Petruk Dadi Ratu Blogger


Syahdan, Abimanyu, putra Arjuna, menderita sakit. Satu demi satu, ketiga wahyu yang selama ini bersemayam di dalam dirinya pergi. Wahyu makutha raja, wahyu hidayat, dan wahyu cakraningrat. Pewaris Astina ini semakin gering. Padahal, dialah nantinya, sebagai perantara kepada Parikesit, anaknya, menjadi pewaris dampar (tahta) Palasara, Kerajaan Astina.

Bagi seorang raja, ketiga wahyu itu teramat penting. Wahyu makutha raja misalnya, menegaskan bahwa keturunan dialah yang berhak menjadi raja. Wahyu hidayat, adalah ilmu pengetahuan, sementara wahyu cakraningrat, berperan menjaga keberadaannya sebagai ratu.

Ealah, kersaning Gusti Allah, ketiga wahyu teramat sakral itu manjing ke tubuh Petruk, abdi dalem setia, kawula alit, rakyat biasa yang selama ini setia melayani keluarga Pandawa.

Walau, sejatinya, Petruk itu juga seorang sakti mandraguna, anak Begawan Selantara. Dulu, dia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Akibat gemar adu tanding, dan berkelahi melawan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba, perawakannya yang ganteng babak belur menjadi jelek dan berubah nama menjadi Petruk. Sementara Bambang Sukodadi malih rupa menjadi Gareng.

Zing! Ketiban wahyu super banget itulah, Petruk bertiwikrama menjadi ratu dengan gelar Prabu Wel-Geduwel Beh. Raja baru sakti mandraguna ini memerintah negara yang dia namakan Lojitenggara.

Namun, kesaktian super saja tidak cukup. Ratu anyar ini membutuhkan singgasana Kerajaan Astina. Kepada dua patihnya, Bayutinaya dan Wisandhanu, diperintah mencuri dampar istana itu.

Setibanya di negara Lojitenggara, dampar Astina langsung diduduki Prabu Wel Geduwel Beh. Namun tak berhasil. Tiap kali sang prabu berusaha duduk, selalu terjungkal. Begitu berkali-kali sampai ratu baru itu menyerah.

Akhirnya dia memperoleh wisik, untuk berhasil duduk di singgasana harus mencari boneka yang bisa ditimang-timang. Petruk raja baru itu menyuruh dua ajudannya mencari boneka yang dimaksud.

Ternyata, Gusti Allah, mentakdirkan bahwa boneka yang dimaksud itu adalah Abimanyu yang sedang sakit parah. Ketika ksatria gering itu dipangku Prabu Wel Geduwel Beh, Abimanyu sembuh seketika. Dan saat itu juga, Prabu Wel Geduwel Beh, bisa menduduki singgasana Astina.

Kata Abimanyu,”Ini memang sudah takdirku, jika kamu tak bisa duduk di tahta tanpa memangku aku.”

Cling! Prabu Wel Geduwel Beh seketika berubah menjadi Petruk. Ketiga wahyu kedaton itu kembali ke Abimanyu. Wahyu itu ternyata mengembara untuk mencari tahu siapa orang yang tepat untuk menjadi raja?

Ternyata, Petruk, representasi rakyat, kawula sandal jepitlah, yang menentukan raja sesungguhnya. Wahyu keraton itu hinggap pada orang yang pantas. Sebagai kawula, tugas Petruk hanyalah memangku raja, agar dapat menduduki tahta sebagaimana mestinya. Raja itu tidak akan bisa menjadi penguasa jika tidak tidak dipangku oleh rakyat.

Begitu beratnya amanah yang disandang raja. Tidak seperti kere munggah bale. Lupa asal usulnya. Kalau dia mendapat kekuasaan karena dipangku rakyat. Kalau raja ngeyel dan adigang-adigung adiguna, maka siap-siap saja dia bakal ditinggal wahyu kedaton.

“Lho! Pendukung dan pembela saya banyak kok Pak Manteb!,” kata Petruk blogger dengan nada marah.

Ki Dalang Setdah, balik menghardik,”Mana buktinya? Lha wong rakyatmu itu 99% anonim. Mungkin cuma mbikin ngalamat imel palsu ala Ayu Tong-tong kok diaku-aku pendukung! Eling thole, eling ngger, di jaman onliner ini banyak akun-akun anonim. Pethakilan kaya Buto Cakil!”

Ki dalang melanjutan,”Ojo sampai kowe ora kuwat nyunggi drajat. Tidak mampu mengemban amanah dan kekuasaan. Setelah kondang lupa kalau dia punya kekuasaan untuk memperbaiki kahanan.”

Petruk blogger megap-megap. Tapi nekat ngeyel. “Tapi khan banyak raja berkuasa tanpa dampar to Ki Dalang?”

Sambil membereskan kotak kayu, Ki Dalang Setdah berucap pendek,”Kowe mau jadi Dasamuka dan Duryudana?”

Petruk blogger menjawab lirih,”TIDAK PERLU, TERIMA KASIH”

:mrgreen:

***

#Nukilan Petruk Dadi Ratu terinspirasi dari sini

#Gambar Petruk Dadi Ratu nyantol dari sini

#Jenderal Petruk dari sini

#Foto dalang dari sini

23 responses to “Petruk Dadi Ratu Blogger

  1. Ki Dalang Setdah, balik menghardik,”Mana buktinya? Lha wong rakyatmu itu 99% anonim. Mungkin cuma mbikin ngalamat imel palsu ala Ayu Tong-tong kok diaku-aku pendukung! Eling thole, eling ngger, di jaman onliner ini banyak akun-akun anonim. Pethakilan kaya Buto Cakil!”
    =============================================
    thole FBY to ini….

  2. Ping-balik: Mengenal Kisah Pewayangan di Blogsphere « Triyanto Banyumasan Blogs·

    • Sepengetahuanku, ada dua versi cerita Petruk Dadi Ratu. Yang pertama, tafsir soal penyalah gunaan kekuasaan, ketika Petruk menyembunyikan Pusaka Jamus Kalimasada. Dengan pusaka hebat itu, dia malih rupa menjadi Prabu Wel Geduwel Breh.
      Sedangkan tafsir yang kedua, seperti yang aku sadur dari link tersebut.

      Kalau mau ditanyakan ke Pak Dalang beneran malah lebih bagus. Memperkaya tafsir kita soal cerita Petruk Dadi Ratu. Monggo silakan ditanyakan pakde.

      Eh, bukankah tiap dalang juga mengemban misi tertentu? Jangan-jangan ada dalang titipan:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s