Jakarta, Al-Jumu’ah, dan Infrastruktur Jalan


Tak ada jaminan menua kian dewasa. Usia adalah keniscayaan, sementara dewasa merupakan pilihan. Tapi, seperti apa kedewasaan itu? Apakah tercermin dari setelan formal jas, dasi, dan sepatu pantofel dalam kubikel-kubikel ruang miting yang mirip petak sawah? Ataukah seperti ruang kerja-kreasi Googleplex di Santa Clara, California, yang pernah dinobatkan sebagai tempat kerja terbaik di dunia?

Ah, Jumat pagi, sehari sebelum weekend ini, tak pantaslah saya memberati pikiran kawan semua yang merindu ceria. Sambil menyeruput teh kampung dan menelusur sabak digital, saya menemukan tulisan yang menggetarkan dari Muhaimin Iqbal di sini.

Pak Iqbal, demikian dia biasa disapa, dikenal sebagai pakar ekonomi (terutama asuransi) syariah sejak 1987. Sejak 1998, dia memutuskan menjadi pengusaha mandiri. Entrepreneur istilah kerennya. Spesialisasinya “berdagang” dinar, sebagai ikhtiar mengembalikan kejayaan ekonomi umat dari jeratan riba.

Kebetulan saya pernah mengikuti kuliah wirausaha di masjid komplek rumahnya, kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu silam. Memang selain dikenal sebagai pengusaha, Iqbal, juga kerap berdakwah, baik secara online maupun offline.

Tulisan-tulisannya selalu memberikan perspektif lain dalam menafsirkan kitabullah. Reflektif. Menarik kita ke masa lalu, sebuah masa yang sebenarnya bisa menjadi cermin masyarakat modern. Bukankah sejarah selalu berulang?

Ini salah satu tulisannya. Saya kopi utuh agar kawan semua makin hemat pulsa data. Selamat ulang tahun Jakarta. Apakah engkau sudah dewasa?

Bertebaranlah di Muka Bumi…

Friday, 22 June 2012 06:22
Oleh : Muhaimin Iqbal

Dua hari lalu saya seharusnya melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk melihat langsung prestasi petani singkong di sana. Di tengah jalan saya terpaksa putar balik tidak jadi melanjutkan perjalanan karena selepas pintu tol macet total, selama satu seperempat jam mobil hanya bergerak sekitar 3 km.

Hari itu saya gagal melaksanakan perintah ‘bertebaranlah di muka bumi…’, padahal ini terkait langsung dengan dua perintah berikutnya yaitu ‘ carilah karunia Allah…’ dan ‘ingatlah Allah banyak-banyak…’. Ketika perintah gagal dilaksanakan, maka hasil berupa ‘…agar kamu beruntung’ juga gagal diperoleh.

 

Perintah dan reward-nya tersebut di atas terangkai dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10. Kegagalan saya melaksanakan perintah tersebut pada hari itu membuat saya kehilangan ‘keberuntungan’ untuk bisa melihat dan belajar langsung dari para petani yang berhasil di sana. Bukan hanya saya, tetapi juga para petani, pemilik lahan, warung-warung di sekitar lokasi dlsb. semuanya terpengaruhi keberuntungannya.

 

Sementara ini saya masih trauma untuk melakukan perjalanan lagi ke sana, niat untuk menyewa lahan dan bertani di daerah tersebut terpaksa harus dialihkan ke daerah lain yang lebih terjangkau atau lebih baik infrastruktur jalannya. Kalau dalam kasus ini saya memiliki pilihan  untuk berbalik arah, karena memang masih banyak daerah lain yang bisa ditanami singkong – maka ini pulalah yang kurang lebih terjadi mengapa investor-investor asing tidak banyak yang mau berinvestasi di negeri ini.

 

Ketika mereka datang hendak berinvestasi disini dan menjumpai infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara udara, perijinan dlsb. yang rata-rata ruwet dan mengalami kemacetan di sana-sini – mereka juga akan dengan mudah memutuskan untuk balik arah, tidak jadi berinvestasi di negeri ini dan mengalihkan investasinya ke negeri-negeri lain yang lebih baik infrastruktur-nya dlsb.

