Gardening: Pikiran Jadi Hening dan Bening


image

Tak dinyana, biji-biji rambutan yang iseng ditanam anak saya di halaman depan tumbuh menjadi bakal pohon. Di sebelahnya, buah bintaro yang saya masukkan ke lubang biopori muncul menjadi cikal pohon.

Jika tidak dipindah, nanti akan membesar dan tidak teratur lokasinya. Dicongkel lalu dibuang? Astagfirullah, nurani saya terlalu halus untuk perbuatan keji seperti itu :-)

image

Ok, saatnya gardening. Beli polybag, sekam bakar, dan pupuk kandang. Bakal pohon bintaro yang ada di lubang biopori saya congkel perlahan. Bersama tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang dimasukkan ke polybag.
image

Begitu pula dengan 3 bakal rambutan dan 1 tunas kuping gajah. Tanah saya ambil dari lubang biopori lawas yang sampah organiknya sudah menjadi kompos. Lubang biopori itu saya buat 6 bulan lalu.

image

Tiga lubang biopori lainnya, sudah penuh dengan sampah organik sisa dapur dan makanan. Bagian atasnya, saya beri lapisan tanah tipis, dan di atasnya ditutup polybag rambutan. Nantinya, sampah organik itu akan menjadi kompos dalam 2-3 bulan.

image

Karena taman saya cuma seuplik, untuk sementara rambutan dan bintaro itu bersemayam di polybag. Sambil mencari lahan, lokasi, dan orang yang mau merawatnya agar menjadi pohon seutuhnya.

image

image

Menjelang sore, gardening pun usai. Sembari nyeruput teh tubruk dan tape goreng tepung bikinan sendiri, memandang secuil taman hijau memang bikin pikiran hening dan bening. :-)

About these ads

14 responses to “Gardening: Pikiran Jadi Hening dan Bening

  1. perbuatan keji ??
    wekekekek…
    ndongkel’e karo moco bismillah paklik…

    imho, tanaman dari biji, gedhene kurang cepet nak dibanding karo pembiakan via jaringan kultur… dadi sing sabar yo ngenteni nguwoh’e
    wkwkwkwkwkwk…

    ndek komplekku nandur jati, sing via jaringan kultur cepet gedhe, tur batang’e lurus… lha sing biasa, tukul’e lambat tur wit’e pathing plengkung

    • Memang, taneman dari biji memang lebih lambat tumbuhnya. Itu pasti. Saya hanya berusaha “menyelamatkan” biji yang terlanjur tumbuh. Kasihan kalau disia-siakan. Sejujurnya, saya terinspirasi Komunitas Ciliwung yang secara berkala memulung bibit di bantaran sungai untuk dibudidayakan. Rencananya sih akan saya sumbangkan ke komunitas tersebut. Melok nyumbang uwit jati po? :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s