Mudik Kuliner (2) : Teh Sangit ala Mbah Buyut


teh sangit mbah buyut

Ini sebenarnya teh biasa. Dibuat dari cem-ceman (seduhan) teh lokal Solo, Gardoe. Saya menyebutnya sangit karena memang rasa dan baunya sangit. Justru itu istimewanya. Rasa teh yang kental, wangi, dan manis itu, bercampur dengan bau sangit. Khas banget.

teh sangit mbah buyut (12)

teh sangit mbah buyut (2)

Kenapa bisa sangit? Itu karena proses menjerang air menggunakan kayu bakar.  Ketika mendidih, langusung dituang kedalam teko yang berisi teh, tunggu sebentar hingga seduhan jadi, lantas tuang ke dalam gelas. Beri gula sesuai selera, jadilah teh sangit. Nah, teh dengan rasa unik itu disajikan keluarga mbah buyut saya di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, Lebaran silam.

teh sangit mbah buyut (3)

Oleh sebab itulah saya beri merek teh sangit mbah buyut. Sudah lama saya tidak mencecap teh sangit ini. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun. Maka begitu sajian teh pertama tandas, saya berinisiatif membuat teh lagi. Tentu dengan asistensi saudara saya. Kan harus cethik geni (menyalakan api) dulu di tungku batu bata?

teh sangit mbah buyut (7)

Teh sangit ini biasanya disajikan waktu ada kondangan nikahan, sunatan, atau hajat lainnya. Masaknya pakai dandang gede, tungku dari susuna batu bata, dan tentu kayu bakar atau arang. Tapi jika menggunakan arang, sangitnya tidak seheboh kayu bakar.

teh sangit mbah buyut (4)

teh sangit mbah buyut (10)

Ada yang aneh memang dengan rasa teh ini. Saya cenderung yakin, jika bahan baku (teh dan air tawar), kondisi lingkungan, serta cara memasaknya – dengan kayu bakar, itulah yang membuat rasanya begitu khas. Sekali waktu, di sekitar rumah saya, Cibinong, Kabupaten Bogor, saya pernah memasak menggunakan kayu bakar. Teh yang dipakai pun sama.

Hasilnya? Ora enak babar blas…

Iklan

7 responses to “Mudik Kuliner (2) : Teh Sangit ala Mbah Buyut

  1. untung istriku ‘wong deso’..hehe. jd tiap saat kl pgn ngerasain suasana desa tinggal pulang aja ke kediri. masaknya jg msh pk kayu bakar kok..

  2. Coba masaknya jangan pake ceret, tapi pake dandang atau panci mas. Kalo gak salah yg bikin sangit itu permukaan yg lebar dan sering terbuka. Karena masaknya pake kayu, asapnya banyak dan masuk ke dandang yg permukaannya lebar. Jadilah sangit, apalagi kalo masaknya gak pake tutup.

  3. Kelingan iklan teh Gardhoe neng radio JPI dadine, wah I love Solo
    kapan ya bisa liburan semingguuu aja di sana

    Seminggu? Kurang mas. Lha wong saya sedoso dinten aja taksih kirang. Paling pas niku yo sesasi. Gaweane neng Solo muk mloka-mlaku, ngiras, karo incip-incip. Hehehehe….

  4. Waduh kenikmatan yang susah diduplikasi … ha ha tolong minta saudara-saudaranya di kampung menjaga tradisi tersebut … jangan ganti kompor minah atau gas (buat event khusus saja…)

    Minah dan BBG tidak laku di desa mbah saya mas. Soalnya kayu bakar tinggal ngambil di tegalan / hutan kecil.

  5. Jannnn Uenakkk Tenannn, dadi pengen mulih nyang Mojogedang……

    jadi inget lagu caping gunung ini :
    ” neng gunung… tak cadhongi sego jagung…. yen mendung tak sangoni caping gunung…. syukur bisa nyawang gunung dheso dadi redjo….”

    ibuuuuu aku pengen pulanggg…………………..

    Mojogedang nggone sopo mas? Simbah? Saiki gunung ndeso wis dadi rejo lho….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s