Gaung dari Tepi Ciliwung


Sabtu pagi yang basah. Tanah liat bercampur pasir – penuh bekas telapak kaki dan jejak sepatu aneka merek – menjadi saksi bisu naiknya permukaan Sungai Ciliwung, Jumat malam, pekan lalu. Lidah air merambat hinga kaki saung yang dibangun Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Condet.

Seharian itu, saya dan Eyang Edo memenuhi undangan Nimbrung Ciliwung yang digagas KPC. Hadir juga, sekitar 100 orang  penggiat lingkungan dari 30 komunitas di Jakarta, Depok, dan Bogor. Nah, KPC Condet, yang berada di Pangkalan Bambu, Jalan Munggang, Balekambang, Condet, Jakarta Timur, itu ketiban sampur menjadi tuan rumah.

Menurut saya, pemilihan lokasi ini tepat. Kawasan Condet, pada 1974 ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan budaya Betawi berdasarkan SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974 . Beleid di masa Gubernur Ali Sadikin, itu, kini, bagai prasasti kuno. Penanda di masa lalu.

Perubahan begitu cepat terjadi di wilayah jakarta Timur ini. Kebun salak, duku, dan buah-buahan khas setempat hilang berganti rimba beton bertulang. Wajar, karena skala ekonomi buah-buahan lokal itu kalah dengan harga sewa rumah petak yang naik tiap tahun.

Ironisnya, entitas Betawi pun ikut tersingkir. Tak hanya secara fisik, tapi juga budaya dan kearifan lokal. Warga asli Condet semakin terpepet. Tak heran, jika lama-kelamaan warga asli banyak yang apatis. Bahkan insomnia sejarah.

Siapa yang tahu kenapa ada nama Batu Ampar? Batu Alam, Dermaga, Balekambang, Jalan Pangeran? Sejarawan Betawi, Ridwan Saidi mengemukakan, toponim di Condet (berasal dari kata Ci Ondet) menandakan bagaimana kebudayaan dimasa lalu. Dugaan kuat, Condet menjadi tempat penting di masa lalu.

Disebutkan juga, banyak ditemukan artefak di wilayah Condet yang berusia 3000 SM. Peninggalan arkeologis itu banyak ditemukan di tepian Ciliwung di wilayah Condet, Kalibata, serta kawasan Pejaten.

Sungai dan peradaban memang saling terkait. Sejarah mencatat, peradaban besar di dunia ini selalu berdampingan dengan sungai. Mesir kuno (dan Mesir masa kini) tergantung dengan Sungai Nil. Mesopotamia juga berada diantara Sungai Trigis dan Euphrat. “Kerajaan” manusia modern seperti London, Rotterdam, Paris, Melbourne, Tokyo, Hongkong, yang kini menjadi mercusuar dunia juga hidup mesra dengan sungai.

Begitu berharganya sungai, maka menjadi aneh jika manusia di masa web 2.0 ini malah mengebiri sungai. Menjadikan aliran kehidupan alam ini menjadi junk yard gratisan. Ketika sungai sekarat, begitulah kehidupan di sekitarnya perlahan melarat.

Sungguh beruntung, di secuil lahan bantaran Ciliwung, ada sekelompok orang yang begitu mencintai sungai, tetangga setia turun temurun. Harapan dari yang terlupakan.

KPC Condet adalah salah satunya, selain KPC Depok, Bojong Gede, dan Bogor.

“Banyak yang peduli, tapi yang berpartisipasi kurang,” kata Abdul Khodir, penggiat KPC Condet. Warga Betawi yang akrab disapa Bang Khodir ini, sebagian lahannya digunakan sebagai markas komunitas. Beberapa orang yang ngariung di saung itu tersenyum mendengarnya.

Bagi yang aktif di dunia maya tentu akan bertanya-tanya. Di masa jejaring komunitas saling bercicit di Twitter, memasang status dan undangan di Facebook, memajang foto narsis di blog, dan seruan-seruan positif lain – lalu banyak yang me-RT, membuat grup, dan dunia maya pun menderu.

Tiba-tiba saya ingat kicauan mas @nukman yang pernah saya RT. Kultwit soal Participation inequality yang terjemahan bebasnya kurang lebih “Ketidaksetaraan Partisipasi”. Praktisi marketing online itu meng-twit rumus 90-9-1 yang dikemukakan pertama kali oleh Will Hill, ahli strategi komunikasi AT&T Laboratories dan dikutip Jakob Nielsen pada Oktober 2006.

Rumus itu dalam konteks mempelajari dan memberikan gambaran bagaimana komunitas virtual itu beraktifitas di dunia maya.

Intinya begini :

  • Dari sebuah komunitas, 90 persen hanya sebagai lurker, alias hanya mengamati tanpa memberikan kontribusi.
  • Dari kumpulan itu, hanya 9 persen yang memberikan konstribusi secara berkala, karena prioritasnya ada di tempat lain.
  • Nah, yang benar-benar die hard kontribusi itu ternyata cuma 1 persen. Yang segelintir ini, seolah tak bisa hidup tanpa “status”, “kicauan”, atau “postingan”.

Bisa pula berarti, hanya 1 persen saja yang mau bertindak nyata dengan segala kegilaannya.

Kembali ke KPC Condet. Para penggiatnya memang tak banyak. Paling banter 10 orang, Begitu pula partisipan aktif KPC di Depok, Cibinong, dan Bogor. Tak lebih dari jumlah jari tangan.

Tapi tunggu dulu. Profesor Paulus, akademisi Universitas Indonesia, pendiri Jakarta Glue, menegaskan, sepanjang Ciliwung dari Bogor hingga Jakarta terdapat 17 titik komunitas yang peduli terhadap Ciliwung. “Ini menunjukkan  warga Jakarta tak sejelek yang dikira. Masih banyak yang peduli lingkungannya,” kata dia.

Boleh jadi, Paulus benar. Seandainya satu titik terdapat 10 partisipan aktif, maka terdapat 170 penggiat lingkungan yang aktif bergerak. Memang dari jumlah masih kecil. Bandingkan dengan profil Ciliwung, yang menurut menurut Perpustakaan Kementerian Pekerjaan Umum, memiliki panjang aliran 119 kilometer, luas DAS 440 kilometer, dan dihuni sekitar 3,5 juta jiwa.

Jika yang 170 orang itu termasuk kategori 1 persen menurut rumus Will Hill, bisa jadi Bang Khodir benar. Banyak yang peduli Ciliwung dan ekosistem di sekitarnya. Tapi partisipannya kecil.

Tak mengapa. Toh kepedulian dan partisipasi itu soal hidayah. Misteri Illahi. Beruntunglah mereka yang mendapat hidayah ini diantara banyak orang  yang apatis dan tak mau tahu. Bukankah begitu sobat?

8 responses to “Gaung dari Tepi Ciliwung

  1. Ping-balik: Ci Haliwung, Riwayatmu Kini.. « Triyanto Banyumasan Blogs·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s