Kompos An-Aerob Sudah Jadi Lagi


Sudah lama saya tidak menengok dua komposter an-aerob saya. Di rumah ada tiga buah komposter an-aerob: semuanya dari tong plastik, satu ukuran 90 liter, dua lainnya berkapasitas 50 liter.


Komposter paling besar yang saya isi sejak Januari 2008 lalu kini hampir penuh – kira-kira sudah 3/4 isinya. Komposter itu saban hari diisi dengan sampah organik basah ( sisa nasi, bekas masakan, kulit telur, tulang ayam/sapi/kambing, kulit/biji/bonggol buah, dan sebagainya.

Kini komposter besar itu, untuk sementara sepertinya harus pensiun menerima sampah organik baru. Selanjutnya, tugas pengomposan diserahkan kepada dua tong saudaranya. Tentu setelah komposnya dipanen.

Pagi tadi saya buka kedua tutup komposter lama itu. Ternyata, sampah organik yang berada di dalamnya sudah berubah menjadi kompos. Warnanya hitam pekat, jauh lebih hitam dibandingkan kompos aerob yang saya buat di komposter aerob saya.

Tong yang satu, komposnya lebih halus dibanding tong lainnya. Proses pengomposan itu memang saya biarkan lama, sekitar 10 bulan, sejak komposter an-aerob besar pertama kali digunakan pada Januari 2008 silam.

Perlu Dicacah
Agar komposter tidak cepat penuh dan lebih gampang terdekomposisi, sebaiknya bahan-bahan organik ukuran besar dicacah terlebih dahulu. Misalnya bonggol jagung, biji mangga, biji dan kulit durian, tulang ayam/sapi/kambing, dan sebagainya dicacah sebelum dimasukan ke dalam komposter.

Ini kedua kalinya komposter an-aerob saya menghasilkan kompos. Akhir April 2008 lalu, sebagian besar kompos an-aerob di komposter pertama juga pernah dipanen, dan diminta tetangga untuk menanam sayuran di rumah. Sisanya saya biarkan, dan tak pernah saya isi bahan organik lagi, karena saya pengen tahu hasilnya jika dibiarkan lama.

Ternyata, kompos an-aerob yang dibiarkan lama (10 bulan) bentuknya halus, mirip pasir. Untuk saat ini, kompos an-aerob yang sudah jadi itu belum saya panen. Menunggu komposter an-aerob besar full loaded dulu.

15 responses to “Kompos An-Aerob Sudah Jadi Lagi

  1. Ping-balik: Mengapa Komposter Kita Berbelatung?·

  2. btw boleh nanya bentuk/penampakan BSF fly dan phoenix worm itu gmn ya Pak? trus ngebedain ma belatung biasa gimana?? katanya sih BSF grub is the best composter… tapi.. hiii

    • mas Riyanto, sisa nasi, remah roti, sayur basi, kue, tulang ayam, tulang sapi bisa dimasukkan ke komposter an-aerob. Tentu saja, tulang akan butuh waktu lama terdekomposisi. Semoga jelas. Salam,

  3. keren pak…

    jadi tambah kepengen bikin yang anaerob neh.
    mau tanya dong, itu media tong dilubangi ga bawahnya sebelum dikubur?

    Mas Vladimir, dasar tong dilubangi sebanyak mungkin, begitu pula dinding tong.

  4. @ Kang Kiki,
    Sepertinya komposter Anda jenis aerob ya? Untuk komposter seperti itu, sampah organiknya memang harus spesifik lagi. Artinya, sampah organik yang dimasukkan ke dalamnya tidak bisa sembarangan. Istilah saya, sampah organik kering, semisal potongan sayur segar, atau bekas potongan daun di taman.

    Kalau sisa buah atau sayur yang “berdaging”, memang mengundang belatung dan lalat. Karena menjadi media lalat untuk bertelur, dan sayuran organik “basah” itu menjadi santapan belatung. Kecuali Anda menggunakan aktivator tertentu yang berfungsi mengurangi proses “pembusukan” itu.

    Sampah dapur sisa masakan, nasi basi, bekas roti, dll juga tak bisa dimasukkan ke dalam komposter jenis ini. Karena pasti menimbulkan bau dari proses dekomposisi.

    Oleh sebab itulah, kenapa di rumah saya ada dua jenis komposter. Satu an-aerob, satunya lagi aerob. Komposter an-aerob, segala macam sampah organik (basah dan kering) dapat dimasukkan. Dengan catatan, komposternya ditanam. Atau membuat komposter an-aerob tanah ala Pak Sobirin di http://clearwaste.blogspot.com.

    Komposter an-aerob saya, yang ditanam pun ada belatungnya. Ada pula bau. Kalau tutupnya dibuka. Belatung tergantung dari sampah organik apa yang Anda masukan. Bila banyak sisa buah/sayur segar, belatungnya banyak dan gede-gede.

