Pengolahan Sampah Mandiri Puri Nirwana 3, Karadenan, Bogor

rumah kompos puri nirwana 3 karadenan

Inilah contoh manunggaling kawula lan praja (masyarakat dan pemimpin) di lingkungan RT 05 RW 14, Puri Nirwana 3, Karadenan, Kab Cibinong. Berawal dari kesulitan warga soal sampah yang antara lain disebabkan truk pengangkut tidak dapat menjangkau lokasi. Atas usulan Pak Diding Supriyadi, saat itu menjadi Ketua RT setempat, untuk mengelola sampah secara mandiri berbasis masyarakat.

Tempat sampah terpisah : organik dan non-organik

Tempat sampah terpisah : organik dan non-organik

Visi Pak Diding yang jauh melompat kedepan itu segera bersambut. Bersama Pak Nuhin, salah seorang pelopor program, dan sejumlah tokoh warga, segera membuat proposal pengajuan bantuan  sarana dan prasarana pengolah sampah.

bak kompos

Pak Nuhin kepada saya yang menemuinya di lokasi, Sabtu (9/5), menuturkan, pada awalnya memang ada pro-kontra soal program pengolahan sampah itu. Namun setelah menimbang sisi positif negatif,  dan juga berkat kemauan warga yang kuat, sepakat untuk menjalankan program olah sampah.

Proses turunnya bantuan juga unik, karena langsung dari Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi Jawa Barat. Menurut Pak Nuhin, proposal awalnya ditujukan ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Bogor. Karena DKP saat itu belum ada dana, Nuhin melanjutkan, proposal diteruskan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Petugas sampah memilah bahan non organik yang dapat dijual kembali. Bonus penghasilan bagi petugas sampah.

Petugas sampah memilah bahan non organik yang dapat dijual kembali. Bonus penghasilan bagi petugas sampah.

Akhirnya bantuan dari provinsi Jawa Barat pun turun dalam bentuk antara lain : mesin pencacah sampah organik, mesin pencacah plastik, tong sampah pemilah untuk warga, dan pembangunan rumah kompos.

Hebatnya, warga di RT setempat berani menyewa lahan penduduk sekitar untuk bangunan rumah kompos sebesar Rp 800 ribu setahun. “Karena kami tak punya lahan untuk bangunan,” jelas Nuhin.

Aktivator kompos untuk mengolah sampah organik.

Aktivator kompos untuk mengolah sampah organik.

Akhirnya sejak 26 Oktober 2008, pengolahan sampah mandiri itu resmi beroperasi. Dana operasional diambil dari iuran kebersihan warga sebesar Rp 6000 per bulan. Dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 120 orang tiap bulan pengurus RT menerima Rp 720 ribu.

Dana itu digunakan terutama untuk membayar honor dua orang petugas sampah sebesar Rp 400 ribu. Sisanya untuk perawatan mesin dan operasional lain. Pengambilan sampah dilakukan dua hari sekali menggunakan gerobak dorong. Untuk sementara, kompos yang dihasilkan masih digunakan sendiri oleh warga. “Karena produksi masih sedikit,” tutur Nuhin.

Kompos matang dapat pula dijadikan sebagai aktivator.

Kompos matang dapat pula dijadikan sebagai aktivator.

Mesin pencacah plastik juga belum dioperasikan, karena kolam pencuci plastik bekas belum rampung dibuat. Kedepan, Nuhin melanjutkan, plastik bekas yang sudah dicuci akan dicacah, dikemas, dan dipasarkan ke perusahaan yang membutuhkan.

Sementara ini, iuran warga kurang mencukupi untuk biaya operasional pengolahan sampah. Meski demikian, sejumlah warga dengan sukarela memberikan bantuan baik berupa materi dan tenaga untuk operasional pengolah sampah itu.

Warga sedang mengaduk bahan kompos. Dilakukan berkala agar pengomposan sempurna.

Warga sedang mengaduk bahan kompos. Dilakukan berkala agar pengomposan sempurna.

Saban Minggu misalnya, beberapa warga terlibat dalam proses pembuatan kompos: mengaduk sampah organik bakal kompos, membalik bahan kompos, maupun menyaring kompos jadi. “Ini upaya kami agar tidak mendzalimi lingkungan sendiri,” kata Pak Daud salah satu penggiat rumah kompos itu.

Bagaimana dengan bau? Tak dapat dipungkiri proses pembuatan kompos – terutama dari sampah organik rumah tangga, menimbulkan bau khas. Namun, itu bukan bau busuk seperti sampah pasar yang menumpuk tak diolah. Bau itu berasal dari proses fermentasi menggunakan bioaktivator. Jadi bau yang timbul mirip dengan bau tapai (peuyeum). Itu pun baru tercium di dekat kotak pengaduk.

Warga sedang menyaring kompos. Kegiatan diwaktu libur kerja. Ngerumpi jadi berkah.

Warga sedang menyaring kompos. Kegiatan diwaktu libur kerja. Ngerumpi jadi berkah.

“Soal bau itu relatif, nggak ada ukurannya berapa meter harus tercium. Dibanding manfaatnya yang besar, efek samping itu tidak berpengaruh terhadap tekat kami,” ujar Nuhin. Karena dianggap berhasil mengubah paradigma masyarakat soal sampah Pemerintah Kabupaten Bogor, dalam hal ini DKP, terus memberikan dukungan kepada warga dan para pengelola.

Kompos jadi dikarungin. Siap digunakan.

Kompos dikarungin. Siap digunakan.

