Mengapung di Bunaken


Pertama kali datang ke Bunaken? Sebaiknya urungkan niat untuk menjajal snorkeling di sini.

Bila Anda tetap nekat mencobanya………bakal ketagihan! Ini bukan canda main-main.

Sebenarnya, tulisan ini sudah nyantol di kepala, pertengahan Mei silam, sehabis working hard di Kota Tinutuan (bubur) itu. Ini juga untuk melunasi janji saya pada sahabat kompos, Christine, dari Semarang, yang pengin lihat foto-foto di Bunaken.

Kembali ke cerita snorkeling.
Terus terang saya tak bisa berenang. Keberanian mengapung di laut lepas muncul, karena si pengemudi kapal katamaran- yang juga sebagai pemandu – berjanji akan menjaga saya ketika terapung nanti.

Kelar menggunakan life jacket dan perkakas snorkel, saya pun menceburkan diri ke air garam yang membiru itu. Tentu saja pelan-pelan. Tangan saya gerayangan berpegangan di tangga kapal, serasa badan ini mau terbalik dan tenggelam.

Lama-lama saya bisa mengikuti irama gelombang laut – yang untungnya saat itu, kondisinya sedang cool. Beberapa saat kemudian saya merasa nyaman, dan keberanian pun muncul.

Tanpa dikawal berdekatan, saya memberanikan diri menjauhi sisi kapal. Asyik …. bisa mengintip dasar laut.

Sementara teman saya, fotografer, yang mahir berenang, sibuk dengan kamera underwaternya.

β€œInilah keajaiban dunia bawah laut.”

Itu kata dia dari balik google ketika kepalanya muncul di permukaan air.

Dia betah melongok kedalaman Taman Nasional Bunaken yang menyimpan harta karun dunia itu. Kawan itu menceritakan, saat mengintip kedalaman laut semeter dari permukaan, dia merasa bagaikan terbang di atas puncak gunung karang yang teksturnya sangat indah. Ribuan ikan bermain di sela-sela coral berusia jutaan tahun itu.

Dan ketika melayang di tebir jurang yang dalam, dirinya mengaku takjub dengan hamparan terumbu karang yang terpatri indah bagaikan lukisan raksasa menempel di dinding vertikal setinggi puluhan meter.

β€œSaya mau belajar diving dan memotret lukisan ilahi yang ada di kedalaman.”

Itulah kata pertama yang meluncur dari mulutnya sembari beringsut naik ke kapal.

Saya mengiyakan saja apa kata si teman itu. Lha wong saya bisanya cuma ngapung di permukaan sambil sesekali nengok ke dalam laut.

Tentu sang kawan tak asal ngecap. Bunaken yang berada di atas semenanjung Sulawesi Utara, menjadi salah satu heritage dunia. Panorama serta ragam biota laut yang menjadi harta tak ternilai tersebut menjadi incaran banyak turis nusantara maupun mancanegara untuk diving atau sekadar snorkel di laut.

Dari kota Manado, Ibu Kota Sulawesi Utara (Sulut), salah satu taman laut terindah di dunia, ini, dapat dicapai hanya dalam waktu 30 menit dengan perahu katamaran.

Manado memang identik dengan Bunaken. Area ini terdiri dari Pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen, Nain, dan Mantehage. Termasuk pula kawasan Pantai Molas, Meras, Tongkaina dan Tiwoho. Taman ini mempunyai luas tanah dan laut 75.265 hektar yang terus berkembang dan dilindungi oleh pemerintah Sulawesi Utara. Taman laut ini diresmikan oleh Menteri Kelautan pada 15 Oktober 1991.

Bunaken mempunyai paling sedikit 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan – ikan tropis dan terumbu karang. Lebih dari 150 spesies dari 58 genus di Pantai Bunaken. Lebih dari tiga ribu spesies ikan berenang dalam kawasan yang sering disebut segi tiga emas : Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia. Bunaken secara biologis dan strategis terletak di kawasan golden triangle itu.

3 responses to “Mengapung di Bunaken

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s