Panen Kompos di Tahun Baru


Tiga komposter an-aerob di halaman depan rumah. Dipasang berjajar. Hanya perlu lahan kurang dari 2x1 meter persegi.

Tiga komposter an-aerob di halaman depan rumah. Dipasang berjajar. Hanya perlu lahan kurang dari 2x1 meter persegi.

Sepetak tanah di halaman depan rumah saya pasang tiga komposter an-aerob dari tong plastik. Yang nomor 1, ukuran 40 liter, saya pasang pada 2006. Tong nomor 2, dengan ukuran yang sama, ditanam pada 2007.

Komposter nomor 3, ukuran paling besar, 90 liter, saya pasang pada 24 April 2008 silam. Komposter-komposter itu ditanam sejajar. Bila diukur, kira-kira hanya menghabiskan lahan kurang dari 2×1 meter persegi.

Ketiga komposter itu saya pakai bergantian untuk “menabung” sampah organik rumah tangga. Ketika tong 1 penuh saya pindah ke tong 2, demikian seterusnya. Nah, komposter nomor 3 pada 1 Januari 2009 lalu telah full dengan sampah organik rumah tangga.

Sedangkan komposter  2, sampah organiknya telah berubah menjadi kompos. Prosesnya, sejak tong penuh hingga menjadi kompos sekitar 8 bulan (24 April 2008 – 1 Januari 2009).

Komposter 3 penuh dengan sampah organik rumah tangga dalam waktu 8 (delapan) bulan.

Komposter 3, ukuran 90 liter, penuh dengan sampah organik rumah tangga dalam waktu 8 (delapan) bulan.

Sebenarnya tong nomor 1 sampah organik rumah tangga juga sudah berubah menjadi kompos. Namun karena komposnya masih sangat lembab, maka tidak saya panen dulu, hingga nanti tong 2 penuh.

Jadilah pada hari pertama 2009 itu, saya panen kompos an-aerob. Bentuk dan baunya mirip tanah. Begini proses panen komposnya :

Sampah organik rumah tangga yang sudah menjadi kompos diambil dengan menggunakan cetok (sendok pasir). Pakai sarung tangan karet biar higienis.

Sampah organik rumah tangga yang sudah menjadi kompos diambil dengan menggunakan cetok (sendok pasir). Pakai sarung tangan karet biar higienis.

Tong ukuran 40 liter dasarnya cukup dalam. Tangan saya masuk hingga di atas siku.

Tong ukuran 40 liter dasarnya cukup dalam. Tangan saya masuk hingga di atas siku.

Kompos dari dalam tong dipindah ke dalam polybag agar rapi dan mudah diambil.

Kompos dari dalam tong dipindah ke dalam polybag agar rapi dan mudah diambil.

Kompos di polybag diangin-anginkan di tempat teduh agar tidak terkena hujan.

Kompos di polybag diangin-anginkan di tempat teduh agar tidak terkena hujan.

Kompos pun siap digunakan. Bagaimana? Mau mencoba? Syaratnya gampang banget: pola pikir Anda tentang sampah harus diubah.

Iklan

8 responses to “Panen Kompos di Tahun Baru

  1. saya sudah baca blog pak Sobirin, bu Christine dan sekarang mas Adhi, keren bin dahsyat…:)

    saya sudah bertanya pada pak Sobirin bagaimana mengatasi sampah popok bayi dan pembalut, bisa dilakukan sejenis anaerob di tanah langsung tapi butuh waktu lama karena ada unsur anorganik-nya di popok bayi dan pembalut.
    bagaimana menurut mas Adhi?

    Untuk pembalut/popok dan sebagainya, selama ini yang saya lakukan adalah membersihkan terlebih dahulu kotoran yang melekat dengan air dan sabun.

    Boleh juga dibilas dengan diisinfektan seperti Detol dsb. Kemudian popok/pembalut bekas itu dapat “disimpan” sementara dengan dibungkus kertas koran – agar cepat kering, di dalam karung.

    Saya sendiri tidak memasukkannya ke dalam komposter an-aerob/dimasukan lubang, karena perlu waktu sangat lama untuk mengurainya.

    Di rumah saya, khusus untuk sampah seperti popok/pembalut dan yang sama sekali tidak dapat didaur ulang oleh tenaga manual, diambil oleh petugas kebersihan dari DKP.

    Kadang, sampah anorganik yang dapat di daur ulang saya antar sendiri ke pelapak dekat rumah. Sudah saya pisahkan dalam karung: kertas, plastik bening, botol bekas, dll.

    Memang seharusnya tugas pemerintah itu menangani sampah yang tidak dapat didaur ulang secara manual/teknologi rendah oleh warga.
    Yang organik/dapat didaur ulang warga, dimanfaatkan menjadi bahan pupuk atau kerajinan yang tidak perlu mesin canggih.

    Oh iya, saya dan keluarga “membuang” sampah anorganik rumah tangga 3-4 bulan sekali yang diambil petugas DKP, atau saya berikan saja kepada pemulung yang kebetulan lewat rumah.

    Bagaimana? Berani menerima tantangan yang ditawarkan Pak Sob, Mbak Christin, dan saya? Hehehehe….
    Terima kasih sudah berkunjung.
    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s