64 Tahun Indonesia, Apa yang Sudah Kita Berikan?


merah putih

Foto ini saya ambil 8 Agustus 2006, setengah jam sebelum adzan Maghrib tersiar. Saya sudah tak ingat pernah memotret seperti ini. Filenya saya temukan tak sengaja beberapa hari lalu ketika iseng menata file-file lama di komputer. Selarik judul berkelebat di kepala, ya, judul postingan ini terinspirasi ucapan JFK, “Jangan tanya apa yang negara bisa berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kau berikan untuk negaramu.”

Ingatan saya meloncat ke masa tiga tahun silam, terutama kepada si pemilik bendera, tetangga sekomplek yang menjadi anggota sebuah kesatuan TNI. Tahun-tahun pertama saya kenal, saya melihatnya sebagai sosok yang baik. Lambat laun, seiring berjalannya tahun, ada yang terkikis. Seperti air mengalir di pasir.

Saya agak kaget melihat perubahan yang kian besar. Entah kenapa dan siapa yang merasukinya hingga sifat-sifat tamak dan rakus kian membungkusnya. Contoh paling ekstrem adalah soal tanah. Lahan di belakang rumahnya yang diperuntukkan untuk fasilitas umum dia gunakan untuk keperluan pribadi.

Anehnya, atau mungkin saking kemaruknya, ketika lahan itu mau digunakan oleh warga, si pemilik bendera itu menentang keras. Perasaan saya campur aduk: antara mangkel, terenyuh, sekaligus kasihan kepada si oknum.

Oalah, kok sampeyan jadi begitu to pak? Kerasukan apa sampeyan itu hingga tanpa malu ngaku-ngaku lahan umum.

Saya langsung ingat buku sejarah dan cerita-cerita para orangtua dulu, ketika jaman penjajahan rakyat dan tentara bahu membahu mengusir kaum penjajah. Bukankah tentara itu asalnya dari rakyat? Jadi ya pantas jika saling membantu.

Saya menduga si oknum kesurupan roh lupa. Lupa darimana profesi terhormat itu berasal. Jika ingat sejarah, pasti dia tidak akan mengkhianati spirit kerakyatan yang menjadi pedoman prajurit di Tanah Air ini.

Memang benar, Allah SWT Maha membolak-balik hati manusia. Kita tidak pernah tahu kapan segumpal daging yang ada di dalam tubuh ini berubah sifat. Kita harus selalu berikhtiar agar Allah SWT menjaga hati ini di jalan Ilahi. Amiiin.

Enam puluh empat tahun Indonesia, apa yang sudah kita berikan kepada Negara ini? Masing-masing profesi mengemban amanah yang nantinya bakal diminta SPJ-nya oleh Allah SWT.

Sebagai aparat, membela kepentingan rakyat atau malah menggarong rakyat?

Sebagai dokter, apakah sudah melayani pasien dengan benar atau malah main tahanan?

Sebagai guru, sudahkah memberikan teladan yang baik? Atau justru memberi contoh yang merusak lingkungan?

Sebagai jurnalis, dimana keberpihakan? Kepada kebenaran, elit politik atau kekuasaan?

Sebagai blogger, postingan mencerahkan atau malah bikin keruh?

Sebagai…., hmm, coba brother tulis sebagai apa dan apa yang sudah brother lakukan untuk negeri ini.

Iklan

6 responses to “64 Tahun Indonesia, Apa yang Sudah Kita Berikan?

  1. saya sudah berikan segenap tenaga untuk berbagi ilmu keselamatan jalan kepada setiap peserta yang kami datangi …

    maju terus pantat mundur !

  2. HAhahaha… punya tetangga model gitu juga Bro?
    Nyebelin bgt ya.. doaken saja semoga segera diinsyafkan.. dikembalikan rasa tau diri dan rasa malunya..
    sabar lah Bro.. kalo ga kuat lagi, pindah ke komplek aja, kalo di kampung suka ada yang sok jagoan.
    (tapi rumah di komplek mahal ya huhuhu….)
    tapi kalo itu tanah dia ya mo dibilang apa ya..
    sabar2 saja lah bos…

  3. [Sebagai jurnalis, dimana keberpihakan? Kepada kebenaran, elit politik atau kekuasaan?

    Sebagai blogger, postingan mencerahkan atau malah bikin keruh?]

    Itu bagian yg paling menarik buat SL.COM. Thanks bro..

    Pokoknya Oom Steph selalu menarik…(taman lawang mode on)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s