan dengan harga terjangkau. Dean Hutton/Bloomberg via Getty Images. Sumber : Foto Tempo.co

Jika dipikir-pikir, drone ini mirip dalang dan wayang di pakeliran. Ada dalang sebagai pilot, dan wayang sebagai drone. Dalang mengendalikan drone sesuai skenario yang diinginkan. Apapun polah wayang, selalu atas persetujuan dan koordinasi ki dalang. Mirip tokoh avatar di film Hollywood yang ditulis dan disutradarai James Cameron pada 2009. Jika ‘pilot’ koneksinya dicabut, avatar letoy tak berdaya. Ngampleh mirip sein Eyang Edo:mrgreen:

Avatar-film-1.1

Sumber foto dari sini

Persaingan antar pilot eh dalang pun kian ketat. Muncullah dalang-dalang alternatif yang segar, memperkaya khasanah dalang tradisional. Siapa tak kenal mendiang Slamet Gundono, dalang pop kondang asal Tegal, yang terkenal dengan Wayang Suket? Atau Ki Jlitheng Suparman, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo – dulu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), yang sekarang lagi digemari dengan polah Wayang Kampung Sebelah (WKS). Ki Jlitheng memang jeli, bisa dibilang nyentrik. Dia ciptakan wayang berdasar karakter keseharian orang. Ada Pak Lurah gagu, penyanyi dangdut kampungan, hansip kondangan, hingga preman pasar. Sayang siaran WKS di MNCTV yang berbahasa Indonesia, tak selucu ketika ndagel menggunakan bahasa Jawa, bahasa ibu ki dalang.

WAYANG-KAMPUNG SEBELAH

Sumber foto Solopos

Dunia narablog (blogger) pun sepertinya terjangkit drone, avatar, dan wayang ini. Bisa jadi, karena kesibukan membagi waktu, dan tetek bengek kerepotan lain, narablog sejuta hits macam Kang Taufik Hidayat, Cak Iwan Banaran, maupun Denmas Irfan, kini mengandalkan drone untuk ‘menyerang’ nara sumber. Kang Taufik biasa menggunakan drone merek Faizal, Cak IWB saat ini tampaknya cocok dengan merek Vandra MMBlog, sedangkan Denmas Irfan mencoba Kresna sebagai dronenya. Oiya, sebenarnya Bro Stephen Langitan pun terlebih dahulu menggunakan avatar bernama Bro Jules di sejumlah tulisan di media online SL.com🙂.

drone tmcblog

drone iwb

drone jombliz2

drone jombliz

Bagaimana dengan etika? Itu soal lain. Yang penting tulisan muncul di media ki dalang. Narasumber happy, klien senang, si wayang pun menggelinjang girang. Seperti drone, untuk menyerang tetap butuh bahan bakar dan amunisi😀

*siapin kepiting, kaca cembung, peniti, bawang, dan lombok abang:mrgreen:

83 responses to “Drone Blogger

  1. so drone…

    milih jadi penikmat blog waeh… ibarate rujak, drone cuma sendok,, alat bantu mangan… ora ono drone? yo disunduki… disendok disunduk, rujak tetep wae rujak..

    #nyemak karo nglamuti cingur

  2. komen gw diatas itu buat mancing sang empunya blog untuk memberikan pencerahan lebih jauh. malah dibilang kura-kura ninja.
    sekali lagi tolong diberikan pemahaman lebih jauh agar jadi pelijaran kita bersama.
    *bukan typo

    apa hubungan drone dengan etika jurnalisme? apa itu jurnalisme kesusu? apakah blogger bisa disebut jurnalisme juga?
    silakan bikin artikel baru..

  3. Lowongan:

    Dibutuhkan drone untuk menulis di blog ane.
    Syarat:

    – minimal lulusan SLB
    – bisa baca-tulis
    – bersedia diterbangkan kesana kemari
    – bersedia tidak digaji
    – sudah memiliki blog dengan minimal 8 juta hits

  4. Gw tadinya mau bikin posting soal blogger boneka, waktu dulu jamannya Teddy Bear. Tapi akhirnya nyangkut di draft nggak selesai oom.

    Anyway, memang difinisi blog sekarang mengalir. Blog yang tadinya punya difinisi jurnal pribadi, sekarang mengalir jadi bermacam-macam.

    Mana difinisi yang masih jujur sebagai jurnal pribadi? Mana yang blog slash media online? Ketika blogger termasuk saya dan mas bro diundang dan datang ke press conference, ini pure bisa disebut pengalaman pribadi atau di feeding? Jadi apakah blogger harus menolak saja? Ketika menyadur dari media online lain, atau misal memasukan spyshot, kabar-kabar burung, apakah itu masih jujur sebagai jurnal pribadi?

    Curcol aja, baru-baru ini juga ada comment, bernada kurang sedap yang masuk ke blog: “Ini kok opini pribadi!” Ya ini blogger… terus?

    Saya lihat saat ini blogger dalam masa transisi yang berkelanjutan, arti seorang blogger dulu dan sekarang sudah berbeda. Apakah salah? Ya nggak juga, berkembang aja bro…

    Salam berubah!

  5. manggut2 sejak atas….
    tapi kenapa aku ikut2an yak, mana tipo lagi ( kata itu pasti tipo, kudu edi #kalau sempet )
    ternyata kontributor yang ku mintai tolong kemaren kena soup panas tangannya, jadi nggak bisa langsung ngetik #efekketemublogger kondang mungkin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s