Karena Ruang Publik Makin Seuplik


image

Minggu pagi di Jakarta Timur.
Demi aktivitas: senam, kungfu, main bola, atau sekadar mengirup aroma matahari pagi. Warga terpaksa harus “simbiosis mutualisme” dengan “lahan” yang masih ada.

image

image

Ada yang kangen lapangan rumput?

10 responses to “Karena Ruang Publik Makin Seuplik

  1. Ndek komplekku ono akeh lapangan lan taman… maklum komplek lumayan lawas..
    Sing paling gedhe iso digawe balbalan….

    Akhir2 iki kuatir, mergo developer komplek sebelah arep’e ngelobi, jange didadekno sekolahan…. jiannnn

    saiki taman2 ndek nggonku status’e wis P2B

      • yo mergo ono bocoran berita2 sing arep ndadekno taman-taman mau dadi bangunan….
        wedhine moro2 ono wong sing nggowo sertifikat, terus ngaku2 nak taman mau dadi duwek’e, terus didadhekno sekolah, apartement, gedung DPR (WC-ne thok)…

        akhir’e wong2 RW ngusulno, dimajukno nek pemda… ben berada dalam pengawasan pemda sebagai fasum.
        (tapi mboh maneh nak walikotane koplak… terus didol…wekekek)

        aku dudu satpol PP… tapi KAMRA…😀

        • Waaaa, betul betul sekali. Memang seharusnya fasos-fasum keberadaannya harus diketahui dan tercatat di dinas pemerintah terkait. Demi menghindari maling tanah. Sebenarnya, pihak developer yang melaporkan dan mengurus lahan fasos-fasum itu. Kenapa kebanyakan pengembang tak melaporkan lahan umum itu? Kuat dugaan, di kemudian hari lahan yang menjadi hak warga itu dijual lagi. Antisipasinya ya benar seperti yang sampeyan dan warga lakukan, melaporkan lahan fasum-fasos ke P2B. Mantap!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s