Umat yang Kalah


ilustrasi kubah masjid

Lamunan dari masjid kecil di Kalimulya, Depok, menjelang salat Jumat.

” Umat muslim menjadi mayoritas di negeri ini “

Begitu kata ustad di atas mimbar. Berapa ya mayoritas itu? Cari-cari di mbah Google, pada 1985 jumlahnya mencapai 86,9 persen. Ada juga yang menyebut  88 persen.

Mari berhitung sedikit. Menurut BKKBN pada 2005 jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa. Per tahun terjadi penambahan jumlah penduduk 3,2 juta jiwa. 2007 lalu, jumlah penduduk Indonesia di perkirakan 226 juta.

Bila 88 persennya umat Islam, berarti jumlahnya tak jauh dari 198 juta. Banyak juga ya?
Eit, tunggu dulu. Jumlah besar belum tentu kualitasnya juga sebanding. Ini sekadar khayalan saya di masjid kecil Kalimulya itu.

Saya teringat sebuah pesan yang sering ditempel di dinding sekolah kita waktu kecil :

“Kebersihan sebagian dari Iman”.

Ada yang bilang sumbernya bukan dari hadis rasululloh, tapi merupakan sebuah ungkapan islami yang didukung oleh hadis hasan.

Walau ada juga yang menyebutkan bersumber dari hadis. Demikian pula ustad ini yang berkata kalau kalimat itu berdasar hadis.

Tapi saya tak hendak berpolemik soal perbedaan itu, ada yang lebih penting dari pada berdebat soal sumber aslinya (meski ini juga perlu diketahui). Sejauh itu mempunyai makna baik dan mendapat “persetujuan” Alloh, why not?

Saya khayalkan, di masjid kecil itu, bila tidak bersih, maka imannya hanya setengah. Setengah dibanding satu (full) tentu beda jauh. Baterai HP yang tinggal separuh tentu gampang drop dibanding yang full charge.

Jumlah umat muslim Indonesia 198 juta – jika, ekstremnya sebagian besar, katakanlah 180 juta, kehilangan “separuh iman” tadi, maka jumlah riilnya hanya berkisar 90an juta saja.
Pantaslah bila umat muslim yang kabarnya mayoritas itu, jadi “minoritas” dan melempem, karena tenaganya hanya tinggal setengah.

Ceritanya begini, negara kita ini adalah negeri sampah. Kita tak mau mengurus sampah dengan baik, mengelolanya sehingga bermanfaat dan mendatangkan berkah. Di Jakarta saja, tumpukan sampah selama dua hari dapat untuk mendirikan bangunan setara Borobudur. Huebat khan?

Negara lain yang lebih maju, yang mayoritas penduduknya non-muslim justru bersikap islami dengan mengelola sampahnya dengan baik dan mendapatkan untung besar, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi. Di negeri Sakura itu, dengan kerja keras, pencemaran berat di sungai Murasaki, Kitakyushu, berhasil dilakukan. Butuh waktu 20 tahun untuk melakukannya.

Lha kita? Yang ngakunya mayoritas muslim, malah bertindak brutal terhadap alam dan lingkungan. Sama sekali tak islami.

Dalam lingkup kecil, di komplek saya, katakanlah perum perbebalan, yang tercatat mayoritas muslim juga segendang sepenarian. Pada 2007 lalu, dan ditindak lanjuti awal 2008 ini, atas usul saya dan beberapa warga, termasuk Pak RW yang peduli soal sampah, berniat membuat pengolahan sampah terpadu tingkat RW.

Lokasinya direncanakan di lahan fasum dan fasos yang tersedia di pinggir komplek. Di sana sampah organik rumah tangga disulap jadi kompos, yang an-organik dikumpulkan dan dipasarkan melalui pemulung ato pelapak.

Bila program ini berjalan, diharapkan problem sampah 500 KK di komplek bakal tertangani, minimal berkurang signifikan. Rencananya iuran sampah yang sudah berjalan selama ini, dananya akan dialihkan untuk operasional pengolahan sampah tersebut. Juga akan memberdayakan petugas sampah dan warga yang kurang mampu di komplek untuk dapat menambah penghasilan dari tempat pengolahan itu.

Tapi niat baik belum tentu ditanggapi dengan sikap baik pula. Karena bakal lokasi pengolah sampah berada di RT saya (jaraknya hanya 30-an meter dari rumah saya) maka sosialisasi pun mutlak dilakukan. Sosialisasi awal yang saya lakukan bersama pengurus RT ke warga yang lokasinya berdekatan dengan calon pengolahan sampah berbuah hujatan.

Warga yang tinggal satu blok dengan saya menolak mentah-mentah sambil mengeluarkan kalimat dan kata-kata tajam kepada saya dan keluarga.

“Katanya orang pinter kok malah ngurus sampah”

“Dasar orang gila”

Dan masih banyak lagi yang terdengar maupun tak terdengar.

Istri saya sampai stress berat karena dimusuhi orang se-blok. Akibat daya tahan tubuh menurun, istri terkena tipus dan musti dirawat beberapa hari di rumah sakit. Kelar dari rumah sakit gantian anak yang panas demam, mungkin kecapean nungguin ibunya di rumah sakit.

