Test Ride Minerva-Sachs 250 Supermoto


test-minerva-250

Apa sih yang didapat ketika riding motor anyar hanya satu putaran? Tentu saja tidak cukup banyak riding feeling yang didapat. Itulah kondisi yang terjadi beberapa saat setelah launching Minerva Sachs 250, Selasa, kemarin.

PT Minerva Motor Indonesia (MMI) menyediakan tiga unit motor test Minerva Sachs 250: sport fairing, naked bike, dan supermoto. Berhubung yang mau njajal banyak dan lintasan terbatas, peserta pun dibatasi hanya satu putaran yang sekitar 400 meter.

Saya memilih model supermoto, karena sejak awal naksir dengan bodi jangkung dan modelnya yang out of the box dibanding motor-motor lain di Tanah Air. Menurut saya, desain unik namun tidak ndeso inilah yang menjadi pemikat penyuka sepeda motor di Indonesia. Termasuk saya yang kesengsem sama model supermoto.

Bagaimana soal ketahanan bodi? Terus terang saya kurang tahu soal ini. Yang jelas, trek supermoto disebutkan 70 persen adalah tarmac (aspal) dan 30 persen tanah (dirt) dengan sejumlah jump. Tentu ini berbeda dengan arena motocross yang murni lempung dan table top menjulang. Dan tentu, menurut saya, rangka motor yang terlahir sebagai dirtbike, trail, dan semacamnya, konstruksinya lebih stiff dibanding motor biasa.

minerva-sachs-250m

Soal rangka Minerva yang dipasok Megelli, menurut pendapat saya, Megelli sudah memperhitungkan sejauh mana kekuatan konstruksi model ini untuk digunakan di (sebagian besar) jalan raya dan lintasan tanah.

Sekarang soal mesin. Awalnya saya surprise dengan keterangan di brosur yang menyebutkan power maximum sebesar 20,5 DK pada 8500 RPM. Sedikit di atas Yamaha Scorpio yang mampu menyemburkan daya maksimum 19 PS pada 8,000 RPM.

Yang jadi persoalan, klaim pabrikan itu, menurut saya agak berlebihan. Saya perhatikan beberapa teman yang ngetest – walau singkat, mesinnya ngeden pada saat akselerasi awal. Itu juga yang saya rasakan ketika menjajal model supermoto. Akselerasi lemot, kaya kampas kopling yang sudah terkikis.

Kekurangan lain, perpindahan antar gigi keras dan susah. Apalagi untuk menetralkan dalam kondisi mesin hidup: susah banget! Ternyata rekan saya, Nandar dari MotoRev juga mengalami hal yang sama. Begitu pula komentar para tester lain. Padahal tuas kopling sudah ditekan habis.

persneling-250m

Jarak tuas persneling dan footpeg terlalu jauh. Sukar mencongkel. Apalagi persneling keras dan susah netral.

Untuk menetralkan gigi, terpaksa mesin harus saya matikan dulu. Barulah persneling mau dinetralkan. Fyuuuh….
Secara ergonomi, tuas persneling juga terlalu jauh dengan footpeg. Ukuran kaki saya yang 41, dengan sepatu biker Tomkins rada sulit menggowel tuas. Belum lagi tuas persneling yang keras.

Oh iya, saya menjajal dengan berboncengan. Pengen tahu seberapa dinamis gerak suspensi belakang. Berat saya 58 kilogram, sementara teman saya, Muhib, bobotnya 70 kilogram. Total berat 138 kilogram. Plus berat motor 116 kilogram.

Dalam posisi diam, jarak antara rear huger (spatbor kolong) dan mufler undertail sekitar tiga jari tangan. Kira-kira rawan mentok nggak ya? Toh, sepertinya pengendara motor ini jarang untuk boncengan. Nggak enak dilihat kali ya?

Bagaimana dengan handling?. Nah, ini yang saya rasakan mantap. Setang model fatbar secara ergonomi nyaman saya pegang. Untuk manuver lincah. Sayangnya, saya terkendala masalah gigi persneling itu.

Secara garis besar saya menyarankan kepada MMI untuk memperbaiki sedikit bug itu: akselerasi lamban, persneling keras, dan susah netral. Jika itu sudah bisa diatasi, saya yakin akan makin banyak biker yang tergoda meminang ketiga seri Minerva-Sachs 250 ini. Jadi selain gaya di jalan, performa juga mendukung.

Mungkin sedikit review diatas masih prematur, karena test ride yang terbatas waktu dan lintasan. Lain waktu saya berharap MMI menyediakan lintasan dan lokasi yang lebih memadai untuk ngetest. Bukankah produk test itu merupakan golden choice pabrikan?

About these ads

24 responses to “Test Ride Minerva-Sachs 250 Supermoto

  1. you’re in point of fact a just right webmaster. The web site loading speed is incredible. It kind of feels that you’re doing any distinctive trick.

    In addition, The contents are masterpiece. you’ve performed a great job in this topic!

