Wahyoe di Kampoeng Soenoe


ilustrasi wahyoe cakraningrat

“Pak lurah sing anyar apik. Teges. Kampunge dadi resik, tertib. Wis jan, kondisine saiki kuwalik-walik mas. Bener ujarane simbah, sopo salah bakal seleh”.

Suara di seberang telepon itu begitu bersemangat mengabarkan kondisi kampungnya terkini. Sudah lama saya tak bersua dengan Pak Soenoe, nama pria paruh baya di ujung telepon sana. Lelaki yang setia dengan ejaan lama ketika menulis di buku tamu, amplop undangan, dan daftar hadir di rapat-rapat RT dan pengajian di kampung kami.

Intinya Pak Soenoe mengabarkan kondisi kampungnya yang kini resik tertata apik. Itu semua berkat kerja keras lurah baru hasil pilihan warga kampung beberapa waktu lalu.

Saya pun mengenang kampung Pak Soenoe bertahun lampau.Lingkungannya tak terawat, jalanan rusak, warganya apatis, lebih suka nggosip di pos ronda menghabiskan malam, ibu-ibunya doyan rerasan sambil nonton sinetron siang-malam, seneng congkrah. Sudah tiga lurah berganti, tapi kampung itu tetap tak ada perubahan. Mandeg.

Tiba-tiba saya teringat dengan lakon klasik  ‘Wahyu Cakraningrat’. Syahdan, tiga kerajaan besar berusaha mendapatkan Wahyu Cakraningrat, wahyu wijining ratu, wahyu pewaris tahta kerajaan. Siapa yang kewahyon, maka keturunannya kelak akan menjadi raja-raja di Nusantara.

Maka berangkatlah Raden Lesmana dari Kerajaan Astina menuju Alas Krendhawahana dikawal pasukan terlatih Astina bersenjata lengkap. Maklum, Krendhawahana kondang sebagai hutan paling spooky sejagad.  Alas nan angker gung liwang-liwung gawat keliwat-liwat, janma mara janma mati, sato mara sato mati: siapa masuk hutan berakhir kematian.

 Kepergian Lesmana, tak lama kemudian diikuti Raden Samba dari Dwarawati yang dikawal pamannya, Setyaki dan Patih Udawa, yang keduanya terkenal sakti mandraguna. Pengawalan paman dan patih yang digdaya itu dirasa perlu, karena di hutan angker tersebut bersemayam Betaria Sonata, eh, Betari Durga yang bengis tak terkira dan luar binasa ganas.

Menyusul dua saudaranya, Raden Abimanyu dari Kerajaan Amarta pun berangkat untuk mendapatkan pulung keprabron itu. Abimanyu ditemani punakawan setia:Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Sepertinya, Abimanyu lebih enjoy-ride dibanding Lesmana atau Samba🙂

Setelah berbulan-bulan bertapa, akhirnya di sepertiga malam, di atas langit Krendhawahana muncul sinar putih kebiruan yangmeluncur turun. Itulah Wahyu Cakraningrat yang diimpikan tiga penerus kerajaan itu.

Pulung raja itu pun bersemayam di jasad Lesmana. Merasa mendapat anugerah, Lesmana menyudahi tapa dan mengajak pasukan kerajaan pulang dan berpesta pora merayakan kesuksesan. Akibatnya tak diduga, Wahyu Cakraningrat, langsung meninggalkan tubuh Lesmana yang kemudian terjerembab dan lemas tak berdaya.

Wahyu Cakraningrat kemudian menclok di raga Samba, yang kemudian putra mahkota Dwarawati ini menyudahi semedinya. Namun, Betari Durga tak terima dengan situasi ini. Apalagi Samba telah berhasil mengalahkan prajuritnya di hutan angker tersebut.

Betari Durga kemudian malih rupa menjadi wanita cantik, semok, semlohai, seksi, dan mollig (sintal:Bahasa Belanda). Digoda sedemikian rupa, akhirnya Fathanah, haiyah, Raden Samba pun takluk, dan mencumbu wanita ayu jadi-jadian itu serasa bini sendiri.

ilustrasi betari

Akibatnya fatal, Wahyu Cakraningrat mencelat dari tubuh Samba, yang sekejap kemudian lemas terduduk lesu, kehabisan tenaga usai bercinta dengan jelmaan Betari Durga. Kecewa jelas terpatri di wajah Samba, pamannya, dan patihnya. Tapa brata berbulan-bulan di alas wingit akhirnya sia-sia.

Kini Wahyu Cakraningrat pun manjing ke badan wadag Abimanyu. Usai bersemedi Abimanyu pun dinasehati oleh Semar agar berhati-hati dalam menjaga wahyu sakral tersebut. Seperti Samba, Betari Durga pun mulai menggoda Abimanyu. Demikian pula para raksasa di Hutan Krendhawahana yang demikian tak kenal lelah menahan langkah Abimanyu keluar alas nan angker itu.

