Agar Si Gajah Tak Gampang Rebah


Roda boleh sama dua, tetapi perlakuan harus beda. Itu karena jenis motor secara kasat mata memang berlainan. Yang satu bermesin kecil dengan berat puluhan kilogram, yang lain berbobot ratusan kilogram dengan kapasitas mesin jumbo dan tenaga gajah.

Tak heran bila tidak semua orang bisa mengendalikan motor besar bertenaga badak itu. Ini yang dialami Adi Nugroho, presenter televisi swasta, penggemar motor besar. Dia mengaku baru tahu cara memegang setang secara benar setelah mendapat penjelasan dari instruktur terlatih. “Tidak semudah itu ternyata,” ucap pemilik Harley Davidson Electra Glide Police itu.

Tak hanya Adi, para pengguna motor besar yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888 pun mendapat pengetahuan tambahan cara berkendara motor besar secara benar dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Bertajuk Ride Like A Master, anggota IBS mendapat bekal teori dan praktek selama dua hari, Sabtu dan Minggu, pekan lalu. Dengan antusias tinggi mereka pun datang dengan membawa tunggangan masing-masing, dari Harley Davidson hingga Honda Goldwing.

Selain menggunakan motor pribadi, para peserta juga disediakan sebuah Harley Davidson Dyna Street Bob. Motor buatan 2007 itu digunakan untuk praktik lapangan.

Menariknya, acara itu dihadiri dua pakar safety riding bersertifikat international: Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensife Driving Consulting (JDDC), serta Joel Deksa Mastana, master instruktur dan direktur Safety Ride & Drive Center, Jakarta. “Kesempatan langka mendapat ilmu dari dua orang pakar safety riding skala international,” ucap Arif Syahbani, salah satu peserta undangan dari komunitas sepeda motor.

Menurut Jusri Pulubuhu, direktur dan instruktur JDDC, kursus singkat semacam itu penting mengingat para pengendaranya bukan pengguna motor harian. “Mereka weekend biker, sehingga jam terbangnya kurang,” katanya melalui surat elektronik, Selasa lalu.

Pelatihan yang melibatkan instruktur bersertifikat, lanjut Jusri, akan mengurangi kecelakaan sebelum, sedang, dan sesudah berkendara.

Joel Mastana menambahkan, kesalahan yang paling sering dilakukan para pengendara motor besar adalah kurangnya pemahaman dalam berlalulintas dan kurang akrab dengan motor yang digunakan. “Kemampuan berkendara, karakter motor, serta penggunaan perlengkapan kendaraan juga kurang,” kata Joel.

Dijelaskan Jusri, seorang pengendara motor besar harus dapat mengoperasikan motor dengan terampil. Misal, terkait dengan whell base (jarak sumbu roda) yang panjang, ketika menikung, bila tak disikapi dengan benar, maka akan melebar. “Ini tentu menyulitkan si pengendara dan mengganggu pemakai jalan lainnya,” papar Jusri. “Kecelakaan pada situasi itu mudah terjadi.”

Oleh sebab itulah, baik Jusri maupun Joel, mewanti-wanti kepada para pengendara motor besar agar berlatih lebih dahulu secara benar sebelum turun ke jalan.

Motor besar berkapasitas mesin hingga lebih dari 1.000 cc dan mempunyai bobot 250 kilogram hingga 400 kilogram, itu, memang membutuhkan kemampuan khusus untuk dapat mengendalikannya.

Tentu agar weekend turing berlangsung aman dan nyaman. Bruuummm…..

*Tulisan pernah dimuat di Koran Tempo, edisi Kamis, 23 Oktober 2008, halaman B5, Info Otomotif. Atau simak di tempointeraktif.com

5 responses to “Agar Si Gajah Tak Gampang Rebah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s