Misteri Jatuhnya CB150 Rider


Rider CB150 Down - 'Jalan Parang Tritis - Google Maps'

“Maseeeee koncone dhawaaah! Wonten tikungan mriko….! (Mas temannya jatuh di tikungan sana),”  teriak seorang pria warga setempat kepada kami yang sedang berhenti di tepi jalan Imogiri – Parangtritis, Yogyakarta, Minggu siang, pekan lalu. Sedetik kemudian, pria itu melaju dengan motor bebeknya ke arah Parangtritis.

Deg! Firasat saya langsung mengatakan,”Jangan-jangan Mas Iksa yang ndlosor.” Berempat, saya, Bro Stephen Langitan, Bro Ardy, dan Road Captain dari Paguyuban Motor Honda Yogyakarta (PMHY) pun bergegas balik arah ke lokasi kejadian, sekitar 3 kilometer dari tempat kami rehat menunggu rider lainnya.

Tubuh tambunnya tergeletak di rumput pinggir jalan. Kepalanya bersandar ke pangkuan istrinya. Beberapa orang memeriksa kondisi tubuhnya. Tangan, kaki, badan, kepala. “Kaki saya rasanya keselo,” ujar lelaki berambut keperakan itu lirih. CB150 ikut ‘luka’. Tuas kopling patah 3/4. Baret memanjang di bagian kiri bodi, dari ujung stang, cover tangki, hingga speedometer.

Benar intuisi saya. Mas Iksa yang terjerembab di aspal tikungan menanjak arah Parangtritis. Syukurlah, yang bersangkutan luka ringan. Hanya masih shock gawal dari motor  gres tersebut. Saya dekati dia, dan saya jabat tangannya memberi semangat. Mas Iksa tersenyum sembari meringis. The show must go on. Rombongan yang mengendarai CB150 pun melanjutkan perjalanan menuju Parangtritis. Mas Iksa nunut di mobil panitia.

Semenjak itu perbincangan mengenai muasal jatuhnya Mas Iksa tak henti dibahas. Saya menduga, Mas Iksa kagok menggunakan motor kopling, karena dia keseharian menggunakan motor matik. Bro Stephen Langitan (SL), Bro Didik, dan Cuk Mitro pun menduga hal yang sama.

Pasalnya, saat start di depan Hotel Royal Ambarrukmo, ujar Cuk Mitro dan Stephen, Mas Iksa terlihat kesulitan melepas kopling dan mengatur gas. Apalagi motor dalam kondisi belok patah. “Untung gak jatuh saat start,” kata Bro SL.

Saat kejadian, menurut Cuk Mitro yang berada dua motor di depan Mas Iksa, ada truk yang muncul dari arah depan mengambil posisi agak tengah. Iksa membanting motor ke kiri, menepi, dan mengerem. Sayang pasir tepi jalan membuat motor tergelincir dan gawal.

CB150 di belakangnya, yang dikendarai Pak Ferry dari AHM, tak kuasa menghindar. Langsung menubruk motor Mas Iksa dan ikut gusrak. Hanya saja, Pak Ferry lebih dini mengontrol motor. “Saya jatuhnya enak. Rebahan,” kata dia sambil tertawa kecil. Namun, tak urung rain coat kuning yang dikenakannya sobek di paha kanan. Tak ada luka di tubuhnya.

Oh iya, seperempat perjalanan awal, rombongan yang berjumlah 15 motor CB150, terpapar hujan sangat deras. Memasuki Jalan Raya Imogiri, hujan mereda. Untungnya saat Mas Iksa crash cuaca lebih bersahabat.

***

Nun jauh di Bandung, Jawa Barat, saya mendapat cerita menarik dari kolega saya Eyang Edo (EE). Saat akan mengendarai Vixion anyar bersama rombongan jurnalis dan blogger, ada dua orang jurnalis yang memutuskan tak mengendarai motor baru Yamaha itu.

“Saya gak biasa naik motor sport kopling. Saya bonceng saja,” ujar Bro Gatot dari Sinar Harapan, seperti ditirukan EE yang menceritakan kepada saya via telepon Senin (17/12) pagi. Satu lagi jurnalis, EE melanjutkan, juga memilih menjadi pillion karena keseharian pakai motor matik.

Saya jadi ingat 2007 silam, saat Vixion edisi awal meluncur pertama kali di Kota Kembang. Bro Gatot, saat itu juga membonceng ke sejumlah rekan. Alasannya sama, tak biasa mengendarai motor kopling. Tak ada gengsi yang dipertaruhkan demi keselamatan. Great!

***

Menurut saya, berkaca dari the down of CB150 rider, ada dua persoalan mendasar yang patut kita perhatikan bersama. Pertama, sebaiknya calon pengendara sadar diri akan kemampuan, keterbatasan, dan kebiasaan dalam mengendarai motor. Jangan memaksa diri di luar kemampuan dan kebiasaan.

Yang kedua, di masa mendatang, ‘screening’ dari AHM selaku penyelenggara sebaiknya lebih ketat lagi. Misalnya dengan menanyakan apakah calon pengendara motor familiar dengan motor A, B, dan seterusnya.

