Ketika Pertamina Nggayuh Lintang


Memaksa si bonsai jadi astronot.

wpid-photo-0018.jpg

Senin pagi yang (tentu saja) riuh, 15 menit menjelang pukul tujuh. Antrean sepeda motor mengular di SPBU Pertamina (dulu Petronas), di Transyogie Cibubur. Sebagian besar terdiri dari motor bebek atau skutik yang akan mengisi Premium. Begitu pula saya, yang antre mengisi bensin motor saya: bebek, Vega R tahun 2005.

Cukup lama saya antre, mungkin sekitar 10 menit. Di belakang, semakin bertambah konsumen yang menunggu giliran mengisi bahan bakar bersubsidi itu. Deretan pengantre yang kian panjang itu karena hanya ada satu petugas pompa. Padahal, di lajur Premium untuk motor ada empat dispenser. Artinya, tiga dispenser nganggur, karena tak ada petugasnya. Jika tiga dispenser tersebut ada petugasnya, tentu antrean tidak akan sepanjang itu. Kalaupun antre, ya wajar, karena banyaknya pengguna kendaraan.

Saat tiba giliran mengisi, saya pun bertanya ke petugas, yang mungkin masih magang karena mengenakan setelan putih-hitam,”Mas petugas lainnya mana?”. Si petugas menjawab,”Yang shift malam sudah pulang, yang pagi belum datang.” Weladalah!

Padahal SPBU ini termasuk COCO: Company Owned Company Operated, alias SPBU milik dan dikelola Pertamina. Yang dari statusnya kepemilikan dan operasional (seharusnya) layanannya jauh lebih baik dari SPBU Pertamina CODO (Company Owned Dealer Operated), maupun DODO (Dealer Owned Dealer Operated).

Pulang ke rumah, saya pun menelpon ke contact center Pertamina di 500-000. Saya ceritakan kekecewaan saya terhadap layanan di SPBU tersebut. Mas operator berjanji akan menindaklanjuti laporan saya.

Tiba-tiba saya ingat kejadian di SPBU COCO 31.12802 di MT Haryono, pada Desember 2013. Kejadiannya, saya kena charge sekitar 2% untuk pembelian Pertamax dengan kartu kredit. Saya memang jarang sekali mengisi bensin oktan 92-95 di SPBU Pertamina, karena alasan layanan dan sejenisnya. Itupun mengisi di Pertamina karena iseng mencoba.

Sepulang ke rumah saya langsung menelpon contac center Pertamina. Esok paginya, staf SPBU tersebut menelpon saya, dan menjelaskan bahwa charge itu dikenakan karena kartu kredit saya berbeda provider bank. Dia beralasan, hal itu kebijakan dari pusat. Saya menyanggah alasan itu, karena selama ini, ketika mengisi di Shell maupun Total, sama sekali tidak ada charge untuk kartu kredit/debit, walau beda provider bank. Saya tekankan, kenapa ini SPBU pribumi, dikelola pribumi, tapi sistemnya malah memberatkan warga Indonesia sendiri?

Kenapa di SPBU asing: Shell & Total bisa, Pertamina tidak bisa? Ini negeri siapa? Ini tanah siapa? Saya tegaskan pula, tak mau lagi mengisi bensin oktan 92-95 di SPBU tersebut. Sambil meminta maaf, telepon ditutup. Saya juga menutup akal saya. Namun tetap membuka nurani kebangsaan πŸ™‚

SPBU COCO PERTAMINA

New Doc

OK, kembali ke pagi tadi. Iseng saya bertanya ke staf operator di contact center Pertamina, saya menanyakan, apakah di SPBU COCO, pembelian bensin menggunakan kartu debit/kredit dikenakan charge? Operator (saya lupa namanya) mengatakan, bahwa sejak 2012, semua SPBU COCO tidak mengenakan charge untuk pembelian dengan kartu kredit-debit. OK.

Kurang puas. Beberapa menit kemudian saya menelpon contact center kembali. Kali ini diterima oleh staf perempuan bernama Irene. Saya tanyakan kembali soal charge tersebut. Irene meminta waktu untuk menjawab. Setelah menunggu beberapa saat, Irene menjawab: bahwa tidak semua SPBU COCO Pertamina memberlakukan charge terhadap kartu kredit/debet konsumen. Artinya, kebijakan itu tidak seragam di SPBU COCO Pertamina. Hmmm…malah #mbuletwae

FORTUNE Global 500

Rasanya kontras banget dengan prestasi Pertamina yang masuk daftar 500 perusahaan kelas dunia versi Fortune Global 500, pada Juli 2013. Saat itu Pertamina berada di urutan 122 dengan revenue 70,9 miliar dolar AS dan profit sebesar 2,8 miliar dolar AS. Urutan teratas dipegang Royal Dutch Shell, sementara Exxon Mobil pada urutan ke tiga. China National Petroleum menyabet ranking ke lima. Sedangkan Petronas Malaysia berada pada urutan 75 dengan revenue 94,3 miliar dolar AS dan profit mencapai 16 miliar dolar AS.

Target Pertamina untuk menduduki posisi 50 besar perusahaan kelas dunia pada 2025 pun rasanya cebol nggayuh lintang. Karena harus bersaing dengan Petronas, Repsol (urutan 112), maupun Indian Oil – India di posisi 88. Kenapa sulit?

