Jajal Ducati Monster 1000: Ganas!


“With great power comes great responsibility” (Benjamin Parker, paman Peter Parker a.k.a Spiderman)

Siapapun tahu Ducati Monster 1000 tenaganya sudah mumpuni. Dalam kondisi standar saja mampu mengeluarkan tenaga 95 DK pada 7000 RPM. Dengan berat kosong 178 kilogram (dan menjadi 192 kilogram jika diisi full tank 14 liter). Power to weight rationya mencapai 0.5274 HP/kg. Wajar jika tenaganya badak.

Apalagi jika sudah dimodif, seperti Monster 1000 keluaran 2006 milik Bro Jade Bunny Ily. Tenaganya, klaim Ketua Ducati Desmo Owner Club Indonesia (DDOCI), itu, dapat mencapai 113 DK. Ubahan yang dilakukan pria berbobot 92 kilogram ini berupa penggantian flywheel dan cam, serta Power Commander III USB keluaran Dynojet.

Tentu berat badan yang 92 kilogram plus bobot motor yang nyaris 200 kilogram tak berarti apa-apa dibanding tenaga Monster yang tiap kilogramnya bertenaga 0,5 DK itu. Bagaimana dengan bobot saya yang cuma 55 kilogram ini? Saya membayangkan mirip Komeng yang mobat-mabit numpak MX.:mrgreen:

Itulah kenapa saya mengutip ucapan Uncle Ben kepada Peter Parker, bahwa kekuatan (daya) besar butuh tanggung jawab yang besar juga. Tanggung jawab dalam arti kontrol. Mengendalikan diri sendiri (emosi terutama) agar mampu menghandle kuda besi Italia itu dengan aman dan nyaman.

Saya beruntung diberi kesempatan untuk menjajal Monster bermesin 992cc itu selama hampir dua jam. Bagusnya, Bro Jade, memberikan coaching praktis selama sesi test ride. Apa yang harus saya lakukan dan yang “haram” diperbuat selama menunggang si badak ini.

Kesempatan ini terkait dengan ajakan pria gondrong ini untuk short trip ke Puncak, Minggu pagi, bareng rekan-rekan DDOCI. Saya menyempatkan diri untuk menjajalnya pada Sabtu siang, untuk adaptasi dan mengenal karakteristik naked bike ini. Meski pada Minggu pagi, turing pendek batal karena cuaca kurang bersahabat, pengalaman numpak Monster sedikit banyak menambah ilmu saya dalam mengendarai motor (gede).

Sesi pertama, saya menjajal di jalanan sekitar komplek untuk adaptasi riding position, handling, dan gear selector. Yang pertama di koreksi adalah cara saya memindah gigi persneling. Bro Jade memberi tahu, gigi 1 bisa mencapai 8000 RPM dan kecepatan 80 km/jam. “Tak perlu ganti gigi dua dan seterusnya. Ikuti putaran mesin sambil mengontrol kopling,” kata dia.

Kedua, riding position. Karena setang sudah diganti nunduk otomatis ridernya kudu ikut bungkuk. Biar nyaman, Jade menyarankan, “Tempelkan perut ke tangki.” Ini agar beban tidak tertuju ke tangan. Sekitar 10 menit saya pun mulai terbiasa dengan gaya bongkokker dan memainkan RPM.

Monsternya Bro Jade termasuk unik. Rem belakang bisa dibilang “blong” karena jarak bebasnya lumayan jauh. “Saya gak pernah pakai rem belakang. Selalu rem depan,” katanya. Untung saya selama ini membiasakan diri menggunakan rem depan dibanding belakang. Meski agak kagok, akhirnya saya dapat beradaptasi. “Gunakan kopling untuk mengontrol tenaga,” tambah Bro Jade.

OK. It’s time to road traffic. Bro Jade mempersilahkan saya menggebernya di jalan raya. Yang selalu saya ingat adalah, kontrol, patient, tidak emosi dan sabar di jalan. Monster saya kendarai menuju arah Barito, belok kanan ke Mayestik, Velbak, putar arah, Pakubuwono, Mayestik, dan kembali ke kawasan Kyai Maja.

Sepanjang jalan itu praktis hanya bermain di gigi 1 dan 2. Tenaganya memang superior dan boleh dibilang ganas! Melibas jalanan yang meski hari Sabtu lumayan padat, perlu kontrol penuh. Apalagi bagi pemula seperti saya ini. Pelintir gas harus hati-hati, karena tenaganya yang gede badan serasa ditarik kebelakang. Berhenti di lampu merah bukan masalah, karena kedua kaki penuh menapak aspal.

Balik ke lokasi, istirahat sebentar dan ngobrol soal handling. Bro Jade meminta saya untuk jarak lebih jauh lagi dan menjajal di jalan lurus Asia-Afrika dan kawasan TVRI Senayan. OK, Monster kembali saya tumpaki ke Senayan.

Kawasan Asia-Afrika dan TVRI lalulintas lumayan ramai. Saya tak memaksa diri memutar gas. Kebetulan di jalan lurus TVRI jalanan sedikit lengang. Gas diputar, dan kecepatan 100km/jam didapat pada gigi 2. Itupun putaran mesin belum peak, namun karena musti belok di kolong flyover, speed dikurangi perlahan.

Ketika balik, saya memilih jalan santai. Keinginan untuk mencicipi handling dan power secara maksimal memang lebih aman dan nyaman di sirkuit. Mungkin, suatu saat nanti, ada kesempatan untuk coaching clinic di sirkuit bersama rekan-rekan lain. City riding, menurut saya, terutama bagi early adopter seperti saya ini, berguna untuk adaptasi karakter motor besar seperti Ducati dan lainnya. Belajar mengontrol emosi dan power. Like Uncle Ben said to Parker.

Mindset itu akan memudahkan kita ketika suatu waktu mengendarai motor besar dengan power yang ganas. Seperti belajar naik sepeda. Ketika sudah bisa dan biasa, di masa depan tak akan lupa. Hanya perlu sedikit adaptasi.

Thanks Bro Jade atas kesempatan menjajal Si Ganas Monster 1000. Great bike I’ve ever ride!

19 responses to “Jajal Ducati Monster 1000: Ganas!

  1. bener sekale.. ini sosok yg gw lihat sabtu siang (30/1/10) di sekitar jl. hang lekir kebayoran baru, perasaan gw waktu itu ‘hm.. anak baru DDOCI’.. eh gak taunya bro adhi.. tau gitu gw tepukin loe dari belakang.. plak! hehehe..🙂

  2. @Ardy IBBC
    merasa sia-sia nulis Ducati.jangan pesimis..
    Ducati kan cuma 1098 smash lebih mantap 110 !!!!
    @jade
    halo om.aye yang sering ke paddock Ducati,kirain rada maksain pake Monster,Hypermotard balap di Sentul ternyata eh ternyata ada setingan tersendiri,mantap !
    (dari dulu demen banget liat Monster mulai dari M600 sampe generasi 696,ngarep dipinjemin seminggu sama DI)

  3. terima kasih atas ‘review’ nya. saya tambah sedikit, Ducati Monster tipe S2R 1000 (2 cylider 4 busi) power commander sdh di setting utk 3 karakter, harian (yg di jajal kemarin) turing dan track (sentul)

    • Xixixixi… ini motor yang susah di overtake … jika di Sentul… !!! Disamping power nya yang sudah nambah… setang jepitnya yang membuat lincah melibas tikungan di Sentul… !!!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s