CB150 crash at Parangtritis

Memang, takdir tak bisa dilawan jika Tuhan sudah berkehendak. Tapi setidaknya, manusia sudah ikhtiar semampunya. Jika demikian, bukan tak mungkin akan menjadi mestakung alias semesta mendukung.

***

Di tengah kantuk yang mendera, Minggu tengah malam, di kamar rumah saya, setengah sadar, ada wadag yang membisiki saya. “Sssst dia jatuh karena celelekan (becanda dan komentar belebihan ) saat di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang. Di sana kan disimpan barang-barang bersejarah dan foto-foto kuno dari masa lalu. Mungkin dia kurang tahu etika dan sejarah Jawa jadi nyeplos sembarangan mas. Terus kuwalat.”

Saya bangun seketika. Ucek-ucek mata. Masa iya sih?

About these ads

38 responses to “Misteri Jatuhnya CB150 Rider

  1. wahhh kok ya baru adaptasi dah bawa bocenger… apalagi adaptasi pake kopling…..harusnya dia posisi didepan sehingga rider yang dah mahir bisa mengikuti dan memonitor , kalo yang baru adaptasi ngikutin yang dah mahir ya pasti biyayaan kata orang jawa

    kebawa ngikutin yang dah lago ya

  2. screening & peserta juga sadar diri. karena berhubungan dengan keselamatan.
    pertimbangannya seberapa jauh penguasaan rider terhadap jenis motor tertentu dan juga jangan sembrono di jalan yang belum dikenal.

  3. Jujur, waktu kontes econo ride beat fi, agak kagok pada awalnya. Terlebih waktu itu jalanan habis diguyur hujan dan di beberapa titik rute terdapat tumpahan tanah merah. Sempat nyaris tergelincir, berhubung cuma lari di speed 40kpj, aman…
    Setuju, berikutnya mesti diadakan screening dulu sebelum lanjut

  4. Ada yang agak ngganjal…

    (BUKAN MENYALAHKAN) Mestinya biker nya lah yang tau diri skill n kondisi nya (jago manual ato semi ato matik, sehat 100% ato ndak, dll) DAN ITU JUGA BERLAKU BUAT BIKER HARIAN, mengakui saja langsung tanpa harus ditanya dulu mengenai kompetensi berkendara (jam terbang, kesehatan, kebiasaan, pemahaman medan)adalah poin pertama SAFE RIDING/DRIVING

    Masa mesti “nyalahin” pihak pabrikan yang gak screening-screening an duluan tanya “you bisa bawa model ini gak? Jam terbang you berapa? Sehat gak? Ngerti jalanan nya gak? Biasa ngebut pa nyantai? Ngerti konvoi? Pake gaya cornering mirip siapa, rossi, stoner, lorenzo, ato pedrosa?”.

    Kalo gitu ceritanya ya Sekalian aja kalo gitu bikin psikotest segala macam buat calon pembeli!? Ato sekalian ujian SIM kaya tes kerja (psikotes-interviu-medical cek up-dll) kali ya?

    Kalo Saya (mengakui, sejauh ini masih) cukup tahu diri lah, jam terbang saya lebih tinggi di bebek cc besar, meski beberapa kali pinjem punya saudara, manual dan bebek cc kecil (3nya 1 bendera, fanatik merek? Yes, indeed! Karena dibeliin orang tua ya pasrah, daripada gak ada hehe), cuma kalo naik bebek besar aja saya berani main max 80 kpj, kalo yang manual paling mentok 60 kpj, trus yang bebek kecil cuma 40 kpj karena feel nya belum dapat (biarpun sama bebek 1 pabrikan tapi sensasinya beda) setidaknya udah 2x sampe terluka (1 diantaranya rawat inap, adu kambing motor saya ±200an kg vs motor cewek ±100an kg, detilnya lupa… Efek gegar otak kali ya? Tapi seingat saya gak lebih 60 kpj Dan itu terjadi sekitar 3 bulan sejak pertama kali saya berkendara motor, newbie gitu deh, kebetulan my first ride itu ya motor manual, beda ma 2 saudara saya yang first ride nya motor semi otomatis/bebek)

  5. yup proses screening harusnya jd standar kualifikasi tester… pertama untuk mencegah hal2 yg ga diinginkan baik tester maupun barang yg ditest apalagi test dilakukan di jalan raya(umum) bila terjadi kecelakaan korban bisa jadi orang2 yg tidak terlibat test(masyarakat umum pengguna jalan)… bila dikomunikasikan dengan baik peserta test pasti tidak akan tersinggung kok… atau test dalam dua sesi terbuka dan tertutup… kalo untuk test terbuka cuma didalam sirkuit dengan rute tertentu yg tidak melibatkan masyarakat terkait keslamatan pengguna jalan lain… test tertutup pesertanya harus melalui proses screening yg jauh lebih ketat untuk uji coba seperti touring jarak menengah maupun jauh atau yang test harian yg dikondisikan berada di jalan umum… :)

  6. Semoga saja ini menjadi pelajaran ari pihak penyelnggara.. saya setuju akan tetapi saya jadi bingung kok sudah ragu malah tetep kekeh ikutan riding

  7. wuih… motor pak Ferry yg ikutan jatuh… etape berikutnya aku yg make… alhamdulillah tidak tjd apa2… slamat nyampe Jombor…. walau mbrebet2 ketika ditantang FU di ringroad barat… :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s