Menurut KataData, selama ini perusahaan minyak pelat merah itu tidak hanya fokus mengurusi industri hulu, tetapi juga hilir. Belum lagi, Pertamina dibebani tugas pemerintah untuk menjual bahan bakar subsidi dan elpiji bersubsidi. Pantes jadi bonsai terus ya? πŸ™‚

Kecuali, si bonsai (dipaksa) jadi astronot, numpak roket, pindah ke Curiosity, menjelajah Mars sambil memulung lintang (bintang) di angkasa. Biar ngurusin shift pegawai SPBU dan charge kartu tidak #mbuletwae πŸ˜€

Iklan

26 responses to “Ketika Pertamina Nggayuh Lintang

  1. Untung gak sido kerjo ndek pertaminyak

    #ngecerpremium

    Ndek pom bensin paling cedak soko omah malah ngeseli, buka jam setengah pitu… dadi nak budal kerjo lewat kono rung mbukak…
    gak niat bersaing babarblass

  2. komen serius ah.

    bensin/elpiji subsidi gak ada hubungannya dengan profit mas bro. pertamina tetap jual dengan harga sama, tetapi pemerintah membayar bagian subsidinya. jadi salah kaprah kalo gara-gara bahan bakar subsidi terus pertamina seperti dipasung.
    yang bikin cebol ya bukan karena gagal fokus industri hulu ke hilir segala macem, tetapi… aaah.. sudahlah…

    *ngitung amplop rongsok

  3. gunakan pertamax cuma slogan kosong
    di banyak spbu pertamina
    mau ngisi pertamax kudu ngantri suwe bareng yang beli premium
    buat spbu yang penting untung, the hell with kebangsaan

  4. Males ke Pertamina, kadang antrian Pertamax disamain sama Premium… Lebih nyaman di Shell. Misal isi full terus minta kita buletin nominal ke angka tertentu, ada tombolnya. Sedang di SPBU lain semisal Pertamina / Total gak ada, jadi petugas main feeling-feelingan…

    Itu baru dari segi pompa bensin, belum dari fasilitas lain semisal pompa angin ban atau toilet. Jauh lah kalau dibandingkan πŸ˜€

      • Hayoooo sopo mau sing nulis? Tanggung jawab πŸ™‚

        *jarang mlipir Total sekarang. Disparitas harga lumayan jauh dibanding Shell πŸ™‚

      • Tempo hari pas isi di Total Daan Mogot deket Grogol sih begitu, petugasnya cuma main feeling. Makanya males mampir lagi… Padahal Total 92 rasanya lebih enak dari Super, entah bener atau cuma perasaan? πŸ˜€

        • Iya. Total 92 terasa lebih ringan, kalau Shell 92 kerasa ngeden.
          Di SPBU Shell dispensernya ada tombol dengan ikon uang kertas. Dipencet kalau konsumen ingin harga pembulatan. Misal isi full tank, tapi karena konsumen lihat ‘uangnya’ di dispenser (dan tentu saja di dompet πŸ™‚ ) mendekati 50 ribu, maka dia tinggal bilang ke petugas, dan si petugas menekan tombol ikon uang kertas itu.

          Sedangkan di Total, sistemnya mungkin berbeda. Sedari awal kudu bilang mau isi berapa: 50, 100, 200 ribu. Soalnya dispenser Total setahu saya nggak ada tombol ‘pembulatan’ seperti Shell.

          Untuk pembelian BBM non-subsidi memang lebih enak dengan cara nilai mata uang, bukan dengan volume literan. Itu karena fluktuasi harga BBM non-subsidi yang kerap berubah.

    • ^ Curhatan pengguna pertamax.

      Idem Bro.. Isi BBM di Pertamina antrian motor di gabung untuk jenis premium dan pertamax. Ngelirik ke dispenser untuk pengisian non R2 yang ada 3 jenis BBM (Premium, Pertamax, Pertamax+) banyak yang kosong dgn petugasnya yg idle, kalaupun R4 ngisi BBM ya premium. Hadohhh..

      • Iya rasanya gimana gitu… Harusnya kalau mengajak orang isi Pertamax (tanpa si konsumen meminta keistimewaan) ya setidaknya dibedakan lah pelayanannya. Mengingat harga antara subsidi dan non subsidi yang terpaut jauh, kali aja nantinya orang pada mau beli pertamax dengan kelebihan pelayanan tadi…

        • Emmm. . . sebagian besar orang kita, sepertinya gak terlalu peduli soal layanan. Yang penting harga (BBM atau produk apapun) murah.
          Yang mendorong orang untuk menggunakan BBM non-subsidi (produk Pertamina terutama) yaitu mengilangkan disparitas harga yang terlalu jauh antara BBM non-subsidi dengan BBM subsidi.
          Sekarang perbedaan harganya saja sekitar 40%.

          Namun, lagi-lagi, siapa pemimpin negeri yang berani mengoreksi perbedaan harga ini?

          Lagi pula kebanyakan masyarakat kita (yang dibilang mampu) masih suka nenen ke bunda pertiwi kok :mrgreen:

          • Iya. Sering banget di pom bensin liat Fortuner atau Pajero masih pada nenggak Premium….

            Saya jadi kasian liat petani atau nelayan yang susah payah cari BBM, sekalipun ada kebanyakan harganya di atas pasaran karena jauh dari SPBU atau harus beli dari pengecer 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s