Anyer: Di Antara Pecinta dan Pelara Hati


Seperti laron dan kunang. Cahaya menarik mereka dalam lenguhan senja.

image

S.U.A.R

Tuan, lampu suar telah dinyalakan.
itu pertanda geliat petang.
Tuan, warung-warung berderak dalam temaram.
itu penanda Si Inah tengah gelisah.

image

Tuan, lampu-lampu dermaga berderet laksana kunang.
itu petunjuk Si Ujang mulai menerawang.
Tuan, air asin kian meninggi, ombak menggapai-gapai ujung bumi.
itu lelaku berahi, surga duniawi.

image

Tuan, pagar-pagar karang itu tak tahan lagi.
Tuan, pasir-pasir pantai tak mampu berlari kembali.

image

Tuan, jarit, kemben, kainku meliuk hingga ke ujung kaki.
Tuan…. . . . .

*****

Anyer 10 Maret – Slank

Malam ini
Kembali sadari aku sendiri

Gelap ini
Kembali sadari engkau telah pergi

Malam ini
Kata hati harus terpenuhi

Gelap ini
Kata hati ingin kau kembali

Hembus dinginnya angin lautan tak hilang ditelan bergelas-gelas arak yang kutenggakkan…ooo….

Malam ini
Kubernyanyi lepas isi hati

Gelap ini
Kuucap berjuta kata maki

Malam ini
Bersama bulan aku menari

Gelap ini
Ditepi pantai aku menangis

Tanpa dirimu dekat dimataku
Aku bagai ikan tanpa air
Tanpa dirimu ada disisiku
Aku bagai hiu tanpa taring
Tanpa dirimu dekap dipelukku
Aku bagai pantai tanpa lautan
Kembalilah…kasih ooo
Kembalilah kasih

Posted from WordPress for Android

Iklan

14 responses to “Anyer: Di Antara Pecinta dan Pelara Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s