Bosyen ah, ngomongin motor melulu. Sekali-kali nulis soal budaya dan adat istiadat setempat. Nah, pertengahan Juli lalu, adik ipar menikah. Kebetulan, baik pengantin pria dan putri, asli Betawi. Maka, sebelum ijab kabul, digelar pertunjukan Silat Palang Pintu. Apaan tuh?
Konon, pada masa lalu, seorang calon pengantin pria yang hendak menikahi sang gadis pujaan harus mampu mengalahkan penjaga si gadis. Si penjaga itu bisa terdiri dari saudara kandung, ponakan, atau saudara dekat lainnya.
Sebelum “bertanding” silat, kedua kelompok jawara itu saling berbalas pantun. Dari irama serius hingga pantun nan kocak. Lempar melempar pantun itu berlangsung sebagai pemanasan. Begitu suasana “memanas” kedua kelompok mulai mengadu jagoan masing-masing hingga jagoan pengantin putri(terpaksa) kalah. Begitu (kelompok) si priaberhasil mengalahkan sang pengawal, ijab kabul pun segera dilangsungkan. Soale selak kebelet
Kini, jaman telah berubah. Silat Palang Pintu berevolusi menjadi budaya yang musti dilestarikan. Lho, kenapa? Soalnya, tradisi ini kian langka digelar oleh masyarakat Betawi sendiri. Wajar mengingat untuk menggelar adat ini butuh biaya yang tidak sedikit.
Soalnya jumlah para pemainnya lumayan banyak, sekitar 10 – 12 orang yang terbagi dalam dua kelompok: jawara pengawal pengantin pria dan jagoan penjaga mempelai putri.
Untunglah, sejumlah sanggar dan komunitas Betawi melestarikan tradisi nenek moyangnya ini. Seperti gelaran Festival Palang Pintu di Kemang, Juli lalu.
*********
BONUS 1 : VIDEO SILAT PALANG PINTU
Ini saya sertakan video Silat Palang Pintu yang saya rekam saat pernikahan adik istri di Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, Juli silam.
*********
BONUS 2 : Jagoan Palang Pintu era Web 2.0







bang, bulan rajab jangan di itung itung
baca rawi pelan pelan
gue malu ame arwahye bang pitung kalo anak betawi gak punya pukulan
IKAN HIU GOYANG2 I LOVE YOU SAYANK
aye berjanji bakalan aye terusin budaya betawi..
salam kenal dari aye anak tapak saka..kp.bulak buni