Me and Husky (Part 3-Habis) : On The Track!


Mendadak saya ingat belum sempat nulis test ride Husqvarna SM 125. Penyebabnya, file-file foto kocar-kacir saat saya menambah kapasitas hard disk komputer. Untunglah dokumen foto itu dapat ditemukan beberapa waktu lalu. Husky 125 SM ini saya pinjam pertengahan 2009 silam dari PT Sentra Kreasi Niaga (SKN), distributor resmi Piaggio, Vespa, Aprilia, dan Husqvarna.

Selama lebih kurang lima hari trail jalan raya buatan Swedia ini saya gunakan untuk beragam aktifitas, termasuk weekend ke daerah Jonggol. Kawasan ini saya pilih karena banyak lahan bakal perumahan yang cocok untuk motor jenis ini.

Ok lets kick your engkol starter.

Lho kok dipancal? Benar. Supermoto 125 cc 2 Tak ini hanya menyediakan starter tendang untuk menghidupkannya. Tapi jangan khawatir, nendangnya enteng, khas motor 2 Tak.

Meski mesin sudah hidup, jangan langsung ditumpaki. Itu karena mesin ini butuh waktu sekitar 15 menit untuk pemanasan. Kalau ngeyel, mesin nggak bakal optimal dan mbrebet. Petunjuknya ada di spakbor belakang.

Saya sempat mikir, wah bakalan jinjit nih. Seat highnya tercatat 87 cm. Ternyata setelah nyemplak, shock depan – didesain oleh Paioli meccanica, Spanyol  –  dan belakang (Sachs) sepertinya menyesuaikan dengan berat badan saya. Nggak pakai jinjit.

Motor pun nggeblas ke Jonggol, ngetest dan liburan ke rumah adik. Karena saya terbiasa menggunakan mesin 4 Tak, agak kikuk juga dengan respon 2 Tak ini. Setelah terbiasa, rasanya pengen ngegas terus. Motor ini, bagi saya termasuk enteng. Berat kosongnya 113 kilogram.

Meski cuma 125 cc, tenaganya oke punya, untuk naik ke bukit kecil gampang banget. Ukuran gir depan 14 dan belakang 49 membuat tarian jadi enteng. Karburator Dell’Orto VHST 28-CS yang sistem pengabutan bahan bakar, udara, serta oli, dikontrol elektronik (electronic carburetion system/ECS).

Melahap tikungan aspal paling enak jika kaki ikut turun. Niru-niru balap supermoto :mrgreen: . Begitu pula menjejak off-road ringan. Sistem suspensinya bener-bener meredam guncangan. Motor tidak terbanting liar. Apalagi didukung rem cakram depan-belakang Brembo yang sigap menghentikan laju dengan sentuhan empuk.

Kecepatan maksimum yang tercatat di spidometer digital 110 km/jam. Bisa lebih tergantung ridernya. Namun, saya tak berani melampaui angka 100. Paling banter 90 km/jam di jalan aspal. Namanya juga alonrider. :mrgreen:

Seperti tipe trail kebanyakan, jok Husqvarna 125 SM kecil dan keras. Tak cocok untuk boncengan atau riding terlalu lama. Supermotard buatan pabrik yang berinduk BMW Motorrad, dan kantor pusat di Varese, Italia,  ini didesain untuk keperluan jalanan. Itu karena sudah dilengkapi spidometer, lampu depan belakang, sein, dan kaca spion.

Untuk jarak pendek menengah, supermoto 2 Tak ini pas untuk harian. Untuk jarak jauh, saya tidak merekomendasikan. Kecuali joknya diganti yang lebih lebar dan empuk. Tapi nanti malah jadi wagu dan saru? 🙂

Bagi penggemar supermoto, Husqvarna 125 tak bakal mengecewakan. Namun siap-siap saja merogoh kantong lumayan dalam, soalnya harga per unitnya dua kali Ninja 250R. Pajak per tahunnya mendekati Rp 2 juta. Mantap tenan. :mrgreen:

Iklan

18 responses to “Me and Husky (Part 3-Habis) : On The Track!

  1. Minumx premium eceran bs tuh!
    Wuh, dh lama sy tgguin artikelx mas..
    Drpd ini,kl sy sih pilih d-tracker 150 aja,cz lbh murah :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s