 

Itu bagi yang punya pilihan, bagaimana dengan jutaan orang yang tidak punya pilihan ?. Setiap hari harus bekerja ke kantor sementara setiap hari pula kemacetan terus bertambah parah. Maka tidak heran bila sampai ada dua warga Jakarta yang menuntut gubernurnya dan sekaligus presidennya karena masalah kemacetan yang tidak kunjung teratasi ini.

 

Dua warga Jakarta yang mengajukan tuntutannya melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut bahkan siap dengan berbagai data yang sudah diriset lumayan baik – antara lain sebagai berikut :

 

  • Setiap tahun warga Jakarta dan sekitarnya membelanjakan Rp 55 trilyun untuk bahan bakar, 10 % diantaranya menjadi pendapatan daerah.
  • Setiap tahun warga Jakarta menghabiskan waktu di jalan yang setara dengan 1 bulan penuh !.
  • Setiap tahun warga Jakarta menghabiskan waktu di jalan yang setara dengan tiga bulan waktu kerja efektif !.

 

Maka dari data-data di atas sekarang dapat kita lihat lebih jelas kaitan langsung antara kelancaran manusia untuk bisa ‘bertebaran di muka bumi’ dengan ‘keberuntungannya’. Betapa banyak kita kehilangan keberuntungan kita karena kita gagal melakukan perjalanan untuk ‘…bertebaran di muka bumi…’ dengan lancar.

 

Siapa yang layak bertanggung jawab untuk masalah ini ?, utamanya tentu para pemimpin. Gubernur DKI Jakarta dan Presiden seharusnya berterima kasih dengan adanya tuntutan masyarakat tersebut di atas, ini menjadi pengingat bagi mereka selagi masih di dunia.

 

Pertanggung jawaban di akhirat akan lebih berat sebagaimana yang diungkapkan oleh Umar bin Khattab : “seandainnya ada keledai yang jatuh dari atas gunung di kawasan Irak sehingga patah kakinya, pasti Allah swt meminta pertangungjawaban saya (Umar) karena tidak membuat jalan untuk dilintasi keledai tersebut”; dan dalam kesempatan lain Umar juga mengungkapkan “kalau kambing tersasar dan hilang di pingiran sungai Efrat, maka Umar akan bertanggung jawab pada hari akhirat”.

 

Mungkin para pemimpin negeri ini merasa kemacetan lalu lintas yang melanda di hampir seluruh daerah adalah hal biasa, mungkin juga masyarakat dianggap sudah terbiasa dengan hal ini, bisa jadi pula mereka menyerah dengan permasalahan yang ada. Tetapi mereka tetap tidak bisa mengelak dari tanggung jawab ini. Siapa lagi kalau bukan mereka yang bisa memimpin masyarakat untuk mengatasi masalahnya ?, merekalah yang berwenang untuk membuat kebijakan dan berwenang mengawasi implementasinya di lapangan sampai sedetil-detilnya.

 

Untuk kemacetan di Sukabumi seperti kasus saya tersebut diatas misalnya, tidakkah ada kebijakan dari pemerintah daerahnya untuk mengatasinya ?. Tidakkah ada polisi yang ditugasi untuk mengawasi setiap ruas jalan dan khususnya pada persimpangan yang rawan macet ?. Tidakkah ada kebijakan untuk melarang pedagang pasar meluber sampai ke bahu jalan ?. Di jaman teknologi ini, bahkan polisi pasti bisa memonitor ruas-ruas jalan yang rawan macet secara real time dan mengambil tindakan tepat yang diperlukan untuk menguraikannya.

