Biker Dibui, Disangka Lalai?


Ada yang menarik membaca tulisan di Kompas hari ini. Seorang pengendara motor harus menjalani proses persidangan. Dia disangka menjadi penyebab tewasnya sang istri karena kecelakaan. Lanjar Sriyanto, si pengendara itu, kini harus meringkuk di balik terali besi Pengadilan Negeri Karanganyar, Jawa Tengah.

Lelaki berusia 36 tahun itu mungkin lalai, karena berboncengan bertiga dengan sang istri, Saptaningsih, dan putranya, Sapto yang berumur 10 tahun. September tahun lalu, sehabis lebaran di kampung halaman istrinya, Boyolali, motor yang dikendarainya menabrak mobil yang berhenti mendadak di daerah Colomadu, Karanganyar.

Lanjar dan anaknya luka ringan, namun sang istri terpelanting dan tertabrak mobil Panther yang melaju kencang dari arah berlawanan. Saptaningsih pun meninggal.

Usai tahlilan tujuh hari meninggalnya sang istri, pemilik mobil Panther dan sopirnya datang sambil memberikan “tali asih” Rp 1,5 juta. Syaratnya, keluarga Lanjar menandatangani perjanjian untuk tidak saling menuntut. Surat perjanjian diteken adik Saptaningsih, Taro.

Beberapa waktu kemudian, dia bermaksud mengurus surat-surat kendaraan dan menanyakan kronologis kejadian. Namun, di Polres Karangnyar, Lanjar justru dijadikan tersangka tewasnya sang istri.

Desember lalu dia sudah menjalani sidang tanpa didampingi penasehat hukum. Selanjutnya, Lanjar didampingi oleh Muhammad Taufiq, seorang pengacara yang tersentuh hatinya setelah mendengar kisah Lanjar.

Menurut Taufiq, seperti yang diberitakan Kompas :

”Kami khawatir Lanjar mendapat putusan demi hukum, bukan demi keadilan. Penelusuran kami menemukan pemilik mobil Panther adalah anggota kepolisian di Ngawi.”

Kini Lanjar hanya bisa menerawang dari hotel prodeo, menunggu nasib apa lagi yang akan menimpanya kelak.

Ada sejumlah hal yang dapat menjadi pelajaran dari kasus ini.

  1. Si pengendara lalai. Dia mengabaikan keselamatan diri dan keluarganya dengan berboncengan bertiga: istri dan anak yang sudah menginjak remaja.
  2. Si pengendara bisa saja menggunakan angkutan umum yang tersedia. Namun, apakah angkutan umum itu cukup layak, murah, dan nyaman bagi masyarakat? Pertimbangan kenapa orang membeli motor karena, alat transportasi inilah yang murah meriah. Dibandingkan angkutan umum yang tersedia, motor lebih efisien.

Pertanyaannya :

  1. Lanjar memang lalai. Tapi kenapa dia yang menjadi tersangka tunggal? Kenapa sopir mobil yang menabrak istrinya seolah-olah bebas?
  2. Apa sih dasar hukumnya polisi menjadikan Lanjar tersangka? Bukankah banyak kasus lain yang penyebabnya kelalaian pengendara motor atau mobil? Baik dengan korban meninggal atau luka-luka? Jangan-jangan banyak kasus “Lanjar-lanjar” lain yang luput dari perhatian?

Atau brother semua mempunyai pendapat tentang kisah nyata ini?

Iklan

16 responses to “Biker Dibui, Disangka Lalai?

  1. menarik setiap ada yang menuliskan soal ‘late braking’, teknik ini sama sekali tidak disarankan dilakukan di jalan raya atau jalan umum karena istilah ini cenderung pengalihannya ke dunia balap.

    so hindari proses late braking di jalan raya dan hapus paradigma bahwa teknik balap bisa saja dilakukan di jalan raya, tidak 100 % aplikatif.

    thank u mas alon … *dah bisa ngecilin belum :p

  2. udah jatuh tertimpa motor, tertimpa tangga, tertimpa rasa bersalah karena udah bikin istri meninggal… wahhh, kasian…

    mungkin beliau (pengemudi motor) nggak belajar teknik late braking… xixixi 🙂

  3. sulit memang kalau sudah bicara kecelakaan dan pertanggung jawabannya. Kasus ini kok unik ya karena tiba2 saja ada adegan tangkap tersangka sementara kata damai sudah terjadi sebelumnya.

    Demi keadilan ya memang harus ada pengadilan baru soal kasus ini dan mendengar dari semua sisi.

  4. hukum di indonesia dah kaco, menegerikan, terlihat yang berkuasa dan memilki uang yang dapat membeli segalanya, lihat kasus anggodo, prita, nenek si pemungut cacao, lanjar, dan terakhir kita lihat drama ‘ayin’ si makelar hukum yang berada di hotel bintang lima dengan perawatan tubuh yang sesuai jadwal.

    Muka kita serasa ditampar! masih kah kita kedepan bangga memakai nama bangsa Indonesia jika sistem yang ada berantakan seperti ini. Naudzubillah mindzalik.

  5. Hukum di sini(Indonesia) masih menerapkan hukum rimba…Siapa yang kuat(Kaya) dia yang menang.Yang lemah(miskin)Selalu saja menjadi tumbal.

  6. Harusnya ada sesi persidangan yang menghadirkan sang pengemudi mobil dan dilakukan terbuka .. . jadi kira2 publik jadi tahu kenapa si Ganjar yang malang (eh salah karang anyarya?) jadi terpidana sendirian xixixixi
    gitu kali yak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s