Ketika Bambu Bertasbih


Bencana, sekecil apapun, selalu tak terduga. Seperti sore menjelang maghrib, Selasa, kemarin. Hujan deras disertai angin kencang membuat pokok bambu tercerabut dari tempatnya berpijak. Tanah tempatnya tumbuh selama ini terbelah. Longsor. Dimensinya cukup besar, tinggi  2 meteran dan lebar sekitar 3 meter.

Sontak warga pun berhamburan ke lokasi yang berada di tepi Sungai Ciliwung. Mereka kaget dengan peristiwa itu. Kejadian ini baru pertama kali terjadi semenjak saya tinggal di komplek itu, lima tahun silam. Dan mungkin juga baru pertama terjadi di kawasan itu. Pantas jika warga terhenyak.

Kaget? Tidak. Saya sendiri sudah memprediksi bakal longsor bertahun lampau. Itu setelah beberapa kali terjadi penebangan bambu secara masif di beberapa lokasi. Si pelaku, warga asli daerah, yang dipekerjakan sebagai aparat keamanan komplek, berdalih, bambu  itu merupakan warisan keluarganya.

Alhamdulillah, setelah mendapat protes dari warga, dan melakukan pendekatan secara personal, akhirnya dia berjanji untuk tidak mengambil secara besar-besaran lagi. Saya utarakan kekhawatiran jika terjadi longsor, karena lokasinya berada di tepi sungai besar dan dekat dengan kawasan perumahan.

Saya berpesan, sebaiknya kita saling menjaga, apalagi yang bersangkutan mengemban amanat sebagai petugas keamanan. Kejadian itu berlangsung lebih setahun lalu, di saung depan rumahnya.  Dan kekhawatiran itu kini terbukti. Menjadi nyata ketika Sang Bambu Bertasbih.

Soal alam yang bertasbih, saya mendapat tulisan menarik di sini, tentang seorang cendekia muslim Zaghlul An-Najjar. Beliau menulis buku  Shuarun min Tasbih al-Kainaat Lillah, terbit pada 2003 di Mesir. Sudah tersedia terjemahannya dengan judul Ketika Alam Bertasbih, yang diterbitkan Al-Kautsar, pada 2008.

Dalam buku itu, An-Najjar menulis,

”Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap langit dan bumi di dunia dapat merasa, berbicara, menangis dan merasa sakit dan pedih. Ketika hari kiamat terjadi, masing-masing akan membeberkan dan menceritakan semua itu. Tentang masalah ini, Allah SWt berfirman sebagai komentar terhadap perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Fir’aun dan kaumnya, “maka langit dan bumi tidak akan menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh. (Zaghlul An-Najjar: hal. 129).

Apa lesson learned dari peristiwa robohnya bambu itu? Merawat. Ya, merawat lingkungan tempat kita tinggal. Pepatah  lama “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tetap relevan hingga akhir zaman. Seperti sepeda motor, jika tak pernah dirawat, maka sekali mbrodol yaa ambrol. Biaya recoverynya akan lebih besar.

Merawat lingkungan, tidak hanya diserahkan ke satu orang, pengurus RT atau RW saja. Tapi, harus didukung oleh sebagian besar warga. Jika warga sudah tidak peduli dan mendukung, maka pelan-pelan cubitan-cubitan dari alam pun akan silih berganti datang. Kemungkinan tidak hanya sekadar mencubit, tetapi juga menampar. Naudzubilahi min dzalik…..

Bencana, apapun kejadiannya, besar atau kecil, pantas untuk membuat kita berpikir. Sayup-sayup, masih terngiang ucapan ustad di masjid, mengutip Surah Ali Imran, ayat 190-191 :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Lalu bagaimana jika sudah diingatkan dengan cubitan kecil tetap tak mau berpikir? Apakah pantas disebut sebagai mahluk berakal?

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang berakal dan mampu mengendalikan nafsunya. Amiiin!

3 responses to “Ketika Bambu Bertasbih

  1. ngeri juga sekarang. karena ulah segelintir orang.bencana alam jadi makin sering. sekarang yg banjir gak cuma dataran rendah. pegunungan juga banjir. yang terbaru adalah banjir di purbalingga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s