Karena situasi makin panas, beberapa waktu kemudian Pak RW turun tangan, dan berdialog dengan warga satu blok. Walau pun telah dijelaskan beberapa kali, bahwa pengurus RW dan panitia kecil telah melakukan studi banding ke Perum Griya Melati, Bubulak Bogor, yang sukses mengolah sampah secara mandiri, namun sebagian kecil warga itu bergeming.

Pak RW meminta warga yang menolak untuk ikut meninjau tempat pengolahan sampah itu. Sarana transportasi juga akan disediakan. Intinya, Pak RW yang cukup sabar itu, menawarkan alternatif solusi cara pengolahan sampah yang sukses di komplek lain.

Alih-alih menyambut tawaran tinjauan lokasi, sebagian kecil warga itu berkeras menolak. Ketika ditanya alternatifnya apa? Mereka tak mampu menjawab. Ada yang usul pakai pikap omprengan untuk angkut sampah. Tapi mereka gak mau jika iuran sampah dinaikkan. Di ajak meninjau lokasi percontohan juga gak mau.

Lha wong belum tahu, merasakan, dan melihat kok bilang tahu dan gak mau. Ini seperti mereka sok tahu nebak kucing dalam karung, apa benar kucing atau anak anjing, atau justru bukan kedua-duanya. Inilah tanda orang-orang bebal.

Karena dead lock, Pak RW memutuskan menunda dulu program ini, sampai ada perkembangan lebih lanjut. Kabar terakhir, sepertinya komplek perbebalan tempat saya tinggal akan menggunakan jasa Cipta Karya yang bakal menjemput sampah di komplek. Konsekuensinya, iuran sampah bakal naik drastis.

Tahun lalu, saat Dinas Cipta Karya presentasi di RW, biaya angkut seminggu dua kali tiap KK dikenai 6000 rupiah. Bila frekuensinya meningkat, misalnya tiga kali seminggu harganya (kalo nggak salah menjadi 9000 rupiah). Itu tahun lalu. Pasti harga 2008 berbeda dengan 2007.

Dari sisi ekonomi, jelas ini pemborosan. Karena kita hanya numpang “tolong buangin” sampah. Begitu terus saban minggu, bulan, dan tahun. Jika asumsinya jasa Cipta Karya pada 2008 sebesar 10 ribu dikali 500 KK, berarti Rp 5 juta terbuang percuma saban bulan. Setahun Rp 60 juta ikut tertimbun di Pondok Rajeg, tempat pembuangan akhir sampah (TPA).

Dari sisi lingkungan ini juga pemerkosaan brutal terhadap alam. Lahan TPA semakin menipis. Pemerintah tentu kesulitan mencari lahan luas untuk TPA dengan model konvensional itu. Masih ingat tragedi longsornya TPA Leuwi Gajah di Bandung beberapa waktu lalu?

Dari sisi UU juga akan berkonfrontasi, karena DPR sudah mengesahkan RUU Pengolahan Sampah pada 9 April lalu.

Bagaimana dari sisi keimanan? Ya, seperti yang sudah saya tulis di atas tadi, tampaknya iman kita, kaum muslimin, hanya tinggal separoh. Mana bisa kita melangkah dengan tenaga setengah? Pastilah terengah-engah.

Lalu apa yang saya lakukan? Sudah hampir dua Idul Fitri ini, saya menerapkan pemilahan sampah di rumah. Yang organik masuk tong komposter aerob dan an-aerob, yang an-organik saya kumpulkan terpisah. Bahkan sejak awal 2008, sampah an-organik berupa plastik, kertas, dan sebagainya saya bersihkan dan dimasukkan ke dalam karung, untuk nantinya dilepas ke pemulung atau pelapak.

Tukang sampah yang saban dua hari memungut sampah terheran-heran dengan rumah saya.

Apa ibu ini tak pernah masak atau belanja ya? Kok gak ada sampah di sini?,”

Begitu ucapnya. Akhirnya dia tak pernah datang lagi ke rumah saya ngambil sampah. Walau begitu saya tetap konsekuen membayar iuran sampah tingkat RT.

Nantinya, bila Dinas Cipta Karya yang ketiban sampur mengangkut sampah di komplek saya, dengan tegas saya bilang,

“Maaf saya tak ikut iuran sampah. Saya kelola sampah rumah tangga saya sendiri. Iuran sampah dari saya tolong disumbangkan ke masjid atau khas RT saja.”

Sebab saya tak mau melangkah dengan setengah iman. Semoga Alloh meridhoi niat baik kami yang berusaha mempertahankan separoh iman ini. Amiiin.

3 responses to “Umat yang Kalah

  1. Inilah tnda2 manusia yg tlh lupa kodrat dn tujuanya hidup, lebih mementingkan dunia drpd akhirat, ingat dunia ini hnya sekejab.
    Hidup itu hrus dilandasi dngan iman, tmpa iman orng pintar-sepintar apapun tk akn bermanfaat apa2, yg ada hanya akan menimbulkan kejaliman dn pengrusakan di muka bumi ini.

  2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas. Yang diperlukan negara ini adalah pengembangan SDMnya dulu biar kualitasnya bagus. Peran para pemimpin yang dapat dijadikan teladan sungguh sangat berarti. tak perlu menjadi negara islam, yang penting masyarakat tahu dan mau mengaplikasikan ajaran islam dalam kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s