Pernyataan Sikap OBI & Renungan Soal Safety


Photo-0075

Tantangan terberat dalam ‘berdakwah’ soal safety – dan apapun yang berkaitan dengan kebiasaan yang benar, bukan membenarkan yang biasa – sejauh ini, menurut saya, ada di dalam diri sendiri, yang jika direntang sedikit luas: keluarga.

Begitu banyak peristiwa kecelakaan di sekitar kita, baik yang ada di media massa atau sekeliling tempat tinggal: dari sekadar terselomot knalpot panas, lebam di siku atau lutut, terpeleset karena ban kendaraan gundul, rantai putus, rem blong, hingga berbagai kecelakaan menyedihkan yang beritanya ada berturut-turut di media massa.

Dan…seperti biasa, kita pun memaki bersama di media sosial. Entah di Facebook , Twitter, atau blog. Beramai-ramai menuding Si Ucok gagal ngerem karena bisnya bobrok, jarang dirawat. Memaki Si Lutungs dari Dinas Anu yang gak pernah beres mengatasi uji kelayakan kendaraan. Mengumpat Si Joko dari korps coklat yang tak kunjung berani menindak tegas. Membully cak artis yang ‘membolehkan’ si bungsu nyetir, ngebut, dan membuat celaka banyak orang.

Dan lain-lain, dan sebagainya, dan kawan-kawan…

Begitu balik ke rumah, tanpa dosa yang berkeadilan, kita biarkan kendaraan kita tak terawat, padahal tergolong mampu secara ekonomi:setang mleyot tak karuan, mesin oplok-oplok didiamkan, helm sekenanya – atau tak pakai helm ketika berkendara dengan alasan beraneka rupa, mengajari dengan rasa bangga anak-anak kecil naik motor dan membiarkan mereka ngebut di dalam komplek atau perkampungan, membiarkan anak-anak yang belum pantas naik kendaraan pribadi ugal-ugalan di jalanan sekolah.

Dan lain-lain, dan sebagainya, dan kawan-kawan…

Begitu sulitnya kita, ketika harus ‘bersitegang’ dengan saudara, orang tua, mertua, kakak, adik, ipar, untuk bersikap dan berbudaya selamat. Tak mempan dengan imbauan teori dan akibat nyata dari perilaku tidak safety itu.

Ban gundul dianggap biasa, asal masih bisa ngglundung. Spion kecil – yang hanya cukup untuk melirik ketek, bahkan secuil sikut, dipandang praktis. Helm? Malesnya minta ampun. Lha wong dekat? Cuma di warung seberang. Halaaah, nganter emak di toko Babah Ong doang.

Disuruh pakai safety belt di baris ke dua dan ke tiga, alesannya macam-macam: nggak bebas bergeraklah, kejepitlah, dan lah-lah yang lain – padahal safety belt modern itu fleksibel, mengikuti gerak tubuh, dan hanya bekerja ketika ada sentakan spontan.

Dan lain-lain, dan sebagainya, dan kawan-kawan…..

DSC04146

Itu sih yang ada di lingkungan terdekat saya. Keluarga saya. Hidayah memang bukan milik kita yang bisa dipaksa masuk ke raga seseorang. Tapi, setidaknya, kita (saya) masih punya harapan terhadap anak-anak saya kelak. Karena anak bakal lebih mudah mencontoh – yang baik dan buruk, dari sekelilingnya (orang tuanya terutama). Mulai dari yang kecil saja dulu. Mengajari menyeberang di zebra cross, menggunakan helm ketika berkendara, dan semacamnya.

Dan itu sebenarnya soal pilihan. Mau dan mampu memberikan contoh atau tidak. Baik atau buruk, si penanggung terberat yang melakoni bukan?

Apa yang tertulis di bawah ini, semoga menjadi pengingat diri di kemudian hari.

PERNYATAAN SIKAP OTO BLOGGER INDONESIA

Jakarta, 9 September 2013.

Minggu (8/9), publik kembali diguncang dengan kecelakaan maut yang menewaskan enam orang di kilometer 8, jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, sekitar pukul 00.30 WIB. Menurut berita yang dimuat sejumlah media, kejadian tragis itu dipicu ketika sebuah mobil Mitsubishi Lancer Evo X yang dikemudikan oleh AQJ (13) hilang kendali. Sedan tersebut kemudian menabrak pagar pembatas jalan tol dan dua mobil (Toyota Avanza dan Daihatsu Granmax) yang datang dari arah berlawanan.

Terkait dengan kejadian tersebut, Oto Blogger Indonesia (OBI) menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Keprihatinan mendalam terhadap tragedi di jalan tol Jagorawi, semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kejadian ini.
  2. Mendesak aparat penegak hukum menuntaskan perkara kecelakaan tersebut sesuai dengan hukum dan undang-undang. Hal ini tidak lepas dari salah satu fungsi hukum: memenuhi rasa keadilan dan memberikan efek jera.
  3. Menghimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua agar tidak memberikan izin mengendarai sepeda motor atau mobil kepada anak di bawah umur (belum memiliki SIM).

Oto Blogger Indonesia  (OBI)

Iklan

2 responses to “Pernyataan Sikap OBI & Renungan Soal Safety

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s