Untung Rugi DRL


Lagi ramai perdebatan tentang lampu motor menyala siang hari yang di kalangan biker Tanah Air populer dengan sebutan daytime running lamp (DRL). Wikipedia mendefinisikan DRL sebagai berikut :

is an automotive lighting (Automobile Safety) device on the front of a roadgoing motor vehicle, installed in pairs, automatically switched on when the vehicle is moving forward, emitting white, yellow, or amber light to increase the conspicuity of the vehicle during daylight conditions. DRLs might have been first seriously proposed in 1961 in the USA, in response to Texas Governor Price Daniels’ drive-safely campaign.

Jadi, kebanyakan kendaraan Β yang beredar di Indonesia, menurut Wikipedia, belum masuk kategori DRL. Sebab, lampu kendaraan itu tidak langsung otomatis menyala begitu mobil atau motor berjalan (automatically switched on when the vehicle is moving forward).

Apapun istilahnya, saya agak malas membahas persoalan lampu ini dari sisi undang-undang, karena banyak pro-kontra yang nggak bakal selesai diperdebatkan. Saya hanya ingin berbagi sedikit cerita dan fakta kenapa saya memilih untuk menghidupkan lampu motor di siang hari.

Motor pertama, Vega R, saya beli tahun 2005. Sejak itu, setiap hari lampu depan saya nyalakan jika berkendara, dan berlangsung hingga 2010 ini.

Dalam kurun waktu 5 tahun, baru satu kali ganti lampu depan dan belakang serta aki. Aki bawaan motor (tipe basah) soak di tahun ke dua. Selanjutnya saya ganti aki kering (MF/maintenance free), dan masih oke hingga kini.

Motor kedua, Vi-Xion, yang menganut kelistrikan DC – energy langsung dari aki MF, lampu depan juga selalu saya nyalakan sejak pertama kali datang tujuh bulan lalu. Sampai saat ini, lampu dan aki masih prima.

Keuntungan utama menyalakan lampu siang hari, bagi saya, dapat cepat mengkalkulasi berapa jumlah dan jarak motor yang nampak di kaca spion motor atau mobil yang saya kendarai. Kecepatan menghitung ini penting karena di jalan raya, salah perhitungan dapat berakibat fatal.

Di belakang mobil pun, jika ada motor lain di belakang motor saya yang juga menyalakan lampu, bakal terlihat jelas bayangannya di bagian belakang mobil. Pantulan lampu motor di bodi belakang mobil ini membantu saya untuk melakukan maneuver, selain mengintip melalui spion tentunya.

Jadi, ketika muncul beragam alasan misal: lampu cepat mati, aki tekor, dan sebagainya, saya sedikit heran. Lha itu, motor saya sudah lima tahun baru ganti lampu depan belakang dan aki satu kali. Saya pikir keuntungannya lebih banyak dibanding kerugiannya.

Bukankah begitu sobat?

Iklan

21 responses to “Untung Rugi DRL

  1. Broer, kalau motornya baru ganti lampu baru sekali dalam 5 tahun, ini tergantung perawatan. lha, yang punya blog ini kan ahlinya ngerawat montor.
    jempol lagi, Broer!
    b πŸ™‚ d

  2. hihihi… kayaknya Linus jg males mbahas dari sisi undang-undang. mending kita sendiri yang mempersiap kan diri untuk keselamatan berkendara. ya,untuk kita juga orang lain juga.
    jempolnya, broer untuk postingannya…
    b πŸ™‚ d

  3. kalau yamaha vixion, tiger dll sistem kelistrikannya memang dirancang untuk DRL. untuk melihat apakah sepeda motor itu siap untuk DRL adalah apabila mesin dimatikan dan posisi kunci kontak pada posisi ON, lampu header tetap menyala. kalau seperti motor bebek dan skutik indonesia belum siap DRL. kalau dipaksakan komponen yang rusak adalah pengatur arus (kiprok). dan buktinya ATPM masih meneliti sistem kelistrikan agar siap DRL, itu pun 2011 baru rampung. hehehe… pisss, Bro πŸ™‚

  4. Saya juga setujuh tuh Gan! lebih cepat mengenali motor di sekitar kita kalo pas bw mobil .. makanya kalo pas motoran ane selalu nyalain lampu mtr ane .. sip sip sip ..

  5. Setuju Mas, saya sendiri ngerasa banyak untungnya.. Terutama bagi rider seperti saya yang kadang emosian di jalan.. sekarang mah pengen tobat jadi pengendara yang baik..

  6. pake vixion (2007) udah sejak 1,5 tahun lalu ngikut aturan (waktu itu cm himbauan aja, blm ada UU nya, ato blm tau, hehe), lampu, aki, dan kelistrikan masih ok2 aja tuh. Cm matiin waktu electric-starter. Rasanya kalo dibilang bilang lampu dan aki cepat soak, ngga banget.

  7. Keboku wis otomatis,la wong saklare ra tau off..paling ga buat jaga2 diri lah,tau sendiri cikarang bekasi lalu lintasnya padet,terlebih bawaannya kadang2 grudak gruduk ga karuan..

  8. lampu nyala, ada beban mesin buat muter dinamo, rpm stasioner pasti agak turun.. kalo lampu dari aki, mending nyalain setelah distarter aja, soalnya kalo nyala begitu kontak on, perlu beban dobel buat nyalain lampu & starter bersamaan… kasian akinya, motor lokal sini kan ampere akinya kecil :mrgreen:

  9. yah walopun bikin aki soak & merembet ke sistem pengapian (cdi) yg mbikin motor susah hidup, sudah terbukti pd motor kawi sy, tp demi keselamatan berkendara yo worthy lagh untuk manaati aturan DRL

  10. Ping-balik: Untung Rugi DRL Β« alonrider- Typhoon Pepeng·

  11. setuju!

    mungkin pemerintah bisa sekalian bikin aturan agar motor-motor produksi baru diwajibkan lampu langsung nyala begitu mesin motor nyala tanpa mencet saklar..
    tapi kalo lewat kampungku lampu nyala kadang masih diteriakin,”wis awan mas!(sudah siang mas!)” kadang tak bales,”wis 2010 pak!” hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s