Bentuk dukungan itu, Nuhin menjelaskan, diantaranya pelatihan kepada warga dan suplai aktivator kompos. “Jika habis kami tinggal mengambil ke DKP.” Selain itu, Nuhin dan kawan-kawan bersedia diundang untuk membagi pengetahuan pengolahan sampah mandiri.

Silaturahmi ke rumah kompos, oleh-olehnya sekarung kompos.

Silaturahmi ke rumah kompos, oleh-olehnya sekarung kompos.

Saya mencatat sejumlah poin penting keberhasilan program pengolahan sampah skala kecil ini.
Pelajaran yang dapat diambil dari warga RT 05 RW 14 Puri Nirwana 3 adalah :
1. Peran pemimpin yang inovatif, visioner, dan tegas sangat diperlukan.
2. Peran serta warga untuk aktif dan mau berkorban demi kepentingan umum sangat tinggi. Buktinya mereka “nekat” menyewa lahan demi keberhasilan program.
3. Tidak ada hasil tanpa kerja keras. No Pain No Gain.
4. Tidak patah semangat oelh kegagalan. Baik dalam proses pembangunan lokasi maupun proses pengolahan sampah.
5. Semangat untuk maju dan berkembang harus terus dipompa oleh para tokoh warga.

10 Tanggapan ke “Pengolahan Sampah Mandiri Puri Nirwana 3, Karadenan, Bogor”

  1. girifumi Berkata:

    manunggaling cakram kaliyan helm,nyambung ora son? wakakkakakaakakk..

    Nyambung, antara sikil karo endas cak……hihihihi…..

  2. ivan soerjadi Berkata:

    pak saya boleh ga melihat dan belajar pengkomposan di sana, tapi dari ilmu yang di dapat akan saya kembangkan di daerah saya

    Pak Ivan, silakan langsung bersilaturahmi ke lokasi. Biasanya Sabtu-Minggu para penggeraknya ada di lokasi.

  3. Donny Cilebut Berkata:

    saya juga urang bogor boleh gak saya minta no HP orang yg terjunlansung dlm program tsb krn benar2x bermanfaat skl.

    Mas Donny, silakan langsung menuju ke lokasi. Sabtu-Minggu biasanya para tokoh pelopor RT ada di sana. Tidak jauh kok dari tempat tinggal Anda yang di Cilebut. Salam.

    • nadifa's mother Berkata:

      pak ivan tinggal dimana? kebetulan di daerah bogor sendiri DKP (dinas kebersihan dan pertamanan ) kab bogor mempunyai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sudah ada beberapa desa yang menjadi daerah binaan DKP, diantaranya : wanaherang,karadenan,ciomas,rawa panjang, leuliyang,ciampea,pasarean,cikeas,cibatok,bojong baru,waringin jaya. Dimana setiap desa itu didampingi oleh seorang fasilitator. mungkin saja salah satu desa binaan itu lokasinya dekat dengan rumah bapak, bapak bisa minta bantuan kepada fasilitatornya untuk mensosialisasikan didaerah bapak

  4. arie slight Berkata:

    top… mestinya bisa satu lagi, kardus dan kertas bisa dipisah tersendiri dan diolah terpisah

  5. kasato paradig Berkata:

    thanks

  6. Nina Berkata:

    Pak/Bu,
    Saya dan rekan-rekan apa boleh berkunjung melihat kegiatan di lokasi pada hari senin 8 juni 09?

  7. deden k Berkata:

    salut atas tulisannya mas.. ada beberapa kunjungan yg ref. nya liat dr internet ktny (saya warga puri nirwana3) Salam dan selamat juga untuk warga Puri Nirwana 3 Mas Deden. Semoga lingkungan kita menjadi semakin bersih dan hijau.

  8. Fisca Rony Berkata:

    Pak, apakah mungkin menerima sampah dari luar? Kami di perum graha puspasari juga mengalami masalah sampah. Mohon penjelasannya.. Thx


    Mas Fisca, saya tidak tinggal di Puri Nirwana 3. Kebetulan saya pernah berkunjung kesana. Lagi pula sepertinya pengelola sampah di Puri Nirwana 3 tidak menerima sampah dari luar. Karena model pengelolaan sampah yang saat ini sedang “ngetren” adalah secara mandiri (berbasis individu atau kelompok masyarakat).

    Saya sendiri juga mengelola sampah skala rumah tangga sejak 2006 silam. Metode yang saya gunakan: komposter aerob, komposter an-aerob, dan lubang resapan biopori. Starter pengomposan menggunakan mikro organisme lokal (MOL) buatan sendiri dan EM4.

    Kenapa saya kelola sendiri? bagaimanapun persoalan sampah harus diselesaikan di sumbernya langsung, yaitu rumah tangga. Yang bisa diolah saya komposkan, yang tidak bisa, itu bagiannya pemulung dan pemerintah (sampah plastik, dll).

    Sampah bagi mayoritas masyarakat kita adalah NIMBY (not in my back yard)= asal jangan di halaman gue, begitu kata anak gaul bilang. Nah, sikap “egoistis” dan paradigma jadul semacam itulah yang, alhamdulillah, sukses saya dan keluarga ubah selama 3 tahun ini.

    Jika mau berdiskusi lebih lanjut ataupun workshop olah sampah, saya bersedia sharing informasi dan pengalaman. Semoga ini menjadi jalan kebaikan bagi kita semua. Amiiin>

    Oh iya, rumah saya di Komplek Perdagangan, dekat dengan Pemda Cibinong. Apakah email yang masuk ke kolom komentar sering dibuka? Jika iya, nanti akan saya email nomer kontak saya. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini. Salam,

Tinggalkan Balasan