Bebek Bali Pak Polisi


Jumat lepas tengah malam pekan lalu, saya merasa linglung. Untuk beberapa jam saya masih merasa bodoh. Menjelang bedug subuh barulah mata ini merapat. Lalu senyap.

Dua kilometer dari peraduan, belasan tawon masih mengaung. Melepaskan berliter-liter premium yang menjebol knalpot free flow buatan lokal. Ah, saya tak peduli, batin saya sembari menarik bantal. Kali ini betul terlelap.

*****

Malam itu, beberapa puluh menit dari angka 12, saya melaju pulang melewati Jalan Raya Tegar Beriman, Cibinong. Di sekitar SPBU Pertamina, jalur lambat kiri-kanan jalan dipenuhi puluhan motor berbagai jenis. Mereka asyik menonton balap liar (bali) yang kerap digelar di jalan utama Pemda Cibinong itu. Motor bebek dan skutik aneka jenis berpacu liar di “sirkuit” jalanan itu.

Deg! Saya merasa aneh dengan kondisi ini. Dua ratus meter dari arena bali ada Kantor Polisi Resor Bogor. Dan tak ada tanda-tanda adanya tindakan dari para hamba hukum ini untuk menertibkan balap liar.

Bismillah. Saya pun memberanikan diri mampir ke Polres Bogor. Baru kali ini saya datang ke Polres Bogor,  meski sudah hampir lima tahun bermukim di kawasan Cibinong. Di pos jaga, saya ditemui seorang petugas – saya tak tahu apa pangkatnya karena dia mengenakan jaket panjang.

Saya dipersilakan masuk ke dalam. Berikut petikan perbincangan saya dengan sang petugas.

Polisi (P) : Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?

Saya (S) : Begini pak, khan ada balap liar tuh? Kok nggak ada tindakan dari kepolisian ya?

P : Sebentar ya pak, saya lapor komandan dulu. Bapak silakan tunggu di dalam.

Saya pun menunggu di ruang dalam. Tak berapa lama sang petugas menemui saya lagi.

P : Sudah saya laporkan ke komandan pak. Sebentar lagi ada petugas yang menertibkan.

S : Petugasnya dari mana pak?

P : Kami kirim ranger-ranger yang ada di markas komando.

Saya agak bingung dengan istilah “ranger”  ini. Namun tidak saya tanyakan lebih lanjut karena  ada yang lebih penting untuk saya utarakan.

S : Kenapa sih balap liar di Jalan Pemda masih saja berlangsung? Apa tidak ada tindakan terus menerus dari petugas? Apa harus menunggu laporan?

P : Sulit sekali diatasi pak. Setiap kami kirim petugas mereka bubar. Namun kemudian balik lagi. Jadi malah seperti kucing-kucingan. Mereka itu dibekingi oknum-oknum dari kesatuan tertentu di wilayah ini.

Jeder!

S : Kenapa sih takut sama beking oknum? Bukankah mereka itu mengganggu ketertiban umum dan polisi punya kewajiban untuk melakukan penertiban?

P : Bakal repot pak kalau sudah berurusan dengan oknum dari kesatuan lain.

S : (hopeless). Ya sudah pak, yang penting saya sudah menunaikan kewajiban saya sebagai warga. Maaf, mengganggu malam-malam begini.

*****

Hari ini, saya teringat kepolosan saya itu. Dari mbah gugle saya menemukan website Polres Bogor. Di halaman depan (beranda), tertulis dalam huruf tebal quote Frank Tibolt (1897-1989), inspirator, motivator, dan penulis yang terkenal dengan karyanya  A Touch of Greatness.

Kita semestinya diajar tidak menunggu inspirasi untuk mulai melakukan sesuatu. Tindakan senantiasa menghasilkan inspirasi. Sedangkan inspirasi jarang menghasilkan tindakan.” (Frank Tibolt)

Saya tersenyum geli. Mungkin demikian juga dengan mendiang Frank Tibolt.

Apakah sobat juga merasa geli, kecut, linglung, atau malah menggelinjang?🙂

12 responses to “Bebek Bali Pak Polisi

  1. hehehehe biasanya kalo warga sekitar yang bertindak baru beres tuh ..kompakin aja warga sekitar..demo rame2 selesai tuh.
    dulu ada temen harus korban 1 motor RXking dibakar massa di pemda..karena bali


    Repotnya jika warga memandang bali sebagai hiburan. Malah, beberapa hari lalu, saya melihat ada bapak dan ibu nonton bareng tengah malam. Saya jadi berpikir “Apa mereka nyuporterin anaknya?”. Sekarang tinggal porsinya saja, lebih besar mana warga yang peduli dan warga yang menikmati? Bisa-bisa malah perang antar kampung. Walah!

  2. Thanks for sharing.
    Membutuhkan sensitivitas dan kepedulian untuk bisa berani melaporkan.
    Btw, setelah itu beneran di razia gak mas?


    Nggak begitu pasti sih mas. Soale saya pulang ke rumah otak dalam kondisi suwung. Nggak begitu nggagas. Sudah hopeless. Saat itu, untuk beberapa lama tawon-tawon itu masih beterbangan

    😦

  3. no comment..kesatuan lain itu sekarang ga ada obyekan yah?semenjak soeharto lengser. ya cari2 obyekan lah. kalo di kalimantan masih banyak tuh obyekan.
    CMIIW

  4. oo masih ada juga ya bali di pemda sy kira udah bubar, kalo dulu si emang suara bisingnya sering banget kedengeran apalagi malam minggu.

    Tapi emang jalanan lurus dan lumayan lebar seperti dipemda itu jadi tempat asik buat bali tu, lokasi lainnya di kota kembang, coba aja liat kalau sore biasanya banyak banget motor disitu.

  5. P : Bakal repot pak kalau sudah berurusan dengan oknum dari kesatuan lain.

    Nanti jika ada korbannya apa oknum tersebut mau bertanggung jawab.Pada dasarnya Mereka ngak mau repot,ngurusin kasus yang tidak “menghasilkan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s