Singkat cerita, Raden Abimanyulah yang ditakdirkan mendapat Wahyu Cakraningrat. Parikesit, anak semata wayangnya dari Dewi Utari, kelak menjadi raja Astina, dan konon merupakan cikal bakal raja-raja Nusantara🙂

***

Dalam Serat Pararaton (Kitab Raja-raja) yang diduga ditulis pada abad 14, terdapat kisah Ken Arok yang berambisi untuk mempersunting Ken Dedes. Karena dia tahu, Wahyu Cakraningrat ‘dipangku’ Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Akhirnya Ken Arok menjadi raja pertama kerajaan Singasari bergelar Rajasa. Dinasti Rajasa inilah yang menurunkan raja-raja Singasari dan Majapahit. Bahkan raja-raja Demak, Pajang, dan Mataram Islam merupakan keturunan Dinasti Rajasa.

Cukup banyak kisah, terutama suksesi kerajaan di Jawa, berkaitan dengan wahyu keprabon. Salah satu cerita yang populer yaitu wahyu keprabon yang bersemayam di dalam degan (kelapa muda) di kebun milik Ki Ageng Giring.

Namun takdir berkata lain. Walau degan itu sudah dipetik dan dikupas oleh Ki Ageng Giring, namun yang meminumnya sampai habis adalah Ki Ageng Pemanahan, sahabatnya sendiri. Pasrah oleh kehendak Illahi, Ki Ageng Giring akhirnya memohon agar anak keturunannya yang ketujuh dapat menjadi Raja Mataram.

Sejarah membuktikan, Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan menjadi raja pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati. Sedangkan raja ketujuh Mataram, Pangeran Puger, yang bergelar Pakubuwono I merupakan keturunan Ki Ageng Giring.

***

“Mas, mas, sampeyan taksih mireng? (mendengarkan),” ucap Pak Soenoe di ponsel yang saya genggam. Buyar sudah lamunan saya. Dengan sedikit tergagap saya lanjutkan obrolan dengan Pak Soenoe. Berjejer pertanyaan masih menggantung di kepala. Percakapan saya dengan Pak Soenoe pun lebih kepada basa nan basi, kembang lambe lama tak bersua.

***

sunset pantai penyusuk

Benarkah pemimpin itu diciptakan? Atau dia dilahirkan? Seperti apa pemimpin itu diharapkan publik? Sampai kapan warga menunggu munculnya pemimpin yang sanggup membenahi kualitas sosial dan lingkungan sekitarnya?

Sepertinya warga kampung Pak Soenoe telah mendapatkan degan yang sekian lama dinantikan🙂

17 responses to “Wahyoe di Kampoeng Soenoe

      • nih baru riset internet yak, blom sampe riset pustaka

        Panakawan berasal dari dua kata, pana dan kawan. “Pana berarti mumpuni, sedangkan kawan dapat berarti seseorang yang cukup dikenal,” tulis Trias Yusuf, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dalam “Panakawan Dalam Tradisi Kesenian Pesisir Jawa”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara. Menurutnya, istilah ini baru muncul pada masa Yasadipura abad ke-18 di Surakarta. Istilah yang sepadan dengan panakawan tersua dalam Kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kediri (1104-1135).
        Memasuki masa kesultanan Islam, para wali mengenalkan para pengiring dengan bentuk dan fungsi yang berbeda itu ke dalam wayang. Menurut Ronit Ricci, peneliti pada Universitas Michigan, dalam “Conversion to Islam on Java”, Jurnal KITLV, Vol. 195 No. 1 (2009), “Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sering dianggap perekacipta pengiring tersebut dalam pertunjukan wayang.” Kedua sunan di tanah Jawa ini membalut kisah Ramayana, Mahabarata, dan Sudamala dengan ajaran Islam. Padahal, kisah Ramayana dan Mahabarata versi India sama sekali tidak menyertakan pengiring untuk tokoh utamanya. Apalagi sampai yang berbentuk aneh.
        Selain Semar, pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak-cum-kritikus. Sebab, lawakan mereka hanyalah alat penyampai kritik sang pujangga atau dalang. Gambaran tokoh ini semakin banyak ditemukan dalam karya-karya sastra masa Yasadipura seperti Wedatama. Mereka kemudian dikenal dengan nama panakawan.
        http://historia.co.id/?d=1014

        Sax The Jiwo ‏@sudjiwotedjo 18 Sep 10
        2.Panakawan sering disalahkaprahkan jd punakawan.Tepatnya Pana=menerangi.Kawan ya kawan.Kawan yg menerangi kita sbg majikan #panakawan
        🙂🙂🙂🙂🙂

  1. Tidak jauh berbeda dengan karakter Lesmana, Raden Samba juga tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Samba dikenal sebagai putera raja yang arogan. Seperti halnya Lesmana, Samba pun bertapa di hutan untuk mendapatkan wahyu. Ketika sang wahyu datang menghampirinya, Samba lengah mengontrol hawa nafsunya. Lagi-lagi kehadiran puteri Pamilutsih menggoda Samba, sampai akhirnya sang wahyu pergi.

    • Menawi Mbah Bei meniko demit mboten ndulit, setan tansah mboten doyan. Nanging remen numpak jaran goyang saking pabrik kidul lepen🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s