Rumah yang Menari

aceh_bat_2006 (1)

Apakah yang tradisional selalu tersingkir dijegal gaya modern? Yang baru kudu menggusur old model? Mari merenung sejenak. Seringkali segala sesuatu yang lama itu dibilang kuno, jadul, udik, ndeso. Tapi acap kali justru style tradisional itulah yang dalam beberapa situasi menyelamatkan manusia dari ganasnya alam.

Nenek moyang kita ratusan, mungkin ribuan tahun lalu telah belajar bagaimana bersahabat dengan alam. Ilmu gaul alam itu diturunkan dari generasi ke generasi tentu tidak hanya untuk ditiru, tapi juga dikembangkan sesuai jaman. Sudah lama saya yakin, manusia itu semestinya karib dengan alam.

Keyakinan saya semakin kuat usai membaca laporan terkini Majalah Tempo, rubrik Gaya Hidup, Arsitektur. Dengan gamblang dijelaskan bagaimana rumah-rumah tradisional di Padang, Nias, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, tak rubuh terkena gempa besar beberapa waktu silam.

limasan-structure

Intinya, desain rumah tradisional berbahan kayu atau bambu itu, relatif tahan gempa karena lentur. Bahkan Tempo menulisnya dengan Menari Bersama Gempa. Berlebihan? Rasanya tidak. Lha wong arsitektur tradisional itu sudah teruji ratusan tahun di bumi rawan gempa ini.

Saya lantas teringat saat kraton menugaskan saya ke Aceh, Agustus 2006. Saya menginap di markas sebuah LSM berdesain rumah panggung. Bahan baku dari batang kelapa yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Salah seorang staf di sana menjelaskan, rumah kayu kelapa itu murah dari ongkos produksi dan relatif aman dari gempa.

aceh_bat_2006 (2)

Hanya saja, di kota besar di Jawa, menilik bahan bakunya, perlu biaya tinggi untuk membangun rumah utuh dari kayu. Harga kayu kualitas bagus per meter kubiknya jauh lebih mahal dibanding baja ringan, bata, beton aerasi, atau aluminium. Belum lagi usia kayu yang relatif tidak tahan lama dibanding bata atau besi.

Alternatifnya, seperti artikel di majalah berita mingguan itu, membangun rumah berbahan dasar bambu yang diyakini tahan lindu. Biaya pembuatannya, menurut artikel tersebut, juga lebih murah dibandingkan rumah konvensional.

Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah soal safety building. Terutama bagaimana menghindari atau mengatasi kemungkinan kebakaran? Soalnya kayu atau bambu merupakan bahan-bahan yang gampang terbakar.

Itulah yang membuat saya penasaran untuk segera bertemu Pak Jatnika, Ketua Yayasan Bambu Indonesia. Kebetulan tempat tinggal sekaligus workshopnya berada di dekat komplek saya tinggal. Yayasan Bambu Indonesia beralamat di  Bumi Cibinong Endah, Sukahati, Cibinong, Bogor.

Rumah bambu ala Pak Jatnika pun pantas bersanding dengan dinding rumah komplek. Seperti Dina Wulandari, yang sukses mengawinkan rumah komplek dengan arsitektur bambu.

Selain Pak Jatnika, ada pula Sahabat Bambu dari Yogyakarta yang memproduksi sekaligus melakukan konservasi bambu. Itu dilakukan demi kelangsungan lingkungan hidup dan ketersediaan bahan baku.

ShowroomSaBa (Small)

Butuh keberanian ekstra untuk memutuskan tinggal di rumah bambu di tengah arus deras gaya arsitektur modern ala barat yang ternyata nggak tahan digoyang lindu. Kearifan lokal ternyata kok lebih jenius ya? Betapa bodohnya saya yang menelan begitu saja sihir japa mantra dari negeri di luar sana. Ah!

5 Tanggapan ke “Rumah yang Menari”

  1. D Berkata:

    Yang paling afdol, bila kesadaran untuk memiliki rumah berkonstruksi bambu/kayu ini seiring dengan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam. Prakteknya bisa dimulai dengan gaya hidup tidak berlebih-lebihan : makan secukupnya, bicara secukupnya, sedekah yang cukup dan bersyukur sebanyak-banyaknya.
    Bila tidak, maka berumah bambu hanya akan menimbulkan ketidakpuasan belaka. Sayang kan? :)
    Ayo Nadi, kamu bisa :D

  2. D Berkata:

    Kesadaran untuk memiliki rumah berkonstruksi bambu/kayu ini perlu satu paket dengan gaya hidup selaras dengan alam.
    Prakteknya bisa dimulai dengan gaya hidup tidak berlebih-lebihan : makan secukupnya, bicara secukupnya, sedekah yang cukup, peduli pada tetangga dan lingkungan dan bersyukur sebanyak-banyaknya.
    Bila tidak, maka berumah bambu hanya akan menimbulkan ketidakpuasan belaka.
    Ayo Nadi, kalo saya bisa, kamu pun bisa :)

  3. girifumi Berkata:

    @nadi
    Indonesia sudah lama mengenal rumah tahan gempa yang kebanyakan berbahan kayu ,bermodel panggung.
    tapi yang di Jogja ngerti ora dab?
    kayak rumah teletubbies gitu,bantuan dari Amerika.malah kepengen punya rumah kayak gitu,hehehehe…
    aku kirim email ke alonrider,mohon dicek..
    (serius mode on)

  4. Lekdjie semprul,dab! Berkata:

    La masalahe niku,sekarang ini pohon bambu sudah langka pak?jangankan di solo yg statusnya kutho,di tempat saya-sekitaran pg.tasikmadu yg statusnya semi-ndeso aja dah jarang,paling cuman di pinggiran sungai..

  5. Moto BackPacker Berkata:

    di jogja lhan rumah joglo :P

Tinggalkan Balasan