Bersabar dalam Kebaikan


Lagi jalan-jalan numpak gugling, eh malah nyasar ke sini. Tentang seseorang yang secara kebetulan bersilaturahmi ke rumah tua kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Rumah lama itu merupakan impiannya, berikut perabotan yang klasik terpelihara.

Rumah itu, melalui agen property ditawarkan untuk dijual. Jika nantinya laku, tentu hak mutlak si pembeli untuk memugar, mempertahankan, atau malah merubuhkannya. Di sisi lain, Eka, si penulis blog yang nyasar ke rumah tua itu berharap, siapapun nanti yang memiliki akan merawatnya seperti semula.

Utopia pagi hari? Tunggu dulu! Eka selanjutnya menulis begini :

“Kalau pun ternyata dipugar, pun aku disini bersyukur, pernah menikmati setiap inci rumah elok itu sekaligus mendapatkan perkenalan dan mendengarkan beberapa falsafah baru.”

That’s the point. Bersyukur walau mendapat sedikit nikmat. Saya tak kenal Eka, tak tahu dimana rumah yang ditinggali seorang nenek itu berada. Namun, saya mendapat pencerahan baru soal bersyukur dan bersabar dalam kebaikan.

Saya teringat, beberapa waktu lalu, begitu ngototnya “menasehati” seseorang agar memupus rasa rakusnya terhadap sebidang tanah yang bukan haknya. Saya juga kelingan, begitu menggebunya untuk sesegera mungkin mengubah perilaku warga agar sadar sampah.

Tapi Allah SWT mempunyai rencana lain. Apa yang menurut saya baik itu belum tentu akan disegerakan Yang Maha Kuasa. Seorang yang rakus malah tambah tamak. Warga pun tak peduli dengan kondisi lingkungannya. Saya nyaris patah arang. Kuciwa kata mbah-mbah pemain wayang orang.

Alhamdulillah, saya teringat Surah Al-Insyirah (94), terutama ayat 1 :

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”

dan ayat 5 ;

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Buhul penting dari surah yang termasuk golongan Makkiyah ini adalah penegasan tentang nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan pernyataan Allah bahwa disamping kesukaran ada kemudahan karena itu diperintahkan kepada Nabi agar tetap melakukan amal-amal saleh dan bertawakkal kepada-Nya.

Jleg! Saya pun sadar, selama ini telah dilapangkan Allah SWT dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, dan untuk mendapatkan berbagai macam ilmu itu mengalami suka dan duka. Janji Yang Maha Esa memang pasti: dibalik kesulitan ada kemudahan.

Saya pun paham, untuk menasehati tidaklah sama dengan memperlakukan barang milik sendiri. Kewajiban saya sebatas memberikan nasehat dan ilmu yang tak seberapa ini. Soal sadar atau tidak, berubah atau malah kepala batu, itu urusan Allah SWT.

Ada tulisan menarik yang saya termukan di sini mengenai sabar dalam kebaikan, salah satu ayat saya kutip seperti dibawah ini :

“Hai anakku, dirikan sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)

Dada ini lantas lega, karena masih sempat menikmati hijaunya tanah lapang yang kini dipetak-petak. Hati ini plong, karena masih dikaruniai kesempatan untuk menuai ilmu yang lebih luas dan bermanfaat. Bukankah begitu sobat?

10 responses to “Bersabar dalam Kebaikan

  1. Ping-balik: Mig33 news : Kenapa Mig33 Masih Merekomendasikan Aplikasi Mig33 yang Lama? « amadnoy.co.tv·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s