Tahi Kucing (di) Transjakarta


Melirik sepatu sendiripun begitu sungkan untuk dilakukan

transjak (6)

Namanya saja ruang publik. Umum. Tak selalu orang dapat mengontrol lingkungannya bukan?

Termasuk ketika di dalam bis Transjakarta yang saya tumpangi tadi malam.

Gerimis beruntai membasahi jalanan Ibu Kota. Bis Transjakarta jurusan Grogol – Kampung Rambutan berhenti di halte Slipi.

Malam kian larut. Hanya beberapa penumpang di bangku khusus wanita depan, sisanya di deret belakang.

Sebagian dari mereka hanyut dalam kesendirian masing-masing. Entah penat, atau nestapa ditinggal pacar. Ada juga yang berbincang dengan pasangannya. Seperti muda-mudi yang duduk di sebelah saya.

Seperti serokan raksasa, bis menjumput penumpang di setiap halte. Penumpang makin penuh, walau tak berdesakan.

Mulailah ‘kiamat kecil’ berdentang.

Entah sejak di halte mana, mendadak bau tahi kucing yang sangat menyayat hati hidung mulai semerbak mewangi. :mrgreen:

Para penumpang yang awalnya cuek, mulai resah. Ada yang berkali-kali mengusap hidung, ada yang celingak-celinguk gak jelas, bahkan ada yang duduknya gelisah:mirip orang bisulan di pantat. ๐Ÿ™‚

Penumpang saling melirik satu sama lain. Mencoba mencari dukungan untuk berkata “Yuk kita cari bersama siapa carrier tahi kucing ini?”.

Tapi siapa yang mau coba mencari secuil kotoran binatang bertaring yang baunya sungguh biadab itu?

Kegaduhan mini itu terus berlanjut hingga saya turun di halte UKI dan meneruskan perjalanan ke rumah menggunakan Bison bernomor punggung C56 UKI – Cileungsi.

Betapa nikmatnya menghirup udara malam, yang masih sedikit basah, dan terbebas dari polusi si tahi kucing.

Eh, ada yang pernah nginjak atau ngelindas tahi kucing gak? :mrgreen:

Iklan

19 responses to “Tahi Kucing (di) Transjakarta

  1. dulu depan pintu kost’an, ada ubin keramik yg copot pas mo ke wc subuh, ada ucing lg ee(tau dong posisi’y gimana) d ubin tadi..buka pintu…nengok polos sambil mringis senyum, lsg minggat dy..

  2. Mau bengi ono kucing ngising ndek keset ngarep lawang… kurang aajaaarrr… untung gak kepidek…
    sebelah omah pas ingonane kucing sak ndayakk… nak ngising seringe ndek omah’e tonggo….

    isuk2 bar subuh… taek kucing tak kirim balik ndek sebelah (kadung mangkel) padahal asline gak terbukti nak iku taek’e kucing sebelah… tapi berhubung sering nontok kucing sebelah ngising ndek omahku …langsung tak suntek taek mau ndek pekarangan sebelah…ambusono kono taek kucing…

  3. kasihan kucing yang jadi sasaran, alangkah malangnya hewan mungil nan lucu itu.

    padahal si Felis domestica sudah terkenal gemar mengubur dalam-dalam tahinya.

    ini pasti ulah Canis domestica yang buang tahi sembarangan. mari kita pukuli dan kita makan di lapo terdekat agar tidak sembarangan lagi buang tahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s