    Kalau beberapa hari saja tidak diisi sampah organik, belatung akan berkurang dengan sendirinya. Bahkan lama-lama akan hilang, karena makanannya sudah habis. Tentu kalo komposternya tidak diisi lagi, misal karena penuh.

    Begitupun selama tutup tidak dibuka, belatung tidak banyak yang nongol ke permukaan. Belatung itu juga tak lari jauh-jauh dari komposter, karena kalo jauh mereka mati sendiri.

    Ada juga yang berubah menjadi lalat, jenis solder fly, bukan lalat ijo. Itu karena belatung di komposter saya jenis phoenix worm. Tapi metamorfosis menjadi lalat ini juga jarang terjadi. Selama saya memasang komposter an-aerob, baru beberapa kali menjumpai lalat soldier fly.

    Sedangkan komposter aerob, hanya saya isi daun. Boleh daun kering atau daun basah yang habis dipotong. Cara membuatnya silakan baca artikel saya terdahulu di blog ini dalam kategori lingkungan hidup.

    Demikian, semoga penjelasan saya dapat dimengerti.
    Salam,

  5. Mas Nadi, saya pernah bikin kompos anaerob pk drum plastik spt itu, tp gak dikubur. Belatungnya minta ampuuunn…. banyak sekali lantas mereka berubah menjadi ratusan / ribuan lalat. Takut diprotes tetangga akhirnya tongnya sekarang saya pensiunkan, diganti keranjang takakura.

    Btw, gimana mengatasi lalatnya ya Mas.. ?

  6. saya ingin sekali praktek bikin kompos saya sudah ada lahan yang kebetulan saya tanami rosella .karena tanahya yang berupa padas makanya saya berencana musim tanam berikutnya saya azkan bikin kompos sebanyaknya agar roeslla saya tumbuh lebih optimal.tapi yang jadi kendala adlah hama cabukny.walang semut,kupu2.tolong kasih masukan tentang pestisida organik yng cocok .hub saya di no hp 085290931058 syukron katsiro wassalamualaikum

  7. @ riesma
    Saya pakai tong, meniru model komposter an-aerobnya unilever peduli. Selain itu, juga portable. Sekali waktu, jika desain rumah saya berubah, dapat dipindah sesuai keinginan dan tempat yang baru. Ini karena rumah saya tipe RSSSSSSSSSSSSSS……

    @christine
    sebenarnya untuk matang, gak perlu sampai 10 bulan. Tergantung cuaca. Kalau musim kemarau bisa lebih cepat. Karena daerah saya masuk kategori Kota Hujan, prosesnya memang agak lama.

    Juga karena di rumah ada 3 komposter tong an-aerob. Satu tong, yang ukuran 50 liter, akan penuh dalam jangka waktu 4-5 bulan. Setelah penuh, sampah organik diisi ke tong berikutnya.

    Nah, tong saya yang terakhir (90 liter) itu hampir penuh pada Oktober ini. Pertama diisi Januari 2008. Jadi ya 10 bulan penuhnya. Dalam jangka waktu itu, saya memang tak pernah menengok/mengisi 2 tong yang sudah penuh tadi. Jadi, komposnya, menurut saya, hasilnya lebih “sempurna”.

    Menurut petunjuk yang saya dapatkan dari unilever peduli, kompos sistem an-aerob seperti itu biasanya akan jadi/matang dalam jangka waktu 3-4 bulan.

    Memang idealnya, setiap rumah yang bermaksud menggunakan metode ini, perlu sedikitnya 2 tong komposter an-aerob. Begitu satu tong penuh, pindah ke tong ke dua. Ketika tong ke 2 penuh, diharapkan, tong pertama sudah bisa panen kompos.

    Karena iklim di wilayah saya lebih banyak hujan, maka saya menambah satu tong lagi yang lebih besar. Karena proses pengomposan secara alami itu butuh waktu lebih lama. Maybe, saya perlu tambah satu tong lagi di kemudian hari.

    Tiga tong is not enough for me! Sambil lihat-lihat lahan yang masih tersisa. Hehehehe…..

  8. waaah… asik, kelihatannya banyak tuh komposnya… Punya mas adhi pake tong plastik pematangannya 10 bulan, lha ‘punyaku’ 1mx1m matangnya brapa tahun ya? he.he. Ini udah jalan 3 bulan volumenya blm ada setengahnya; nyusut terus. Diisi sampah dapur milik 3KK dari total 24KK…😦

  9. waaah… asik, kelihatannya banyak tuh komposnya… Punya mas adhi pake tong plastik pematangannya 10 bulan, lha ‘punyaku’ 1mx1m matangnya brapa tahun ya? he.he. Ini udah jalan 3 bulan volumenya blm ada setengahnya; nyusut terus. Diisi sampah dapur milik 3KK dari total 24KK…😦

  10. selamat ya sdh panen…
    dari dulu sbtulnya sy pingin nanya…komposter anaerob gak langsung tanah aja tp pakai tong jg…pertimbangannya apa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s