 

Well , itu kan pendapat kita rakyat yang menuntut semuanya harus serba bisa dilakukan. Para pemimpin dan aparatnya pasti juga punya alasan bahwa semua sudah dilakukan dan pasti mereka merasa sudah berbuat maksimal. Tetapi realitanya kemacetan terus bertambah buruk bukan sebaliknya, masyarakat terkendala untuk bisa melakukan perjalanan ‘bertebaran di muka bumi’ dengan lancar, sehingga keberuntungan mereka-pun menjadi tambah seret karenanya.

 

Masih ada satu lagi jalan, yaitu berbuat yang kita bisa. Baik ini dalam skala individu maupun dalam skala komunitas, skala perusahaan , institusi dlsb. Saya memutar balik pada perjalanan tersebut di atas karena saya merasa ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan saya – saya tidak harus ke Sukabumi, saya juga berharap bahwa hari itu berkurang satu mobil dalam antrian panjang.

 

Bayangkan kalau sebagian masyarakat terus mengambil sikap yang sama, setiap diri kita bisa menjadi faktor pengurang masalah yang ada, dan syukur-syukur kalau malah bisa menjadi bagian dari solusinya.

 

Hampir seluruh pekerjaan bisa dilakukan dengan  menggunakan teknologi di jaman ini, maka ‘bertebaran di muka bumi’ itu kini sebagiannya bisa dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Tinggal kemauan kita untuk mulai melakukannya. Bila kesadaran ini nantinya meluas, maka yang ada di jalan-jalan seharusnya hanya yang memang benar-benar memerlukan kehadiran fisik seperti pengiriman logistic, layanan kesehatan dlsb.

 

Bila sebagian masyarakat mau ‘bertebaran di muka bumi’ melalui teknologi, sebagian lain yang memang harus melakukannya dengan fisik  insyaallah bisa  lancar – karena berkurangnya kepadatan lalu lintas.

 

Bisakah ini dilakukan ?, insyaallah bisa – bila ada kemauan pasti ada jalan, man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan mendapatkannya.

19 pemikiran pada “Jakarta, Al-Jumu’ah, dan Infrastruktur Jalan

  1. Pass banget nih om kita harus saling berbagi.. Ada yang mau Gorengan?? Ni ane punya’ ni… hehehe.. Biar semangat!!

  2. Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe.. 😛

  3. Reblogged this on SuaraJakarta.com and commented:
    Tak ada jaminan menua kian dewasa. Usia adalah keniscayaan, sementara dewasa merupakan pilihan. Tapi, seperti apa kedewasaan itu? Apakah tercermin dari setelan formal jas, dasi, dan sepatu pantofel dalam kubikel-kubikel ruang miting yang mirip petak sawah? Ataukah seperti ruang kerja-kreasi Googleplex di Santa Clara, California, yang pernah dinobatkan sebagai tempat kerja terbaik di dunia?

    Ah, Jumat pagi, sehari sebelum weekend ini, tak pantaslah saya memberati pikiran kawan semua yang merindu ceria. Sambil menyeruput teh kampung dan menelusur sabak digital, saya menemukan tulisan yang menggetarkan dari Muhaimin Iqbal di sini.

    Pak Iqbal, demikian dia biasa disapa, dikenal sebagai pakar ekonomi (terutama asuransi) syariah sejak 1987. Sejak 1998, dia memutuskan menjadi pengusaha mandiri. Entrepreneur istilah kerennya. Spesialisasinya “berdagang” dinar, sebagai ikhtiar mengembalikan kejayaan ekonomi umat dari jeratan riba.

    Kebetulan saya pernah mengikuti kuliah wirausaha di masjid komplek rumahnya, kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu silam. Memang selain dikenal sebagai pengusaha, Iqbal, juga kerap berdakwah, baik secara online maupun offline.

    Tulisan-tulisannya selalu memberikan perspektif lain dalam menafsirkan kitabullah. Reflektif. Menarik kita ke masa lalu, sebuah masa yang sebenarnya bisa menjadi cermin masyarakat modern. Bukankah sejarah selalu berulang?

    Ini salah satu tulisannya. Saya kopi utuh agar kawan semua makin hemat pulsa data. Selamat ulang tahun Jakarta. Apakah engkau sudah dewasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s