  2. mas bro, apa bener ambles sampe seekstrim itu? soalnya ada niat mau beli, tapi takut ambles, maklum saya dulu pake scorpio

  3. Ping-balik: “Bug” di Minerva-Sachs Megelli 250M Belum Tuntas? « alonrider·

  4. Saya sempat dijanjikan test ride oleh sales manager-nya. Sama, saya juga naksir supermoto. Model bagus, pikir-pikir buat alternatif kendaraan lah kalau lagi suntuk.

    Meluncurlah saya ke Jalan Pemuda yang jauh sekali dari Jakarta Selatan tempat saya tinggal.

    Sampai sana cuman kecewa yang didapat. Dengan alasan tidak diberikan ijin oleh pengelola ruko (duh, gak keren amat), test ride Sachs sama sekali tidak bisa.

    Sampai sana jadinya cuman ‘ditodong’ untuk segera order. Wah, maaf… tanpa test ride saya tidak akan order. Maklum, ini merek baru yang gak jelas performanya. Andai itu emblem tulisannya Honda / Yamaha / Suzuki atau even Kanzen. Saya akan langsung order.

    Yang saya dapatkan akhirnya hanya mesin Supermoto yang dinyalakan. Itu pun menyalakannya penuh usaha. hmm… makin curiga.

    Dari suara mesin (bukan knalpot ya), terus terang gak menjamin sama sekali. Saya kapok beli motor dari brosur tanpa test ride. Akhirnya cuman ngejogrok di garasi gak dipake.

    Saya tengok yang model Madass… ini keren juga desainnya. Tapi sebagai kantor pusat, semakin konyol lagi. Selain model yang dipajang adalah model yang lama, tidak bisa test ride, dan model yang dipajang ini mesinnya MATI. What?

    Perlu belajar banyak teman-teman Sachs buat dagang otomotif. Nggak banget deh.

  5. semua itu tergantung selera ridernya juga bro….
    mudah2an selama ini kita yg udah didoktrin kalo motor yg oke pasti produk jepang…
    tapi sekarang prinsip gtu kayanya dah pada ditinggal dech…
    buktinya pulsar, minerva, tvs dijalanan dah menjamur..

    piss…

  6. uapik bro… tenan suer…. semoga pihak atpm-nya baca dan menerima kritik temen2… dan semoga ada panggilan buat bro untuk memilih salah satu model untuk dibawa pulang … pis

  7. Great article mas . . . .

    cerita ini sebenarnya mirip dengan yang di kisahkan oleh Otomotif . . . mereka juga memperoleh kesan yang sama . . . akan tetapi mas Adi l;ebih dalam dan lebih tidak sungkan untuk menyebut beberapa kekurangan ini

    2 jempol mas . . . nice ride . . . nice write :D

  8. @nadi
    soal pengetesan kayaknya relatif,pernah jajal Blade kesannya pas ngerem ngeloyor tapi rider lain bilang mantap..
    Bagaimana dengan pengereman bro?

    Ya relatif. Tapi 250M yang saja jajal memang begitu tuas persnelingnya:keras. Netral susah jika mesin hidup. Dan ingat, bukan saya saja yang ngalami, tapi ada dua rider lain dengan motor yang sama.
    Rem? Mantap karena pakai cakram depan belakang model petal disc…..hehehehehe

  9. klo di http://www.otomotifnet.com/otoweb/index.php?templet=ototest/Content/0/0/1/7/4690

    disebutkan engga ada gejala tuas kopling keras bro, gmn ni ?? apa motor yg di pake bro aja yg kyk gitu ??

    Ralat dikit Mas Edward. Bukan tuas kopling, tapi tuas persneling ya? tahu kan bedanya? Nah, setelah saya baca di link di atas, tester otomotifnet menjajal model 250R dan 250S. Saya memang tidak mencoba model R dan S itu, jadi saya tidak memberikan statement atas dua produk itu. Yang saya coba adalah 250M. Seperti yang terlah saya tulis, tuas persnelingnya keras, susah pindah gigi. Untuk netral aja harus matiin mesin baru “klik”. Demikian semoga jelas. Salam

  10. Wah..kalo next ada test ride lagih, mohon di info2 yah Bro..jadi pengen mau ngerasain juga nih..

    Btw, Nice report.
    Thanks yah

  11. Adik gue punya minerva sparta khusus trail. Emang mesin nya agak lemot. Akhirnya mesin diutaka atik dikit biar ada tenaganya.

  12. ko yg model supermoto pk pelek palang ya? gw baru dr dealer minerva gatsu BDG ambil brosur,disini pake pelek jari2 gambarnya..
    wah bug2 ky gt fatal klo ga segera direspon..padahal gw dah berharap2 ngelamar yg 250R..mudah2an cm permasalahan setting aja yg blm klop.

    nice report bro!!

  13. bug nya dah langsung disampaikan ke pihak pabrikan belum tuh pas test ride ?

    Belum sempat komplain bro. Lha para pejabat MMI masih sibuk hahahihi dengan para tamu undangan. Kalaupun komplain pada saat itu, sepertinya juga bakal lewat, karena perhatian pasti terpecah. Solusinya ya saya nulis di blog ini, dan sms ke pihak MMI ini lho ada bug! Bukankah demikian bro? Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s