Pengkolan Menjelang Muharam


Petang menjelang maghrib. Saya bersua dengan fulan A, seorang ustad di kampung saya. Bersama fulan B dan C, keduanya senior citizen di tempat yang sama, kami mengobrol di pengkolan jalan.

Singkat cerita, sang pemuka agama punya program, merayakan 1 Muharam dengan mengundang dai populer yang sering syiar di televisi. “Biayanya murah, itu karib saya,” ujar pak ustad.

Saya diam sejenak, menunggu tetua lain menanggapi. Tak etis junior seperti saya langsung nanya ini-itu. Itung-itungan singkat, butuh biaya Rp 3,5 juta untuk gelaran kecil itu. Hm, jumlah yang tidak kecil untuk gang kampung seperti ini, saya membatin.

Acara juga dibarengi pemberian santunan kepada anak yatim dan warga tidak mampu. “Biaya diharapkan dari donatur dan warga yang ingin menyumbang,” jelas mereka bertiga semangat.

Sampai di sini saya bertanya,”Berapa sumbangan untuk anak yatim dan warga tidak mampu?” Pak ustad menjawab,”Lima ratus ribu rupiah.”
Des! Saya langsung sesak nafas. Dari total biaya Rp 3,5 juta, yang disumbangkan hanya Rp 500 ribu.

In my humble opinion, IMHO, begitu yang ditulis para komentator “ngeyel”, saya pun mengusulkan ke para pemuka itu,”Kenapa nggak dibalik? Yang 3 juta disumbangkan, sisanya untuk seremonial sederhana. Nggak perlu mengundang ustad kondang kalau tujuan dan niatnya berbagi rejeki.”

Coba diitung pak, saya mulai cerewet, nilai Rp 3,5 juta itu cukup untuk “beasiswa” 10 anak selama 3 bulan dengan besaran “beasiswa” per anak lebih dari Rp 100 ribu. Lebih manfaat mana? Memberikan “beasiswa” kepada 10 anak yang tidak mampu selama 3 bulan dibanding pengajian yang hanya beberapa jam?

Para donatur itu, ucap saya seperti bedil Belanda, pasti akan lebih bungah menyumbang untuk jangka panjang dari pada hanya even sesaat. Atau, jangan-jangan kita semua ini lebih suka bermegah-megah merayakan ini-itu, tapi terlena pada niat awal? Atau justru niat itu hanya kedok belaka? Semoga tidak.

Speaker cempreng di puncak kubah, adzan memanggil. Saya pun beringsut dari sudut jalan.

14 responses to “Pengkolan Menjelang Muharam

  1. waduh masa yang diangggarkan buat sumbangan cuma setengah jeti,semoga di balik niatan yang baik mencapai hasil yang baik juga

    oot dulu setelah baca artikel sampeyan saya bary ngerti arti IMHO:mrgreen:

  2. ya..jaman sekarang orang berlomba mempercantik kulit..

    sementara isinya yang barangkali kian membusuk tidak dipedulikan..

    mirip seperti orang yang memaksakan kredit bebek dengan cicilan Rp 500ribu/bulan, sementara gajinya “hanya” Rp 1 juta/bulan..

    ah..sungguh pembodohan otomotif yang menzolimi..

  3. jadi terngiang seruan dari “TOA” majelis taklim ibu-ibu di pengkolan kampung saya… “ibu-ibu sebentar lagi lebaran yatim, ayo nyumbang!!”🙂
    _saattangankananmemberitangankiritakusahtau_

  4. emang ada sunnahnya peringatan 1muharram?kalo mau nyumbang,sekarang pun bisa kan.langsung memberi ke yg berhak menerima tanpa harus nunggu 1muharram(mumpung tgl muda).. Piss..:mrgreen:
    -sekedar bertanya-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s