Beberapa waktu lalu saya memposting soal #pelit. Tak elok rasanya jika saya tidak melengkapinya dengan lawan kata #pelit, yaitu #pemurah. Siapa saja yang saya anggap #pemurah? Apakah mereka itu produsen raksasa? Individu-individu super jet set? Atau para filantropis populis?
Tidak. Mereka ini adalah benar-benar #pemurah bagi lingkungan sosialnya. Secara lahir mereka ini jauh dari kaya raya. Bisa dibilang sangat-sangat sederhana. Simple life. Bayangkan, ada seorang ibu tukang jamu, mantan pembantu rumah tangga yang bersuamikan tukang bangunan dengan kerelaan luar biasa berkeliling kampung meminjamkan buku secara gratis.
Kiswati, nama perempuan #pemurah itu lekat dengan Warabal alias Warung Baca Lebak Wangi di Parung, Bogor. Perjuangan dan keihklasannya lambat laun menuai simpati banyak pihak. Kini perpustakaannya memiliki lebih dari 7 ribu judul buku dan dilengkapi komputer dengan akses internet, plus sebuah motor boks untuk berkeliling.
Ada lagi, seorang wanita yang rela menjual rumahnya untuk memberikan pendidikan dan ketrampilan bagi para pekerja seks komersial di lokalisasi Dolly, Surabaya. Lilik Sulistyowati, aktivis Yayasan Abdi Asih Surabaya, Jawa Timur ini mendirikan yayasan itu dari penjualan rumahnya.
Nun jauh di pedalaman desa terpencil, Baun Bango, Katingan, Kalimantan Tengah, seorang yang tak lagi muda mendirikan Radio Asbun sebagai sarana pemberi informasi dan hiburan. Radio yang di gawangi Erwan Asbun ini berhasil mengurangi perkelahian massal yang kerap terjadi di sana.
Julukannya Si Jampang. Perawakannya bak pendekar. Sejatinya, Haji Chaeruddin, akrab disapa Bang Idin, memang jago silat Betawi. Keikhlasannya luar biasa. Si Jampang menyusuri ratusan kilometer Sungai Pesanggrahan dengan rakit gedebok pisang demi menghijaukan bantaran sungai sekaligus mengembalikan habitat asli di sekitarnya. Dia membuat hutan mandiri. Jauh sebelum pemerintah melontarkan slogan Menanam 1 Miliar Pohon.
Saya tahu kisah heroik ini di sini, ketika iseng mencari kisah-kisah yang menginspirasi hidup. Setidaknya pengalaman, perjuangan, dan niat mereka menjadi pengobat kegelisahan saya. Ketika lingkungan begitu kuat menekan dan meracuni bahwa “sukses itu terlihat dari materi”.
Saya yakin, sejumlah award, tepuk tangan, selebrasi sana-sini, itu bukanlah tujuan mereka. Dan saya begitu yakin, kerelaan mereka berbagi, sharing ilmu kepada sesama tidak berhenti sebatas piagam dan plakat-plakat yang menempel di tembok.
Cerita Kiswati, Erwan Asbun, Lilik Sulistyowati, maupun Bang Idin, menjungkirbalikkan pemahaman sempit tentang kesuksesan. Keraguan tentang berbagi. Benar-benar sejungkirbaliknya.
Selamat Tahun Baru 2011. Apakah sobat-sobat semua sudah jungkir balik?
*Note: gambar nyantol dari sini

semoga kita bisa menjadi pemurah dari postingan ini..amin
sulitnya berbuat dengan mata hati tanpa membawa penyakit hati… tq
mudah2an ane bisa jadi orang pemurah juga..
doaindirisendiri.com
pahlawan tanpa tanda jasa
Century yang kelaut 6,7 triliun itu apakah termasuk #pemurahnya pemerintah?
semoga yang #pelit itu lekas sadar..
semoga berokah orang yang ilmunya banyak bermanfaat untuk orang lain & mau berbagi tanpa pamrih
Kalau Rahma Azhari pemurah juga?
njungkir e wis.tp durung balik2 ki piye um?
semoga mereka mendapat pahala yang setimpal
dari siapa, yang jelas buka dari pemerintah karena pemerintah itu :…………….#pelit