Korban Blind Spot Tikungan


KTM nikung

Semestinya belokan itu dilaluinya dengan mulus. Seperti yang telah dia lakoni puluhan kali di jalan itu. Tapi, hari itu memang naas baginya. Seseorang menyeberang jalan tiba-tiba. Dan Muhib, sobat saya, yang menunggang Vario, spontan menghindar sambil membejek rem dalam-dalam. “Tahu-tahu dia menyeberang, saya tak melihatnya,” tuturnya kepada saya, di sebuah siang gerimis, dalam sebuah perhelatan roda dua, Sabtu pekan lalu.

Motor matik yang menemaninya hampir setahun ini menggelepar di aspal. Bibirnya robek mengiris aspal, punggung tangan kirinya luka cukup dalam, lutut bengkak-susah berjalan, punggung kaki cuil mengelupas, dan bahu belakang terasa nyeri. Itu pengakuan jurnalis andal ini yang membuat saya miris mendengarnya.

Sebelum terjatuh, dia mengaku sudah melambatkan Varionya sebelum masuk tikungan, dan bersiap ngegas lagi (slow in-fast out). Karena penyeberang ceroboh, sobat saya itu datang ke kantornya dengan berdarah-darah. “Saat itu belum terasa sakitnya. Mungkin masih syok,” katanya.

Sebuah kecelakaan selalu melibatkan 3 faktor; pengendara, kendaraan, dan lingkungan. Nah, peristiwa yang menimpa Muhib memenuhi 3 syarat tersebut.

Oh iya, dalam hal ini saya bukan ahlinya untuk menganalisa sebab musabab kecelakaan itu. Tapi, saya hanya ingin berbagi dengan teman, sobat, bro-bro lain, pendapat saya soal kejadian yang menimpa rekan berkaca mata ini.

Pertama, Pengendara. Rekan saya itu menderita luka ringan-menengah hampir di sekujur badannya. Dari muka, tangan, kaki, hingga bahu. Luka itu pasti membatasi kinerja dan ruang geraknya. Saat kecelakaan, teman saya itu “hanya” mengenakan helm half-face, tanpa sarung tangan, jaket biasa, dan sepatu kets pendek. Luka-luka yang dia derita mencerminkan jenis proteksi apa yang dikenakan ketika berkendara. “Sepatu ridingnya basah bro, kehujanan, jadi gak saya pakai,” ujarnya.

Si pengendara terkena blind spot di tikungan. Dia tidak melihat pergerakan obyek yang ada di balik tikungan. Itulah yang membuatnya kaget.

Kedua, Kendaraan. Sistem gerak dan rem Vario berbeda dengan bebek. Motor matik itu minus engine brake ketika gas dilepas. Rem depan belakang ada di setang kiri-kanan. Rem depan di kanan, rem belakang di setang kiri.

Dalam kondisi wajar, pengendara dapat mengerem dengan kombinasi-yang dianjurkan di jalanan kota- depan belakang sebesar 60:40. (Soal ini saya berlatih tiap hari dengan menggunakan kombinasi 70:30 dan sekarang belajar ke 80:20).

Ada perbedaan besar ketika mengerem skutik dan bebek. Mengerem skutik perlu membiasakan diri dengan tangan kanan dan kiri. Berapa porsi tekanan kanan-kiri. Beda dengan bebek / motor konvensional lain. Rem ada di tangan kanan (depan) dan kaki kanan (belakang). Ini juga perlu latihan kompresi tekanan.

Permasalahannya, ketika pengendara bebek “beralih” sementara / permanen ke model skutik, ada sejumlah kebiasaan yang turut berevolusi. Salah satu yang paling kentara ya…soal cara pengereman tadi. Saya tak tahu apakah sobat saya itu sudah membiasakan diri dengan perangkat rem skutik tadi, setahun belakangan ini.

Ketiga, Faktor Lingkungan. Dalam hal ini adalah tikungan. Sebagian besar “menyajikan” blind spot. Orang yang menyeberang di dekat tikungan selalu tak terlihat kendaraan dan tak melihat obyek bergerak dari balik belokan. Saya cenderung melihat, bahwa si penyeberang jalan itu ceroboh. Mungkin dia tidak tengok ka-ki-ka (kanan-kiri-kanan, rumus baku sebelum memotong jalan). Faktor lingkungan inilah yang diluar kuasa kita sebagai rider. Upaya untuk menekan dominasi lingkungan lebih kepada faktor 1 dan 2 tadi, waspada dan selalu kenali kendaraan kita.

Semoga kita dapat belajar dari pengalaman di sekitar kita. Sing sabar yo Cak Muhib. Salam selamat sehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s