Koin Sang Saudagar


Syahdan, pada awal abad 19, seorang saudagar kaya raya dari Kota Gede berniat memugar lantai pendopo. Sang saudagar, yang dikenal dengan sebutan Pak Tembong, ingin melapisi lantai pendopo nan luas itu dengan uang perak.

Bukan hal yang sulit bagi saudagar keturunan asli Suku Kalang untuk mewujudkan keinginannya itu. Sebagai pengusaha logam mulia paling sukses di jamannya, Pak Tembong memiliki harta melimpah, termasuk koin-koin perak dan emas mata uang pemerintah Kolonial Belanda saat itu.

Puluhan ribu koin-koin itu rencananya bakal dijadikan lantai pendopo yang jembar banget itu. Tidak hanya pelataran pendopo, tapi jobin (lantai) rumahnya pun direncanakan diplester menggunakan koin bergambar Ratu Wilhelmina itu.

Mendengar niat eksentrik saudagar kaya ini, pemerintah Kolonial Belanda senewen bukan kepalang. Para Londo itu berpikir ,”Lha ini sama saja dengan ngidak-idak (menginjak-injak) Sang Ratu (yang ada di koin).”

Bayangkan, setiap tamu yang datang ke rumah Pak Tembong, bakal menginjak “Kepala Ratu Belanda” yang ada di keping mata uang itu. Sebagai saudagar sohor, tamu Pak Tembong pun terdiri dari berbagai kalangan. Tidak hanya orang pribumi tapi juga warga asing, termasuk orang Belanda.

Pantas jika pemerintah kolonial gundah gulana mendengar rencana ajaib Pak Tembong itu. Entah kebetulan atau karena “imbauan” Belanda, Keraton Yogyakarta sendiri juga “keberatan” dengan ide Pak Tembong itu. Keraton membolehkan (menggunakan koin Belanda sebagai lantai) asal dipasang miring (tidak tampak permukaan).

Mendengar syarat itu, dan mungkin juga menghormati Keraton Yogyakarta, Pak Tembong membatalkan niatnya. Padahal dia juga berniat melapisi kamar mandinya dengan koin juga. Weleh, sugihe pooool tenan saudagar satu ini.

Saya tak tahu persis apa yang melatarbelakangi niat Pak Tembong yang bernama asli Prawiro Soewarno itu. Ada riwayat yang menyatakan, dia pamer kekayaan. Namun, ada juga yang beralasan, Pak Tembong sedang menyindir Pemerintah Kolonial Belanda.

Saya kurang paham sejarah. Namun, melihat konteks waktu kejadiannya (jika cerita ini benar-benar ada), saat itu Pemerintah Kolonial sedang berkuasa. Banyak perlawanan fisik dan non-fisik di banyak wilayah Indonesia. Bisa jadi, Pak Tembong melawan dengan caranya sendiri: membuat lantai pendopo dari koin Belanda!

Saya kok merasa, perlawanan sosial itulah yang akan dilakukan Pak Tembong.

Buktinya apa? Lha itu, pemerintah kolonial sampai merasa terganggu dan melarang pembuatan jobin dari koin.

Jikalau pamer kekayaan, rasanya bukan alasan tepat, meski dari sisi “kasta” Suku Kalang, pada masanya dianggap warga kelas dua.

Atau bisa jadi, Pak Tembong sedang melakukan kritik sosial secara vertikal (Keraton Yogyakarta) dan horisontal (Belanda).

Seolah-olah dia berkata,” Ini lho, aku, warga kelas dua, bisa kaya raya, mau bikin lantai dari koin Belanda.”

Tentu saja, sebagai penguasa saat itu, Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Kolonial Belanda, serasa dicubit pinggangnya. Untuk itulah mereka pun cepat-cepat mengeluarkan imbauan kepada Pak Tembong untuk mengurungkan niatnya.

Sejarah memang mencatat, Pak Tembong membatalkan niatnya melapisi lantai pendopo, rumah, dan kamar mandi dengan koin-koin Belanda. Sebagai tetenger (penanda) niat, konon, Pak Tembong menyimpan koin-koin bakal lantai itu di salah satu dari tujuh sumur yang dibuatnya.

