Pertamax yang Melompong


spbu_pertamina

Bagaimana rasanya jika Anda kehausan? Pasti mencari air minum bukan? Entah dengan mengambil di dapur, kulkas, atau beli di warung sebelah. Lalu bagaimana jika air minum yang dicari tak juga ada, baik di lemari es, tempat minum, atau toko kelontong, dengan alasan airnya habis.

Pasti Anda heran dan bertanya, “Kok bisa habis? Memangnya nggak masak air? Nggak punya cadangan air? Masa ngatur stok air saja nggak bisa?,” sambil berlalu mencari toko lain.

Lalu, Anda pun mulai membandingkan dengan rumah sebelah, toko seberang, yang meski baru buka beberapa lama, namun stok air di rumah dan toko itu selalu tersedia. Pelan-pelan Anda pun mulai melirik si tetangga yang penghuninya (diusahakan) selalu ramah di panasnya siang dan dinginnya malam.

Sedikit demi sedikit Andapun mulai kepincut dengan tetangga seberang yang warung kuningnya tak pernah kehabisan air minum. “Saat haus nanti, pasti airnya ada terus,” begitu pikir Anda.

Yes, itulah yang menimpa saya tadi pagi. “Air minum” bernama Pertamax tandas di sebuah SPBU Pertamina di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor. Tidak hanya sekali dua kali saja SPBU ini dan sejumlah SPBU Pertamina lain – misal SPBU di Jalan Raya Sukahati, di wilayah yang sama – sering kehabisan Pertamax.

Konsumen yang membutuhkan pun terpaksa pergi sambil melompong. Sekosong tangki bahan bakar yang dipukul berbunyi tong-tong karena isinya tinggal sesendok.

Iseng saya bertanya ke petugas SPBU, yang kali ini Alhamdulillah Pertamax masih tersedia, “Kenapa sih Pertamax kadang kosong?”. Begini jawabannya,”Bos saya nggak mau resiko rugi. Soalnya harga naik turun tiap 15 hari. Mau order lihat harga Pertamax dulu berapa.”

Weleh! Pantesan beberapa SPBU Pertamina Pertamaxnya sering kosong. Itu apa karena para pengelola itu mempunyai pikiran yang sama? Alias nggak mau rugi dengan fluktuasi harga Pertamax?

shell_ferrari

Padahal, ketiadaan stok BBM merupakan hal yang tabu dan haram bagi pengelola warung kuning. Menurut teman saya yang kebetulan menjadi pemilik SPBU kuning, manajemen stok bahan bakar selalu terpantau otomatis. Jika volumenya kurang dari batas yang ditetapkan, sistem secara otomatis akan memberitahu untuk melakukan pengiriman BBM. “Haramlah kehabisan stok,” kata dia sambil terkekeh.

Saya tersenyum kecut mendengar tawanya. Beberapa waktu kemudian, saya coba buktikan omongannya itu dengan mendatangi SPBU kuning di beberapa tempat. Saya tanya petugasnya,”Pernah kehabisan BBM nggak?” Mereka kompak menjawab,”Nggak pernah pak.”

Saya hanya bisa melompong, bengong, tapi tangki tak lagi kosong.

9 responses to “Pertamax yang Melompong

  1. beuh…
    pertama kali motor smp rumah doang isi pertamax, selebihnya di warung kuning isinya hehehe…
    bukan mau menolak istilah “kita untung negara untung” yah..
    klo negara untung banyak lagi yang korupsi nantinya
    *kabur ah…..*

  2. Permisi om mau numpang tanya…
    Pertamak yg sekarang berubah warna gak sih?…
    Dulu aq sering liat warnanya biru,trus lama gak perhatikan…
    Trus udah 2 minggu ini aku mulai perhatikan,kok warnanya berubah jadi merah ya…
    Aku beli di SPBU pasti pas…
    Kl boleh tau didaerah anda2 smua berwarna apa?….


    Weleh mas, Pertamax itu warnanya memang biru. Kalau Pertamax Plus warnanya merah. Kecuali, sampeyan beli bensin campur untk mesin 2T. Nah, warnanya bisa berubah sesuai campuran olinya. Bisa merah, biru, atau hijau.

  3. Andaikata harga pertamax flat selama 1 tahun, mungkin tidak terjadi kekosongan. Masalah lain yg terjadi di spbu adalah tingkat loses (penguapan) yang tinggi dibandingkan premium. Sdkn spbu kuning tidak masalah bbm nya tidak dibeli coz negara asalnya tidak mencari untung di indo dgn margin dari pemerintah yg kecil, yg penting bisa eksis di indo.

  4. emang beda, ‘barang luar’ sama ‘barang dalem’, biar udah ngerubah motto, tp ga merubah attitude. klo di SPBU kuning, kena blepetan bensin ajah petugasnya minta maap sambil ngelapin pake lap bersih, klo di spbu merah boro2, ada paku bekas jatuhan atap aja gag ada yang mungut…..but that’s my Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s