14 November 2009

Sosok motor sport baru Yamaha, yang di India berkode FZ16, beberapa kali menampakkan diri di jalanan seputar Jakarta-Depok-Bogor. Publik penggemar motor sport pun bertanya-tanya,”Kapan diluncurkan? Apa nama motornya?”.
Kabar yang berhembus di dunia maya menyebut sebuah nama:Byson. Tapi nama itu pelan-pelan sirna. Soalnya, tak ada konfirmasi pasti dari petinggi Yamaha Indonesia, soal peluncuran dan nama produk.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Auto Flash, Renungan, Travel Warning | Ditandai: blogger, data motor, data perindustrian, FZ16, gosip motor baru yamaha, kompas, motor baru yamaha, otomotif, spesifikasi FZ16, test ride yamaha, yamaha byson, yamaha FZ16 |
Permalink
Ditulis oleh nadi
7 November 2009

Ini tulisan terakhir seri mudik kuliner Lebaran lalu. Sebenarnya, di Solo, masih ada makanan tradisional atau jajan pasar, yang menurut saya layak untuk diposting. Ambil contoh; ketan juruh, klepon, cenil, karak, maupun gendar.
Hanya saja, waktu mudik Lebaran silam, saya tidak sempat mencari makanan-makanan itu. Lain waktu, jika ada waktu dan kesempatan, Insya Allah akan saya tambah lagi tulisan soal kuliner dari Solo.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Lingkungan Hidup, Riding Experience, Travel Warning | Ditandai: cabuk rambak, gendar, jajan pasar solo, karak, wijen, wisata kuliner solo |
Permalink
Ditulis oleh nadi
27 Oktober 2009

Inilah jajanan tradisional Solo. Penjualnya biasa beredar dari kampung ke kampung dengan tenggok (bakul gendong). Satu porsi (pincuk daun pisang) ditawarkan seribuan. Brambang asem ini terdiri dari daun kangkung tela (daun ketela, jlegor dalam Bahasa Jawa), yang dikukus setengah matang. Lalu di atasnya diguyur sambal cair yang rasanya manis pedas.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Travel Warning | Ditandai: brambang asem, jajan pasar solo, keplek ilat, wisata kuliner solo |
Permalink
Ditulis oleh nadi
22 Oktober 2009

Dawet ini memang unik. Dikenal sebagai dawet Bayat, karena penjualnya berasal dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Namun jualannya di Jalan Raya Prambanan, puluhan kilometer dari tempat asal si penjual.
Warung dawet (di Jakarta biasa disebut es cendol) ini juga unik. Cukup berada di pinggir bahu jalan, sekitar satu kilometer setelah Candi Prambanan. Pengendara arah Yogyakarta biasa mampir di warung dawet kiri jalan ini.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Travel Warning | Ditandai: dawet bayat, dawet prambanan, es cendol, fermentasi, gula jawa, klaten, prambanan, wisata kuliner solo |
Permalink
Ditulis oleh nadi
18 Oktober 2009

Warungnya kecil, kurang dari setengah lapangan badminton. Dinding depan dari gedek (anyaman bambu). Atapnya genteng dipadu seng. Lantai dari tegel kembang-kembang yang sudah kusam karena sering diinjak orang. Tiga meja makan dan kursi dari kayu bentuknya memanjang, khas warung pinggiran.
Warung soto sederhana ini berada di Cungkrungan, salah satu desa di wilayah Klaten. Tepatnya berada di pinggir Jalan Raya Delanggu – Klaten. Kilometernya saya tidak ingat persis. Mungkin sekitar 3-4 kilometer setelah Delanggu arah Klaten.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Auto Flash, Travel Warning | Ditandai: ayam kampung, cungkrungan, daging ayam kampung, delanggu, karesidenan surakarta, KFC, klaten, kuliner solo, soto gedek, soto gedek cungkrungan, tahu pong, wisata kuliner solo |
Permalink
Ditulis oleh nadi