Namun jangan lupa, sejarah pun mencatat dengan amat baik, melalui cerita lisan masyarakat Kota Gede, dan kini terekam dalam tulisan yang tersebar di dunia maya, bahwa pada masanya, ada seorang warga kelas dua yang berani melawan pemerintah yang berkuasa melalui koin.

Melalui koin pulalah sebagian warga yang peduli akan nasib yang menimpa Prita Mulyasari menghimpun dukungan di koinkeadilan. Oleh Pengadilan Banten, ibu rumah tangga ini diputuskan bersalah secara perdata, dan wajib membayar ganti rugi kepada  RS Omni Internasional Alam Sutera sebesar Rp 204 juta.

Para pengelola blog itu berusaha menggalang dukungan melalui pengumpulan koin recehan. Nantinya, koin yang terkumpul akan digunakan membantu Ibu Prita membayar denda.

Kenapa koin? Ya, seperti kisah Pak Tembong di atas. Menyindir melalui koin. Saya yakin, yang bakal menyumbang lebih dari sekadar koin itu banyak. Tapi esensinya bukan pada nilai nominalnya, tapi pada perlawanan sosialnya.

Pak Tembong versi modern, adalah warga kelas dua yang “kaya raya” secara dukungan moral. Ini dapat membangkitkan people power. Lha wong dulu saja, Pemerintah Kolonial Belanda merasa gerah dengan ide Pak Tembong. Padahal saat itu belum ada koran atau internet. Tapi toh berita itu cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Juga kejatuhan Presiden Philipina, Joseph Estrada, akibat kasus korupsi digulingkan rakyat melalui revolusi EDSA II pada 2001. Di Indonesia, pada 1998, Orde Baru pun tumbang oleh kekuatan rakyat. Padahal saat itu, internet baru mulai tumbuh di Indonesia.

Lha, sekarang ini, ketika internet sudah menjadi menu harian, blog menjamur, twitter mencicit, dan facebook menggebuk (haiyaaah….biar pas aja iramanya!!!), kekuatan massa yang dapat direngkuh tentu tidak main-main.

Lalu bagaimana jika koin yang terkumpul tidak sebanyak denda yang dijatuhkan? No, problem!

Seperti hikayat Pak Tembong, secara sadar dia membikin tetenger (penanda), ada perlawanan sosial dari masyarakat.

Pak Tembong tidak peduli meskipun lantai pendoponya nggak jadi dilapisi koin Belanda.

Perkara menang atau tidak, koinnya kurang atau lebih, itu soal lain. Yang jelas, kelak, sejarah – yang ditulis oleh ratusan posting sejenis – akan mencatat ada perlawanan masyarakat terhadap “pemerintah kolonial” dan “kerajaan”yang dianggap tidak berpihak kepada konsumen dan melawan rasa keadilan. Cring!

11 responses to “Koin Sang Saudagar

  1. Nice artikel… waaagh kalau Pak Tembong ndak mau… pasang di garasi gue azza… !!! Mbeeen koins londo buat jag-jagaan jaran wesi ku… !!! Toogh duiteee duit kompeniii… duiiit jamaaan dulu… simbol penjajahan… memang kudu diidaaak-iddaaak… !!!😀

  2. Hmmm saya suka membaca sejarah, boleh2! salut saya sama niat pak tembong yang sudah jelas2 berniat menyindir orang belanda (^^^)

  3. Kasus Prita memang fenomenal. Kini setelah melewati jalan yang panjang, prita diharuskan membayar denda 204 juta dan kewajiban melakukan permintaan maaf di sejumlah media. Namun dengan adanya putusan tersebut, ternyata tidak disangka menimbulkan empati dari para netter.

    Kini semakin sering didengungkan gerakan koin peduli prita. Sebuah langkah yang diharapkan dapat sedikit meringankan beban prita. Namun yang lebih penting daripada itu adalah mudah-mudahan hukum di negeri ini dapat memutuskan dengan seadil-adilnya.
    Cara Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s